Ekspor terus menurun, pasar minyak sawit urung menggeliat

Jum'at, 09 November 2018 | 21:49 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Daya beli minyak sawit (Crude Palm Oil/CPO) negara pengimpor masih menunjukkan pelemahan pada September 2018. Alhasil, ekspor minyak sawit Indonesia termasuk biodiesel dan oleochemical menurun 3% atau dari 3,3 juta ton di Agustus tergerus menjadi 3,2 juta ton pada September.

Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Mukti Sardjono menuturkan rendahnya harga CPO global tidak menjadi daya magnet yang kuat kepada negara impor. Pasalnya harga minyak nabati lain juga sedang murah, terutama kedelai, rapeseed, dan biji bunga matahari.

"Pasar minyak sawit tidak bergeliat, meskipun harga sedang murah. Produksi minyak sawit yang meningkat, terutama di Indonesia dan Malaysia, malah memperburuk situasi karena stok jadi menumpuk di dalam negeri. Sepanjang September 2018, volume ekspor minyak sawit Indonesia (CPO, PKO, dan turunannya), tidak termasuk oleochemical dan biodiesel, hanya mampu mencapai 2,99 juta ton. Angka ini mengalami stagnasi dibandingkan bulan sebelumnya dengan kecenderungan menurun," kata Mukti di Jakarta, Jumat (9/11/2018).

Lebih lanjut Mukti menjelaskan secara year on year, kinerja ekspor minyak sawit Januari–September 2018 mengalami penurunan sebesar 1% atau dari 23,19 juta di Januari–September 2017, menjadi 22,95 juta ton di periode yang sama 2018. India tetap menjadi negara pembeli tertinggi CPO dan produk turunannya dari Indonesia.Pada September ini, impor India membukukan 779,44 ribu ton. Angka ini turun 5% dibandingkan dengan impor bulan sebelumnya, mencapai 823,34 ribu ton.

"Baru-baru ini Pemerintah India merilis kebijakan tentang biofuel, di mana target pencampuran bensin 20% untuk etanol dan 5% pencampuran diesel untuk biodiesel pada 2030. Ini tentunya membuka peluang pasar lebih besar bagi Indonesia untuk memenuhi pencampuran biodiesel berbasis sawit. Pemerintah sudah seharusnya memberikan perhatian khusus kepada pasar minyak sawit di India terutama terkait tarif bea masuk," bebernya.

Mukti menilai peluang Indonesia mengisi kebutuhan minyak sawit India terus tergerus jika tidak ada langkah peningkatan perdagangan, baik melalui perjanjian bilateral (FTA) atau perdagangan khusus (Preferential Trade Agreement). Penurunan impor CPO dan produk turunannya dari Indonesia juga dicatatkan oleh China (25%), Pakistan (24%), AS (50%), dan negara-negara Timur Tengah (21%).

Di sisi lain, Uni Eropa membukukan kenaikan impor CPO dan produk turunannya sebesar 16%, diikuti Bangladesh sebesar 155%, dan negara-negara Afrika sebesar 47%."Kenaikan ini normal karena pada bulan sebelumnya ada penurunan. Khusus untuk produk RBD Palm Olein atau minyak goreng, ekspor ke beberapa negara Afrika terus mengalami kenaikan secara konsisten setiap bulan. Negara-negara Afrika memiliki potensi besar untuk menjadi pasar utama minyak goreng jika pemerintah dapat memberikan insentif melalui pengurangan pungutan untuk ekspor minyak goreng dalam bentuk kemasan," terangnya.

Di sisi produksi, sepanjang September 2018 produksi minyak sawit diprediksi mencapai 4,41 juta ton atau naik sekitar 8,5% dibanding bulan sebelumnya, yakni 4,06 juta ton. Kenaikan produksi karena September mulai memasuki siklus tinggi musim panen tahunan sawit. "Naiknya produksi dan stagnannya ekspor mengakibatkan stok minyak sawit Indonesia meningkat hingga 4,6 juta ton," ujar Mukti.

Sementara itu, pada awal September 2018 lalu pemerintah mengeluarkan regulasi perluasan mandatori B20 kepada non-PSO, di mana sebelumnya berlaku untuk PSO saja. Perluasan mandatori B20 ini mulai menunjukkan kenaikkan penyerapan biodiesel yang signifikan di dalam negeri. Pada September penyerapan biodiesel mencapai 402 ribu ton atau naik 39% dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 290 ribu ton.

"Penyerapan belum meningkat sesuai target karena masih terkendala infrastruktur, di mana titik penyebaran pengiriman biofuel sangat tersebar dan tidak dilengkapi dengan tanki penimbunan yang memadai. Diperkiraan sampai akhir 2018, penyerapan biodiesel di dalam negeri akan bertambah 940 ribu ton dari target awal, yang berasal dari penggunaan B20 non-PSO," katanya.

Sementara realisasi Purchase Order (PO) Pertamina untuk mandatori B20 secara keseluruhan sampai September 2018 termasuk PSO dan non-PSO mencapai 74% dari target. Di sisi harga, sepanjang September 2018, harga bergerak di kisaran US$517,50-US$ 570 per metrik ton, dengan harga rata-rata US$546,90 per metrik ton.

Ini merupakan harga terendah yang dibukukan sejak Januari 2016 lalu. "Harga CPO global terus tertekan karena harga minyak nabati lain yang sedang jatuh, khususnya kedelai dan stok minyak sawit yang cukup melimpah di Indonesia dan Malaysia," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: