Ke negeri Donald Trump, Mendag bahas tarif dagang

Senin, 14 Januari 2019 | 11:15 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita memimpin delegasi Indonesia ke Amerika Serikat pada 14-19 Januari 2019. Kunjungan kerja ini merupakan salah satu langkah awal untuk meningkatkan kinerja ekspor nasional di tengah kondisi ekonomi dunia yang tahun ini diperkirakan melambat.

Mendag mengatakan, kunjungan kerja ke Amerika Serikat merupakan strategi yang dilakukan untuk mencapai ekspor nonmigas yang ditargetkan tumbuh 7,5 persen pada tahun ini.

Tahun ini, ekspor nonmigas ditargetkan naik menjadi US$ 175,9 miliar. Sementara neraca perdagangan nonmigas tercatat surplus sebesar US$ 4,64 miliar pada Januari-November 2018. Ekspor secara keseluruhan tumbuh positif sebesar 7,7 persen dengan ekspor migas sebesar US$ 15,65 miliar dan ekspor nonmigas mencapai US$ 150,14 miliar.

Dalam kunjungan kerja ini, Mendag dijadwalkan melakukan sejumlah pertemuan, salah satunya pertemuan bilateral dengan Duta Besar Perwakilan Perdagangan Amerika Serikat (USTR Ambassador) Robert Lighthizer, untuk membahas pemberian tarif preferensial yaitu Sistem Preferensi Umum (Generalized System of Preferences/GSP).

Sebanyak 3.546 produk Indonesia diberikan fasilitas GSP berupa eliminasi tarif hingga 0 persen.

Dalam tujuh bulan terakhir, pemerintah Indonesia telah melakukan komunikasi dan koordinasi intenstif dengan Amerika Serikat agar status Indonesia dapat dipertahankan di bawah skema GSP karena program ini memberikan manfaat baik kepada eksportir Indonesia maupun importir AS yang mendapatkan pasokan produk yang dibutuhkan.

Pada Oktober 2017, Pemerintah Amerika Serikat melalui USTR mengeluarkan Peninjauan Kembali Penerapan GSP Negara terhadap 25 negara penerima GSP. Indonesia masuk di dalamnya.

Pada 13 April 2018, USTR menyebutkan akan melakukan peninjauan pemberian GSP kepada Indonesia, India, dan Kazakhstan, dan pada 30 April 2018, Amerika Serikat juga mengumumkan akan melakukan peninjauan GSP terhadap Thailand.

"Semoga kunjungan ini bisa menguntungkan kedua belah pihak," ujar dia dalam keterangan resmi, Senin (14/1).

Mendag juga dijadwalkan bertemu dengan CEO Kamar Dagang dan Industri (Kadin) AS Tom Donahue dan para pelaku usaha Amerika Serikat yang bergerak di sektor alas kaki dan garmen dan pertemuan dengan para calon investor potensial.

Kunjungan kerja ke AS tidak hanya dengan pertemuan formal tetapi juga misi dagang.

Sebanyak 15 pengusaha yang bergerak di sektor kelapa sawit, baja, hasil laut, kedelai, kapas dan tekstil, kopi, ban mobil, emas, dan perhiasan ikut misi dagang.

Total Perdagangan Indonesia-AS mencapai US$ 25 miliar, surplus untuk Indonesia sebesar US$ 9,7 miliar, total perdagangan dalam lima tahun terakhir menunjukkan tren positif sebesar 0,39 persen.

Pada tahun 2017, AS merupakan negara tujuan ekspor non migas kedua setelah Tiongkok dengan nilai US$ 17,1 miliar. Produk ekspor utama Indonesia ke AS adalah udang, alas kaki dan pakaian wanita. kbc3

Bagikan artikel ini: