Helmy Yahya bagi strategi jadi pengusaha sukses di ajang Diplomat Success Challenge

Kamis, 06 September 2018 | 15:16 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Tidak mudah bagi para wirausahawan memulai usaha tanpa melalui proses kegagalan.  Hal ini  dikemukakan Direktur Utama Lembaga Penyiaran Publik (LPP) TVRI Helmy Yahya, salah seorang Dewan Komisioner (Dekom), sekaligus juri dan mentor pada kompetisi wirausaha Diplomat Success Challenge (DSC) ke-9.

“Dari ribuan pemula dan perintis, tidak lebih 5 persen yang berhasil menjadi wirausahawan sukses. Karena itu, ide saja tidak cukup, perlu bekal ilmu, serta pengalaman praktis,” ujar Helmy.

DSC sendiri adalah kompetisi pencarian wirausaha, memperebutkan total hibah modal usaha senilai Rp 2 miliar. Untuk mencari para pemenang, Dekom akan memberikan tantangan (market challenge) kepada peserta DSC, untuk menguji penguasaan aspek strategi dan operasional bisnis (Paham), solusi teknis dan inovasi (Piawai) juga kepribadian sebagai pengusaha tangguh (Persona).

Nilai tambah dari DSC adalah para pemenang akan dikawal dan dibimbing oleh Dekom yang beranggotakan empat orang, mulai dari inspirasi bisnis, perencanaan, kurasi, hingga evaluasi bisnis. 

”Asal tahu saja, beberapa di antara wirausahawan itu, ada yang tidak bisa berhitung, sehingga tidak tahu fixed cost (biaya tetap) dan variable cost (biaya tidak tetap) dalam bisnis, misalnya,” ujar lulusan STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negeri), yang juga pemilik gelar master of Professional Accounting dari Universitas Miami itu.

Ia menggarisbawahi, karena DSC adalah kompetisi paling benar, serius dalam pelaksanaannya, terutama para juri sekaligus juga menjadi Dekom, menghargai ide orisinil para peserta. 

Itu sebabnya peserta dalam kompetisi bisnis DSC bervariasi, ada yang baru mulai menjalankan usahanya, ada juga yang memerlukan hibah modal usaha untuk pengembangan usahanya. 

Yang pasti, DSC sangat menghargai ide-ide otentik, sehingga ide harus genuine, dan  harus memberi manfaat. “Banyak juga mereka yang menjadi socio-preneur dapat menciptakan lapangan kerja,“ ujar pria yang pernah dinobatkan sebagai The Most Powerful Idea in Business 2005 versi Majalah SWA itu.

Helmy menemui banyak sociopreneur dari ajang DSC, selain juga melihat ada unsur heroisme dan adventure dari para milenial di sini.  Sebutlah Gazan Ghafara, yang telah membawa produk keripik pisang “Zanana Chips” hingga ke Tiongkok.

Ketika ditanya mengapa wirausahawan muda seperti Gazan hanya satu di antara seribu wirausahawan lainnya, Helmy menyatakan, wirausahawan pemula, banyak melalui proses jatuh dan bangun kembali dari usahanya. Ada banyak faktor penyebab, seperti dukungan dari orang tua, dan kebanyakan mereka tidak melakukan analisis risiko bisnis dan kegagalan tatkala terjun sebagai pengusaha. "Itulah yang menjadi concern para Dekom,“ tukasnya.

Kompetisi dan Jejaring

DSC bukan hanya kompetisi, tapi juga jejaring. Para pemenang DSC, dari tahun ke tahun, yang terhimpun dalam Diplomat Entrepreneur Network (DEN) bisa saling berkomuninasi. Bahkan mereka pun bisa berkonsultasi dengan Dekom.

"Kami masih sering intensif berkomunikasi, juga membimbing mereka untuk pengembangan bisnisnya. Kami bahkan kerap mengadakan pertemuan berkala saling mendukung usaha satu sama lain,“ kata Helmy.

Dari hasil pertemuan dan bimbingan itu, Dekom bahkan bersedia membukakan akses pasar mereka. Misalnya Andi Restu Wibowo, grand finalist (Central Region) DSC, Seasons 3, tahun 2012, yang usahanya di bidang produksi pupuk organik dari Blora, Jawa Tengah. Mengetahui kebutuhannya bekerjasama dengan petani mitra.

"Kami menjembatani Andi dan para petani cabai mitra binaannya dengan PT Indofood Sukses Makmur," ungkapnya.

Hal yang menjadi perhatian khusus pelaksanaan DSC selama beberapa tahun terakhir menurut Helmy, adalah aneka usaha yang bergerak di bidang pertanian dan kelautan akan lebih diutamakan, karena mereka mampu menciptakan lapangan kerja bagi banyak orang.

Ini menjadi concern para Dekom, mengingat masalah yang dihadapi Indonesia saat ini, adalah semakin sempitnya lapangan pekerjaan, sementara tingkat pendidikan dan keahlian para petani dan nelayan juga masih rendah.

"Sesuai tujuan DSC, kami memberi kesempatan kepada kaum muda Indonesia yang berani berwirausaha, sekaligus juga dapat memberi dampak pada lingkungan sekitar," katanya. kbc9

Bagikan artikel ini: