Ingin sukses pasarkan produk? Berceritalah

Kamis, 25 Oktober 2018 | 07:34 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Storytelling atau bercerita merupakan strategi pemasaran terbaik yang direkomendasikan oleh pelaku ekonomi kreatif untuk mencapai kesuksesan. Bukan hanya pelaku ekonomi kreatif yang menggunakannya, industri besar yang sudah mendunia pun melakukan storytelling untuk memasarkan produk mereka.

"Contohnya, perusahaan minuman terbesar di dunia juga menggunakan metode storytelling untuk menaikkan oplah permintaan," kata Dwi Setyo Irawanto  atau akrab dipanggil Siba, wartawan senior, saat memulai materi storytelling dalam pendampingan Kombet Kreatif di Auditorium Kantor Bupati Merauke, Provinsi Papua, Selasa (23/10/2018).

Kombet Kreatif adalah komunitas kreatif Bekraf - Tempo Institute yang digelar di 12 kota. Peserta pendampingan Kombet Kreatif mendapatkan teknik pemasaran, berjejaring, dan storytelling.

Siba menuturkan, metode storytelling juga dilakukan oleh penenun batik di Nusa Tenggara Timur (NTT). Di sana, kain tenun dengan motif sederhana yang terbuat dari pewarna alami, mampu bersaing dengan yang bermotif luar biasa. "Masalah harga pun bisa tidak menjadi persoalan," ujarnya. 

Apa yang membuat konsumen tidak berpikir dua kali meskipun harganya sangat mahal, kata Siba, lantaran ada kisah melegenda di balik pembuatan tenun itu. “Kisahnya sangat menarik, bagaimana bahan kain itu diperoleh, lalu diproses dan mendapatkan hasil membutuhkan waktu yang cukup lama dan penuh kesabaran yang luar biasa."

Menurut Siba, cara produsen minuman dan penenun NTT itu menggunakan teknik bercerita ini bisa menginspirasi pelaku ekonomi kreatif. Bagi konsumen sendiri, kisah itu menyentuh mereka hingga tergerak untuk membeli. 

Siba menuturkan, storytelling yang dibuat tidak sekadar bercerita, tetapi harus mampu digambarkan dalam tulisan, sehingga membuat orang tertarik. “Ceritanya harus tidak bertele-tele, tidak menggunakan kata yang tidak perlu,” katanya.

Haryati S. Gebze, ibu rumah tangga yang mengelola usaha bakso ikan, sangat tertarik dengan metode baru yang diperoleh selama mengikuti Kombet Kreatif.  Ia mengaku sudah mengikuti pelatihan dan pembinaan dari Dinas Kelautan dan Perikanan. "Ikut Kombet ini, memperkaya ide cara memasarkan produk. Saya lebih bersemangat lagi bercerita soal produk untuk merebut hati konsumen,” kata Haryati S. Gebze.

Pengalaman serupa juga dirasakan oleh Rusdiati Tanawali. Pegiat ekonomi kreatif yang membuat minyak albumin dari ikan gastor khas Merauke ini menuturkan, selama ini ia tidak hobi bercerita. “Tapi gara-gara mengikuti Kombet, saya makin percaya, produk yang saya buat akan banyak diminati masyarakat kalau saya gunakan teknik bercerita," ucapnya. kbc10

Bagikan artikel ini: