Belum lakukan eksploitasi, perusahaan tambang bisa IPO lebih awal

Rabu, 11 Juli 2018 | 10:05 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Bursa Efek Indonesia (BEI) bakal memberikan pelonggaran aturan dengan tujuan agar perusahaan tambang yang belum masuk tahap eskploitasi bisa mencatatkan saham perdana atau melakukan Initial Public Offering (IPO) lebih awal di pasar modal di Indonesia. Dengan IPO, perusahaan diharapkan dapat memperkuat struktur pendanaan untuk tumbuh lebih maksimal.

Adapun aturan tersebut disusun untuk merealisasikan misi BEI untuk memacu jumlah perusahaan tercatat hingga tiga tahun mendatang. Pencapaian target dimaksud menjadi penting lantaran BEI berharap industri pasar modal bisa berkontribusi lebih besar guna mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia secara keseluruhan.

Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia IGD Nyoman Yetna mengungkapkan pihaknya tengah menggodok aturan tersebut. "Ada peraturan baru yang mengakomodasi perusahaan tersebut," kata Nyoman di Jakarta, Rabu (11/7/2018).

Ia menuturkan aturan itu akan mengakomodasi perusahaan-perusahaan plantation, pertambangan batu bara, serta minyak dan gas supaya dapat melantai di bursa lebih awal (early stage). "Kita targetkan tahun ini (diimplementasikan)," ucap Nyoman.

Adapun Nyoman sempat menyinggung rencana ini saat perkenalan direksi baru BEI beberapa waktu lalu. Ia mengaku akan memberikan keleluasaan kepada perusahaan tambang supaya bisa melantai lebih awal. Dirinya melihat banyak perusahaan tambang banyak membutuhkan pendanaan.

Melalui aturan ini, lanjutnya, akan memudahkan perusahaan memperoleh pendanaan. "Kita akan coba garap ini, belum membukukan pendapatan tapi punya potensi akan early stage," kata Nyoman.

Bursa menargetkan setiap tahun jumlah emiten yang tercatat mengalami peningkatan. Tahun ini bursa menargetkan 35 emiten dan tahun depan agak sedikit menurun karena ada tahun politik menjadi sekitar 25 sampai 30 emiten, dan di 2020 meningkat lagi sebanyak 40 emiten. kbc10

Bagikan artikel ini: