loading...

2009, omset pembajak musik capai Rp4,3 triliun

Online: Rabu, 23 Desember 2009 | 23:57 wib ET

Pembajakan musik di Indonesia semakin menggila, tak terbendung bahkan semakin merajalela menguasai pasar. Diperkirakan omset pembajakan tahun 2009 mencapai Rp 4,3 triliun. Jumlah sebesar itu dari industri musik diprediksi merugi Rp 3 triliun, sisianya kerugian negara dari pajak yang seharusnya masuk kas negara mencapai Rp1,3 triliun,

"Selain kerugian materiil, kerugian daya kreatifitas musisi yang dicaplok seenaknya oleh para pembajak. Bisa jadi ulah pembajak itu akan mematikan kreatifitas musisi, bahkan menimbulkan rasa ketakutan untuk berkreasi," ungkap Ketua Lembaga Kordinator Gerakan Anti Pembajakan (LK-GAP) Togar M Sianipar didampingi Sekjen LK-GAP Rahayu Kertawiguna disela-sela peluncuran album Kerispatih di Jakarta, Rabu (23/12/09) malam.

Dijelaskan hingga kini tak ada satu lagu pun yang lolos dibajak, bahkan lagu nyanyian Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun dibajak. Ini menandakan pembajakan lagu di Indonesia sudah makin berkembang dan makin tidak terbendung.

"Realitas buruk ini mengancam industri kreatif bidang musik. Bahkan, industri yang masih menggunakan rekaman konvensional berada di ambang kehancuran. Pembajakan membuat industri musik ketar ketir,“ tegas Togar yang juga Ketua Umum Gabungan Perusahaan Rekaman Indonesia (Gaperindo),

Yang menyedihkan, sambung purnawirawan polisi jenderal bintang tiga, pembajakan terjadi nyaris tidak dapat dikendalikan oleh ketentuan hukum dan perundang-undangan, termasuk aparat penegak hukum di Indonesia. Bahkan pengawasan pemerintah kurang maksimal, kurang serius, kurang maksimal sehingga lemahnya pengawasan dimanfaatkan oleh produsen ilegal.

Diakuinya, LK-GAP sudah terjun ke kota hingga daerah untuk memberikan semangat kepada Jajaran Polda Se Indonesia untuk memerangi pemberantasan lagu bajakan dalam bentuk cakram optik yakni CD, VCD dan DVD. Bahkan memberikan memberikan pendidikan, wawasan dan pengetahuan tentang pembajakan musik kepada anggota reserse yang menjalani pendidikan khusus reserse di Mega Mendung Bogor.

"Memang hingga kini pembajakan masih terjadi, ibarat balon jika ditekan sisi bawah akan menggelembung atau muncul di sisi atas, begitu juga sebaliknya. Karenanya berbagai langkah terus dilakukan termasuk mengajak masyarakat untuk tidak membeli barang bajakan, yang memang harganya murah namun kualitasnya tak terjamin," paparnya.

Selain itu, para pengusaha rekaman sudah mulai mengantisipasi pembajakan dengan beralih ke musik digital, Ring Back Tone (RBT) yang kini semakin marak seiring dengan maraknya pemilik handphone. Memang langkah ini sangat tepat untuk dijadikan solusi terbaik dalam mengatasi pembajakan, tambah mantan Kepala Pelaksana Harian (Kalahar) Badan Narkotika Nasional (BNN).

Sekjen LK-GAP Rahayu Kertawiguna mengakui aksi pembajakan sudah bertahun-tahun terjadi malah setiap tahun grafiknya terus meningkat. Akibatnya, telah terjadi penurunan penjualan fisik, seperti CD, VCD, dan lainnya. Bahkan ulah aksi pembajakan dapat menghambat perkembangan industri musik Indonesia, yang kini mulai dilirik pelaku bisnis.

"Saya sangat menyayangkan masalah pembajakan masih dibiarkan tanpa ada penanganan yang lebiih serius. Jika para pembajak musik diberantas tuntas, maka total sumbangan pendapatan negara dari sektor industri kreatif ini akan lebih besar lagi, mengingat saat ini industri musik Indonesia memasok kontribusi sebesar 18 % dari total sumbangan pendapatan negara," ungkap Rahayu yang juga Direktur Utama PT Nagaswara Publisherindo.

Rahayu mengharapkan agar pemerintah lebih serius menangani masalah pembajakan, dan bila perlu pemerintah membentuk Komisi Pembarantasan Pembajakan, seperti KPK yang mampu memberantas korupsi di Idonesia.

"Jika Komisi Pemberantasan Pembajakan terbentuk, para pembajak akan tiarap dan industri musik Indonesia kembali gairah yang dampaknya pemasukan negara akan semakin besar," paparnya serius.

Rahayu mengakui masalah pembajakan adalah masalah kita bersama, karena itu harus ditumpas secara massal, masyarakat haruas ada semacam gerakan untuk memberantasnya dan tidak bisa terus menerus mengandalkan kepolisian. Memang yang baik masyarakat danm aparat harus pro aktif untuk untuk melakukan pembrantasan terhadap pembajak.

“Kami tidak rela kalau Indonesia terus-terusan dicap sebagai negara pembajak. Ini ada sistem yang salah dan kita harus benahi bersama. Hal lain yang membuat saya miris, para pembajak itu dengan seenaknya menghilangkan ‘sejarah’. Sebuah album musik itu kan ada penciptanya, ada penyanyinya, namun dengan seenaknya tanpa beban malah membajaknya. Semua data-data itu dihapus. Jadi secara garis besar, mereka telah menghilangkan peninggalan ‘sejarah’ para seniman musik,” tegasnya.

Untuk memberantas pembajakan musik, Rahayu menyempatkan turun ke daerah-dearah seperti Batam, Pekanbaru, Medan, Mataram, Kupang, dan kota besar lainnya. Hasilnya sangat menggembirakan. Terbukti para Kapolda membantunya untuk menindak di titik-titik rawan yang disinyalir menjadi tempat penjualan, sekaligus penggandaan CD, VCD, dan DVD bajakan.

Meski sudah turun ke daerah untuk mengibarkan bendera gerakan pemberantas pembajakan, namun aksi pembajakan musik masih tetap tinggi, tetap berkibar dan tetap laku di pasaran. Kondisi ini yang membuat pusing tujuh keliling bagi Rahayu.

"Saya tidak akan menyerah, tidak mundur sejengkal untuk melawan bisnis perdagangan ilegal itu. Yang saya sangat sayangkan kalau pendapatan negara harus hilang, hanya untuk memperkaya para pembajak, ini kan merugikan kita," ungkapnya.

Diakuinya sebagai produser musik ternama sudah sering mengajak teman-teman produser musik lainnya untuk sama-sama memberantas pembajakan dengan cara terjun ke lapangan. Dengan cara mensosialisasikan kepada masyarakat agar tak membeli bajaka. Sayangnya tidak tahu mengapa, tanggapan para produser itu dingin.

"Meskipun demikian saya tetap berjuang untuk memberantas pembajak tak mesti hanya di kawasan glodok sebagai, terget utama yang harus kita taklukkan. Tapi buat saya, mau kawasan Glodok, mau pembajak di pinggir jalan, yang penting kita melakukan aksi, gerakan, bertindak dan berbuat. Jangan diam saja tidak melakukan apa pun untuk memberantasnya,” katanya penuh semangat.

Harapan lain dari Rahayu, agar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono turun tangan menyelesaikan masalah pembajakan yang sudah keterlaluan. Tanpa ada campur tangan dari presiden rasanya sangat sulit untuk memberantas para pembajak. (endy)

Bagikan artikel ini kepada kerabat anda