Rupiah diprediksi kembali melemah usai libur Lebaran

Selasa, 12 Juni 2018 | 21:17 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat akan diputuskan dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 13 Juni besok. Nilai tukar rupiah pun berpotensi besar mengalami pelemahan saat perdagangan kembali dibuka pasca libur Lebaran.

Analis Valbury Asia Futures, Lukman Leong mengatakan, potensi melemahnya rupiah ketika perdagangan dibuka pada 20 Juni nanti cukup besar. Tanda-tanda meningkatnya sentimen negatif kenaikan suku bunga acuan AS sudah terlihat dalam dua hari terakhir.

“Tren penguatan rupiah tidak bertahan lama dan jelang libur panjang akhirnya rupiah mulai melemah,” paparnya baru-baru ini.

Mengutip Bloomberg, kurs rupiah di pasar spot ditutup di level Rp 13.932 per dollar AS pada Jumat lalu atau melemah 0,41% dibandingkan perdagangan sehari sebelumnya. Masih di hari yang sama, kurs tengah rupiah di Bank Indonesia juga melemah 0,24% ke level Rp 13.902 per dollar AS.

Menurutnya, pelemahan nilai tukar mata uang tidak hanya terjadi pada Indonesia saja, melainkan juga negara-negara emerging market lainnya.

Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia Ahmad Mikail menyampaikan, tren pelemahan nilai tukar mata uang jelang agenda FOMC berpotensi terjadi pada negara-negara emerging market yang memilki defisit transaksi berjalan (current account deficit). Alhasil, sekalipun perdagangan di Indonesia tidak libur, rupiah berpeluang besar kembali mengalami tren pelemahan.

Dia menambahkan, pada dasarnya kenaikan suku bunga acuan AS bakal menjadi sentimen utama yang berpotensi melemahkan rupiah setelah libur lebaran berakhir nanti. Apalagi, kenaikan tersebut juga berdampak pada naiknya nilai Credit Default Swap atau persepsi risiko investasi Indonesia dan negara-negara emerging market lainnya.

Memang, pada pekan depan juga ada konferensi pers dari Bank Sentral Eropa (ECB) yang kemungkinan membahas kelanjutan pengetatan moneter di Eropa, termasuk respons terhadap keputusan The Federal Reserves. Namun, pengaruh sentimen tersebut tidak sebesar kenaikan suku bunga acuan AS.

“Efek kenaikan Fed Fund Rate cukup besar bagi rupiah karena sekitar 40% utang Indonesia berdenominasi dollar AS,” ujar Ahmad.

Menurut perkiraan Ahmad, jika kenaikan suku bunga acuan AS benar-benar terjadi, dalam jangka pendek rupiah masih akan bertahan di kisaran Rp 13.900—14.000 per dollar AS. Adapun hingga akhir tahun nanti, ia meramal rupiah akan berada di rentang Rp 14.000—14.100. Asumsi tersebut diperoleh dengan mempertimbangkan kenaikan suku bunga acuan AS sebanyak 3 kali di tahun ini.

Sementara itu, pada akhir Juni, Lukman memproyeksikan rupiah akan berada di kisaran Rp 13.850—Rp 14.000. Ia pun masih yakin rupiah dapat bertahan di bawah level Rp 14.000 per dollar AS pada akhir tahun nanti. kbc10

Bagikan artikel ini: