Suara hati kaum ibu soal tarif energi

Selasa, 13 Februari 2018 | 06:56 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kaum perempuan dan ibu rumah tangga yang menjadi garda utama dalam mengelola rumah dan keluarganya, serta bertanggung jawab untuk mendidik anak-anaknya, menginginkan agar pemerintah tidak menerapkan kebijakan kenaikan tarif dasar listrik agar tidak menambah beban pengeluaran.

Hal ini menjadi kesimpulan dari tema Obrolan Minggu dengan topik “Perempuan dan Energi” yang dihadiri dihadiri oleh Mutia Sari Syamsul sebagai pendiri HCAUS (Human Capital for Us) Community dan perwakilan kaum perempuan Rusilowati Efendi yang saat ini menjabat sebagai Ketua Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (Himpaudi).

Obrolan Minggu dalam Topik Perempuan dan Energi dihadiri oleh Mutia Sari Syamsul, MBA sebagai Founder HCAUS (Human Capital for Us ) Community, Founder & Committee IPSCLC (Indonesian Procurement Supply Chain & Logistic Community, Founder & CEO PT Unies Cita Marlindo & PT Magna Cita Marlin, Hj. Rusilowati Efendi S.E, M.Pd sebagai Ketua Himpaudi (Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan), Hj. Nunung Nur Kurniawati S. Pd sebagai Yayasan Al Mukhlisin, Ketua MR Al Hidayah Bintara Jaya serta  Sri Mulyani S. Pd sebagai penggerak PKK di Bintara Jaya/Bekasi Barat.

Diskusi ini diselenggarakan karena perempuan atau ibu sebagai penopang dalam kehidupan berumah tangga harus selalu melek informasi agar dapat mengantisipasi jalannya ekonomi dan kehidupan rumah tangga ke depan. 

Saat ini tema diskusi yang menjadi perhatian adalah  meminta harga listrik supaya terus dalam kondisi yang stabil.

"Mengapa ini perlu kami tekankan ? Sebab biaya atau tarif listrik, sudah menjadi kebutuhan pokok yang primer, sama pentingnya dengan kebutuhan pulsa telepon dan bahan pangan," ujar Mutia.

Mutia menambahkan, jika tarif listrik nanti naik, pasti kebutuhan yang lain akan ikut naik. "Contohnya, kebutuhan transportasi untuk naik angkot, ongkos ojek, dan naik bus umum dan kereta api, biasanya ikut terkerek naik. Begitu juga kebutuhan utama lainnya seperti membeli pakaian seragam, alat tulis, buku-buku sekolah, dan buku pelajaran, pasti mengikuti kenaikan harga listrik, yang menjadi energi dalam hidup kita,” jelas Mutia.

Sebagai bagian dari pendidik, Rusilowati Efendi menyatakan keinginannya agar jangan lagi para ibu yang harus mendidik anak-anak, ditambah lagi bebannya jika ada tarif yang dinaikkan pemerintah.

Para ibu juga mencermati banyaknya berita pejabat yang terpaksa melakukan korupsi, karena kebutuhannnya lebih tinggi dari kemampuannya. Itu sebabnya dirasa ada kebutuhan agar para ibu juga diarahkan menjadi lebih produktif agar lebih mampu menghasilkan produk rumahan yang kalau berhasil, bisa dijual dan membantu ekonomi rumah tangga. "Hal tersebut merupakan solusi daripada hanya melakukan bagaimana meminta terus suami, supaya punya penghasilan lebih besar, sebagai dampak naiknya tarif listrik," kata Sri Mulyani. kbc4

Bagikan artikel ini: