Dihantam e-commerce, ini strategi ritel konvensional

Senin, 23 April 2018 | 07:59 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Executive Director Nielsen Company Indonesia, Yongky Susilo, meyakini perlambatan atau bahkan penurunan kinerja penjualan ritel konvensional belakangan ini terjadi bukan karena perkembangan e-commerce atau perdagangan online.

Hal itu karena berdasarkan riset yang sering dilakukannya, ritel offline sebenarnya masih sangat potensial untuk masa yang akan datang. Namun ada yang perlu dilakukan oleh peritel offline, salah satunya adalah mulai mengedepankan aspek "shopping" daripada "buying".

"Antara buying dengan shopping memiliki perbedaan, buying merupakan pembelian, sedangkan shopping adalah prosesnya," kata dia saat menjadi pembicara dalam Jakarta Business Talk, Sabtu (21/4/2018).

Jakarta Business Talk merupakan kegiatan berbentuk talkshow yang menjadi rangkaian agenda dalam Jakarta Fashion and Food Festival 2018 yang digelar atas kerja sama Pemprov DKI dengan PT Summarecon Agung, Tbk. di kawasan Kelapa Gading. Kegiatan ini mengundang ratusan pelaku usaha ritel dan menghadirkan tiga narasumber, yakni Executive Director Nielsen Company Indonesia Yongky Susilo, President Director Ranch & Farmers Market Meshvara Kanjaya serta Chief Executive Officer Gambaranbrand Arto Soebiantoro.

Yongky memaparkan, pada aspek buying, calon pembeli lebih mempertimbangkan rencana pembelian dengan menggunakan logika, seperti soal kebutuhan, harga, kegunaan, daya tahan, merek, komposisi produk dan sebagainya. Sedangkan pada aspek shopping, yang lebih muncul adalah faktor emosional dan ini sebenarnya yang sering terjadi dalam bisnis ritel.

"Pada saat shopping, konsumen sering membeli produk malah lebih banyak dari yang direncanakan atau yang dibutuhkan karena faktor emosional. Mungkin karena warna, keindahan dan sebagainya,"

Faktor emosional yang dipicu seperti lewat warna, keindahan dan keunikan ini perlu dimunculkan bukan saya melalui produk, tetapi juga pada lingkungan di dalam atau di luar toko atau mal. Dia mengimbau ke para peritel konvensional untuk melakukannya, yakni lebih mengedepankan faktor emosional dalam menjalankan bisnisnya agar bisa tetap tumbuh.

Dengan begitu, para calon konsumen tidak lagi terlalu memikirkan harga saat sedang shopping sehingga para pertitel pun tidak perlu lagi melakukan "perang harga". "Kalau perang harga terus, kapan karyawannya sejahtera? Margin pas-pasan terus," ungkapnya.

Dalam paradigma ritel modern, pebisnis harus mengikuti keinginan dan kesukaan konsumen sehingga tidak perlu takut bersaing dengan perniagaan online. Karena itu, sebenarnya pihak yang "membunuh" bisnis offline adalah konsumen, bukan ritel online dan online pun akan mengalami kondisi yang sama jika tidak mengikuti keinginan pasar.

Lebih jauh dikatakannya, saat ini hampir separuh populasi Indonesia mengakses internet, mulai dari mencari informasi, berbelanja, melakukan pekerjaan sampai mencari jodoh. Dan bagi yang melakukan belanja online, produk-produk fashion adalah yang terbanyak, diikuti gadget dan lainnya.

Nah, dari anatomi online ini juga diketahui bahwa dalam mengakses internet, orang Indonesia saat ini lebih suka membuka konten video sehingga disarankan bagi peritel yang sedang berpromosi untuk mempublikasikannya lewat internet dalam bentuk video singkat.

"Orang Indonesia gila video, jangan pakai brosur, enggak zaman lagi," jelasnya.

Kemudian, ritel offline juga dapat memanfaatkan aplikasi transaksi online dalam proses pembayaran atau mempercepat kinerja kasir untuk mempermudah dan meringkas waktu konsumen saat membayar. Jangan biarkan para konsumen mengantre begitu panjang hanya untuk membayar produk yang mereka beli karena kondisi itu membuka peluang mereka beralih ke ritel online.

Mereka juga bisa menggunakan teknologi untuk memamerkan dan menjelaskan berbagai macam produk, di dalam gerai atau mal, seperti dalam bentuk display dan sebagainya. kbc10

Bagikan artikel ini: