Berburu keuntungan berlimpah melalui industri perdagangan berjangka komoditi

Kamis, 02 November 2017 | 08:10 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Tak banyak yang bisa dinikmati petani ketika tiba musim panen. Harapan mendapatkan keuntungan yang berlimpah seolah pupus karena harga komoditas selalu mengalami penurunan akibat membanjirnya suplai. Mereka hanya bisa menjual dengan harga di bawah rata-rata jika ingin panennya terbeli. Tetapi kondisi ini tidak berlaku dalam industri Perdagangan Berjangka Komoditi (PBK). Petani masih bisa berharap lebih di sini.

Kepala Divisi Corporate Secretary Jakarta Futures Exchange (JFX), Tumpal Sihombing mengatakan, harga komoditas primer memang selalu mengalami fluktuasi karena ketergantungannya pada berbagai faktor yang sulit dikendalikan, seperti cuaca dan bencana alam. Kondisi tersebut akan menyebabkan harga melambung tinggi karena suplai berkurang. Sementara saat panen raya, harga komoditas justru akan anjlok karena melubernya pasokan.

“Kondisi tersebut sebenarnya bisa diminimalisir jika petani ikut dalam transaksi kontrak berjangka komoditas. Petani bisa  melakukan kegiatan lindung nilai atau hedging dengan membeli kontrak jual untuk komoditas yang akan dipanen dalam beberapa bulan ke depan dengan harga yang diinginkan,” ujar Tumpal di Surabaya beberapa waktu lalu.

Petani, ujarnya, jika hanya mengikuti transaksi fisik akan rugi ketika masuk masa panen. Karena harga biasanya akan turun drastis. Tumpal menyontohkan, jika saat ini harga beras masih di kisaran Rp 12 ribu per kilogram, saat panen harga bisa saja turun hingga menjadi Rp 10 ribu per kilogram. Tetapi dengan menjadi higher dan membeli kontrak jual beras diharga Rp 11 ribu per kilogram, maka petani bisa melindungi nilai jual yang akan didapatkan saat panen nanti. Melalui kontrak berjangka, mereka dapat mengurangi sekecil mungkin resiko yang diakibatkan dari gejolak harga tersebut.

“Dengan memanfaatkan kontrak berjangka, produsen komoditi dapat menjual komoditas yang baru akan di panen beberapa bulan ke depan pada harga yang telah dikunci sekarang atau sebelum panen. Dan jika petani sudah membeli kontrak jual untuk komoditas beras dengan harga Rp 11 ribu per kilogram misalnya, maka apapun yang terjadi, selama kontrak berlaku, ia bisa mendapatkan harga sesuai kontrak. Inilah salah satu manfaat dari industri Perdagangan Berjangka Komoditas bagi pelaku usaha di daerah,” terangnya.

Selain menjadi sarana mengurangi atau menghilangkan risiko kerugian yang terjadi karena fluktuasi harga, Hedging juga bisa memberikan kepastian berusaha, serta pengendalian persedian bahan baku dan komoditi pertanian.

Disisi lain, hedging juga mampu memberikan penyediaan dana yang lebih besar serta lebih aman. Jika pada umumnya komoditi yang tidak di-hedging akan mendapat pinjaman dana atau kredit dari bank sebesar 50 % dari nilai komoditi tersebut, maka untuk komoditi yang telah di-hedge akan mendapat pinjaman dana sebesar 90 % dari nilai komoditi yang bersangkutan.

“Tetapi di Indonesia, petani yang telah memanfaatkan perdagangan futures contracts masih sangat minim. komoditas pertanian yang sudah diperdagangkan di Bursa Berjangka Jakarta juga masih sedikit, diantaranya kelapa sawit, kopi dan coklat,” tambahnya.

Adapun dua manfaat lain yang bisa didapatkan dalam perdagangan berjangka komoditi, yaitu sebagai price discovery atau pembentukan harga, dan sebagai price referency atau acuan harga. Pembentukan harga komoditas melalui transaksi di BPK ini dianggap lebih transparan dan wajar karena mencerminkan kondisi pasokan dan permintaan yang sebenarnya dari komoditas yang diperdagangkan. Dan dari harga yang terbentuk tersebut biasanya dijadikan harga acuan atau reference price oleh dunia usaha secara luas untuk melakukan transaksi di pasar fisik.kbc6

Bagikan artikel ini: