Target swasembada gula konsumsi pada 2019, ini upaya Kementan

Selasa, 20 Juni 2017 | 21:44 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kementerian Pertanian (Kementan) mengklaim mampu menggapai target swasembada gula konsumsi pada tahun 2019-2020 mendatang.

Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan) Bambang mengatakan faktor iklim yang kembali normal pada tahun ini membuat pihaknya menetapkan produksi gula konsumsi tahun ini mencapai 2,5 juta ton. “Diharapkan tahun ini bisa melebihi target karena kondisi yang agak kering,” kata Bambang di Jakarta, Selasa (19/6/2017).

Sebagai informasi sebelumnya, anomali iklim La Nina menyebabkan turunnya produksi gula nasional tahun 2016 menjadi 2,2 juta ton dari target semula sebesar 2,3 juta ton.

Bahkan pada tahun berikutnya, produksi gula petani dipatok lebih tinggi yakni 2,8 juta ton.Adapun di tahun 2019 sebedar 3,3 juta ton.Target ambisius itu didasarkan pada berbagai upaya yang tengah dilakukan Ditjen Perkebunan seperti pengembangan areal industri dan pembangunan pabrik-pabrik gula baru

“Tambahan produksi sampai 800.000 ton pada 2019 bukan hal yang sulit dan kami optimis ini bisa dicapai. Beberapa pabrik gula baru seperti di Ogan Komering Ilir, Sumatra Selatan, sudah siap menopang produksi. Perluasan lahan tebu di sekitar pabrik gula juga akan dilakukan,” terang Bambang.

Selain melakukan pembangunan pabrik gula baru, optimalisasi pabrik-pabrik gula yang sudah terbangun juga akan dilakukan. Saat ini, total luas tanam tebu di Indonesia mencapai 450.000 hektare (ha). Sementara, rata-rata produksi tebu rakyat hanya di kisaran 40-70 ton per ha dengan tingkat rendemen 6,7%.

Padahal, menurut Bambang jika ditangani dengan maksimal, produksi tebu bisa mencapai 100 ton per ha dengan tingkat rendemen 8%. “Ini dipengaruhi kondisi pabrik yang sudah tua. Kalau orang tua yang memeras, ya pasti tidak akan maksimal,” cetusnya

Kementan, sambung Bambang juga akan melakukan bongkar ratoon atau penggantian tanaman tebu milik rakyat untuk meningkatkan produksi yang kian menurun. Bambang menyebutka  idealnya tanaman tebu sudah harus diganti setelah dikepras tiga kali.

Tetapi faktanya di lapangan petani tidak melakukan pergantian bahkan setelah 13 kali panen.Pada tahun ini, pemerintah menargetkan adanya bongkar ratoon di areal lahan tebu seluas 18.000 ha.

“Kami akan memberikan benih unggulan untuk pertanaman baru. Pemerintah juga siap memberikan alat mesin pertanian untuk mendukung peningkatan produktivitas,” jelasnya.

Kementan, sambungnya  juga akan melakukan pendampingan dan memberikan penyuluhan kepada para petani tebu yang menjadi target bongkar ratoon. “Karena mereka harus memulai pola tanam dari awal dan itu jelas harus dipantau agar produksi menjadi baik,” pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: