Genjot perdagangan berjangka komoditi, BBJ bersama RFB dan KBI gencar sosialisasi

Selasa, 17 Oktober 2017 | 17:04 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Industri Perdagangan Berjangka Komoditi (PBK) mulai bergeliat seiring dengan makin massifnya sosialisasi dan edukasi yang dilakukan oleh perusahaan pialang berjangka PT Rifan Financindo Berjangka (RFB) bersama PT Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) serta Kliring Berjangka Indonesia (KBI) di berbagai kota besar selain Jakarta.

Chief Business Officer PT Rifan Financindo Berjangka, Teddy Prasetya mengatakan bahwa selama ini masyarakat di luar Jakarta memang masih sedikit yang mengerti dan paham tentang industri PBK. Masyarakat, ujarnya, lebih familiar untuk berinvestasi di saham, obligasi, reksadana, deposito atau lainnya. Untuk itulah, pada tahun ini PT Rifan Financindo Berjangka bersama BBJ dan Kliring Berjangka Indonesia terus melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat. Sosialisasi dilakukan di lima kota besar, Pekanbaru Semarang, Medan, Palembang dan terakhir di Surabaya.

“Kalau di Jakarta, pemahaman masyarakatnya sudah bagus, tetapi di luar Jakarta masih sangat rendah. Harapan kami, melalui sosialisasi ini masyarakat akhirnya mengerti bahwa perdagangan berjangka komoditas juga bisa dijadikan alternatif investasi yang menguntungkan,” ujar Teddy Prasetya di Surabaya, Selasa (17/10/2017).

Langkah ini juga diharapkan bisa meminimalisir  masyarakat yang tertipu oleh investasi bodong. Menurutnya, kejahatan investasi ilegal masih tetap banyak dengan modus operandi yang semakin canggih dan bervariasi. Karena masyarakat kurang paham, akhirnya mereka banyak yang menjadi korban.

“Ada dua indikator yang bisa dijadikan acuan untuk mengetahui apakah investasi itu bodong atau tidak. Pertama adalah legalitas dan kedua investasi yang ditawarkan itu logis atau tidak. Jika tidak logis, maka jangan percaya karena kemungkinan besar investasi tersebut bondong, seperti kasus First Travel yang baru-baru ini lagi ramai,” jelasnya.

Direktur Utama PT BBJ Stephanus Paulus Lumintang menjelaskan bahwa pendirian BBJ sesuai dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 1997 yang diamandemen dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2011 tentang perdagangan berjangka komoditi. Dalam UU itu disebutkan bahwa tujuan perdagangan berjangka merupakan sarana lindung nilai dan pembentukan harga yang transparan, yang dipakai sebagai harga referensi komoditi. Selain itu juga untuk menampung investor dan menjadi sarana alternatif berinvestasi.

“Dalam realisasinya, sudah ada 80 perusahaan yang  menjadi anggota dan melakukan transaksi melalui BBJ dengan seribu lebih komoditas yang diperjual belikan. Dan sebenarnya industri PBK ini memiliku potensi yang sangat besar untuk bisa meningkatkan ekonomi Indonesia,” lanjutnya.

Terkait kinerja RFB, Teddy mengatakan sangat bagus dan terus mengalami pertumbuhan dalam tiap tahunnya. Secara nasional, ada sekitar 10 ribu nasabah yang sudah bergabung. Tahun ini, ada sekitar 1.556 nasabah baru yang telah bergabung, naik 37,30 persen dibanding tahun lalu yang mencapai 1.134 nasabah. Sementara jumlah SDM RFB di seluruh Indonesia mencapai 3.250 orang yang tersebar di 9 kantor.

“Sepanjang 9 bulan, total transaksi yang kami lakukan mencapai 428.935 lot dari target 500 ribu lot di tahun ini. Kami sangat optimis target tersebut akan tercapai bahkan kami perkirakan sampai akhir 2017 transaksi yang bakal terealisasi bisa mencapai 600 ribu lot,” pungkas Teddy.kbc6

Bagikan artikel ini: