Bekraf: Startup yang mampu bertahan hanya 10 persen

Senin, 12 November 2018 | 23:17 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Tak banyak industri kreatif rintisan yang mampu bertahan dan berkembang. Bahkan menurut Direktur Riset dan Pengembangan Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (Bekraf) Wawan Rusdiawan, hanya 10 persen startup yang mampu bertahan.  

“Siklus hidup startup memang tidak mudah. Makanya kami memiliki program Bekraf for startup. Ini kami lakukan sebagai komitmen kami untuk memacu kinerja industri kreatif di tanah air,” ujar Wawan di sela acara Bisma Goes to Get Member (Bigger) di Surabaya, Senin (12/11/2018).

Dijelaskan Wawan, ada beberapa program yang selama ini telah dijalankan oleh Bekraf dalam memacu industri kreatif di tanah air. Diantaranya adalah pendampingan dengan memberikan berbagai pelatihan. Bekraf juga telah bekerjasama dengan pemerintah provinsi dan kabupaten kota untuk lebih memaksimalkan pendampingan. Hingga saat ini, sudah ada sekitar 50 pemprov dan pemkab serta pemkot yang telah bekerjasama. 

Selain itu, juga ada bantuan pembiayaan berupa insentif dari pemerintahan kepada sejumlah startup yang terpilih melalui pemberian dana pinjaman maksimal Rp 200 juta. “Banyak startup yang visionable dan memiliki peluang pasar besar namun belum bisa mengakses pembiayaan dari perbankan. Sehingga  program insentif ini akan menjembatani mereka. Program ini telah mendapat restu dari pemerintah dan mulai direalisasikan pada tahun ini” tambahnya.

Agar berbagai program pendampingan.bisa diakses oleh banyak kalangan startup di industri kreatif, maka Bekraf juga telah membangun aplikasi “Bekraf Information System in Mobile Application” atau BISMA. Aplikasi ini merupakan platform unggulan bagi pelaku industri kreatif untuk mendaftarkan diri ke database resmi Bekraf. 

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan,  jumlah industri kreatif atau Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di seluruh Indonesia mencapai 8,2 juta usaha. Dari jumlah tersebut, yang sudah masuk dalam database Bekraf hanya sekitar 25 ribu pelaku industri kreatif. Sementara di Jatim, dari total 1,49 juta industri kreatif di Jatim, hanya 141 ribu yang terdaftar. Kondisi tersebut juga terjadi di Surabaya, dari total 1.400 pelaku industri kreatif di Surabaya, hanya 419 pelaku yang sudah terdaftar.

Upaya ini menurutnya untuk mendukung komunikasi dua arah antara pelaku ekonomi kreatif dari 16 subsektor dengan Bekraf serta untuk memudahkan pemerintah menangkap masalah, memonitoring perkembangan usaha serta menerima saran seputar ekonomi kreatif. Dari langkah tersebut maka dapat dihasilkan pemetaan yang akurat serta dapat membantu dalam penyusunan kebijakan ekonomi kreatif dan menciptakan ekosistem ekonomi kreatif yang kondusif.

“Selain itu pelaku ekonomi kreatif yang terdaftar di BISMA akan lebih mudah dalam mendapatkan kesempatan untuk difasilitasi ataupun mendapatkan pendukungan oleh Bekraf dalam mengembangkan usaha kreatif mereka,” tambahnya.

Pada kesempatan yang sama, Dekan Fakultas Industri Kreatif Universitas Ciputra, Astrid Kusumowijoyo mengatakan bahwa ada beberapa langkah yang harus dilakukan startup agar bisa bertahan dan berkembang. Pertama adalah customer experience, selanjutnya menentukan bisnis model dan  penggunaan teknologi yang tepat dan membangun jaringan yang luas.

Senada dengan Astrid, Head Community Management Bukalapak, Muhammad Fikri, selain beberapa faktor diatas, bertahannya startup diantara ketatnya persaingan adalah keunikan atau uniqueness yang ditonjolkan pada produk yang dihasilkan.

“Di Bukalapak misalnya, ada sekitar 70 juta produk yang dijual di sana, jadi kalau ingin laku dan dikenal harus memiliki keunikan atau perbedaan. Selain itu juga ada creativity, dengan melakukan ATM, amati, tiru dan modifikasi,” pungkas Fikri.kbc6

Bagikan artikel ini: