Potensi pasar makin meningkat, bisnis jasa konstruksi kian memikat
Prospek dan peluang industri jasa konstruksi di Jatim (1)

[dok. kabarbisnis.com]
Tidak bisa dipungkiri bahwa sektor konstruksi selama ini menjadi salah satu pilar utama pembangunan perekonomian nasional. Perkembangan sektor konstruksi tidak saja berdampak ke kehidupan ekonomi, namun juga berimbas positif ke kehidupan sosial masyarakat. Kohesi sosial di masyarakat dan kemajuan ekonomi bisa terbangun dengan berbagai hasil kerja para pelaku di industri konstruksi.
Keberadaan berbagai macam hasil pekerja konstruksi, seperti sekolah, pusat bisnis, gedung pemerintahan, jembatan, hingga sarana jalan raya berjalin menciptakan gerak perekonomian sekaligus penopang kehidupan sosial-budaya sebuah bangsa.
Perkembangan sektor konstruksi di tanah air sendiri terus menanjak seiring giatnya republik ini memancangkan berbagai proyek pembangunan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, pada 1973, sumbangan sektor konstruksi terhadap produk domestik bruto (PDB) masih sekitar 3,9%. Angka itu terus meningkat hingga mencapai 8% pada 1997.
Namun, badai krisis 1998 menghentikan ekspansi bisnis konstruksi. Hingga lima tahun pascakrisis, sumbangan sektor konstruksi terhadap PDB terus menurun hingga mencapai 6% pada 2002. Namun, setelah krisis berlalu, pelan tapi pasti, bisnis konstruksi kembali bergairah. Pada 2005, sumbangan sektor konstruksi terhadap PDB sudah menembus 6,35%. Pada 2008, sektor konstruksi juga tercatat tumbuh 7,3% menjadi Rp419,3 triliun. Berdasarkan lapangan usaha, sektor konstruksi memberi kontribusi 8,4% terhadap PDB, naik dari posisi 2007 yang sebesar 7,7%.
Data BPS (2007) menyebutkan, kontribusi sektor konstruksi dalam penyerapan tenaga kerja pada 2006 mencapai 4,37 juta jiwa, terdiri atas 4,24 juta jiwa pekerja pria dan 124.932 jiwa pekerja wanita. Secara total, penyerapan tenaga kerja sektor konstruksi mampu menyerap sebesar 4,60% dari total angkatan kerja pada tahun itu yang mencapai 95,17 juta jiwa. Departemen Pekerjaan Umum memprediksi, jumlah tenaga kerja di sektor konstruksi pada 2009 menembus 5,2 juta orang.
Jelas bahwa potensi bisnis konstruksi sangat besar. Pada 1995, misalnya, pasar industri jasa konstruksi mencapai Rp45 triliun. Nilai itu terus meningkat. Pada 2003, nilai proyek para pelaku usaha jasa konstruksi mencapai Rp159 triliun, di mana 55% merupakan proyek swasta dan sisanya dari pemerintah. Nilai itu dipastikan terus meningkat dari warsa ke warsa seiring berbagai proyek pembangunan yang dikebut untuk mendinamisasi perekonomian.
Data yang dikutip Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dalam sebuah analisis tentang perkembangan sektor jasa konstruksi nasional juga menyebutkan, pasar bagi pelaku usaha jasa konstruksi terus meningkat. Pada 2002, 2003, dan 2004, nilai proyek jasa konstruksi mencapai masing-masing sebesar Rp87,77 triliun, Rp106,634 triliun, dan Rp127,960 triliun. Sementara nilai proyek konsultasi konstruksi pada tahun yang sama masing-masing sebesar Rp21,94 triliun, Rp26,65 triliun, Rp31,99 triliun.
Potensi pasar di Jatim
Di Jatim sendiri, pasar jasa konstruksi juga terus berkembang pesat. Pertumbuhan ekonomi Jatim yang beberapa tahun terakhir cukup menggembirakan, bahkan kerap melampaui pertumbuhan ekonomi secara nasional, mengindikasikan bahwa gerak ekonomi di Jatim semakin bergairah. Dengan sendirinya, permintaan terhadap bisnis jasa konstruksi juga ikut terkerek.
Potensi proyek konstruksi di seluruh Jatim selama setahun diprediksi mencapai Rp10 triliun. Nilai itu terdiri atas proyek dari pemerintah maupun swasta. "Total potensinya dalam setahun bisa mencapai Rp10 triliun. Anggota kami setidaknya mendapat 10% dari nilai proyek itu," ujar Ketua Umum Gabungan Perusahaan Konstruksi Nasional Indonesia (Gapeksindo) Jatim Gatut Prasetiyo.
Gatut menjelaskan, nilai proyek dari pemerintah kabupaten/kota se-Jatim bisa mencapai Rp1,5 triliun. Tahun ini, jelas dia, para pengusaha jasa konstruksi lebih banyak mengandalkan proyek dari pemerintah seiring paket stimulus fiskal untuk mendinamisasi perekonomian di tengah krisis.
Proyek-proyek dari swasta pada 2009 ini relatif lambat, karena mereka lebih memilih untuk menunda realisasi investasi. "Porsinya kalau 2008 masih 60% berbanding 40% antara proyek swasta dan pemerintah. Tahun ini bisa berbalik, 60% dari proyek pemerintah dan 40% dari swasta," terangnya.
Pada tahun lalu, para anggota Gapeksindo Jatim berhasil membukukan omzet sebesar Rp900 miliar.
Saat ini, Gapeksindo Jatim beranggotakan 1.500 perusahaan. Porsi terbanyak masih didominasi kontraktor dengan skala gred 2-5 hingga 98%. Sementara kontraktor berskala besar dengan gred 6 dan 7 jumlahnya hanya 2%.
Momentum baru
Gairah bisnis jasa konstruksi, khususnya para anggota Gapeksindo, bakal memasuki babak baru. Babak baru dalam perjalanan Gapeksindo akan ditandai dengan pembangunan Graha Gapeksindo yang menelan biaya hingga Rp1,7 miliar. Graha tersebut bakal diresmikan pada 12 Desember mendatang. Pemanfaatan Graha Gapeksindo akan menjadi momentum baru bagi para pelaku usaha jasa konstruksi yang tergabung dalam Gapeksindo untuk terus memantapkan langkah.
Graha yang dibangun dengan semangat gotong-royong tinggi tersebutmelibatkan 1.400 individu/perusahaan yang menyumbang baik dalam bentuk sumbangan anggota maupun sponsorakan menjadi wahana bagi anggota Gapeksindo untuk berkoordinasi dan saling berbagi ilmu dan pengalaman. Muaranya tentu saja hanya satu, yaitu peningkatan kualitas para pelaku usaha jasa konstruksi yang tergabung dalam Gapeksindo.
Dalam konteks ini, tentu saja yang diuntungkan masyarakat. Sebab, semakin berkualitas para pelaku usaha jasa konstruksi, maka berbagai proyek konstruksi yang dijalankan juga kian berkualitas, yang tentu saja akan mampu mendinamisasi perekonomian masyarakat.
Hal tersebut yang kami harapkan. Tentu saja ini butuh kerja keras, sebab banyak tantangan yang harus dihadapi, ujar Gatut.
Selesainya pembangunan Graha Gapeksindo bukanlah akhir, melainkan baru permulaan dari perjalanan panjang Gapeksindo pada masa mendatang. Semoga pembangunan Graha Gapeksindo ini bisa menjadi milestone yang akan semakin menggairahkan bisnis jasa konstruksi di Jatim, ujarnya.
Ketua Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) Jatim Erlangga Satriagung menggarisbawahi satu hal penting agar bisnis jasa konstruksi di Jatim semakin berkembang. Yaitu, peningkatan kualitas sumberdaya manusia (SDM).
Kuncinya ada pada peningkatan kualitas. Ini menjadi harga mati jika para pelaku usaha jasa konstruksi ingin terus eksis dan memberi kontribusi bagi pembangunan daerah. Apalagi, persaingan ke depan semakin berat dengan semakin maraknya pelaku usaha jasa konstruksi asing yang beroperasi di Indonesia, ujar Erlangga.
Peningkatan kualitas, sambung Erlangga, sangat penting mengingat kebutuhan tenaga ahli dan tenaga terampil di industri jasa konstruksi sangat besar. Namun, kondisi saat ini relatif tidak ideal karena masih minimnya tenaga ahli dan tenaga terampil untuk menopang pesatnya perkembangan bisnis jasa konstruksi.
Erlangga menjelaskan, masalah kualitas ini berkaitan erat dengan implementasi atau hasil dari sebuah proyek yang dikerjakan oleh pelaku usaha konstruksi. Hasil proyek konstruksi tentu saja akan semakin berkualitas jika perusahaan konstruksi yang mengerjakannya juga diisi oleh SDM-SDM yang berkualitas.
Gatut pun menaruh perhatian khusus pada masalah peningkatan kualitas SDM tersebut. Menurut dia, setiap pertumbuhan bisnis, apa pun jenis bisnis tersebut, selalu diiringi dengan berbagai kendala dan tantangan. Salah satu tantangan utama adalah peningkatan kualitas SDM.
Memang tidak mudah untuk terus meningkatkan kualitas SDM. Namun, justru hal tersebut yang akan menjadi pemicu semangat Gapeksindo untuk terus meningkatkan kualitas SDM para anggotanya. Yang pasti, potensi pasar yang besar harus diiringi dengan semakin berkualitasnya pelaku usaha di bisnis jasa konstruksi, kata Gatut.
Peningkatan kualitas SDM ini juga selaras dengan hasil riset para akademisi terkait perkembangan perusahaan konstruksi di Jatim, khususnya Surabaya. I Putu Artama Wiguna dan Silvana Agustin, keduanya merupakan akademisi ITS, melakukan sebuah studi yang menarik untuk meneliti faktor-faktor yang memengaruhi kualitas perusahaan konstruksi di Surabaya.
Dalam penelitian yang dipublikasikan pada 2008 tersebut, mereka mengambil 50 perusahaan konstruksi di Surabaya sebagai responden, yaitu perusahaan gred 7 (4 perusahaan), gred 6 (9 perusahaan), dan gred 5 (37 perusahaan). Yang menjadi responden pun beragam, mulai dari direktur (29 orang), staf (17 orang), dan manajer (4 orang), sehingga hasil penelitian menjadi lebih representatif.
Data yang diperoleh dari 50 responden menunjukkan adanya delapan faktor pokok yang menjadi penentu kualitas perusahaan konstruksi di Surabaya. Delapan faktor tersebut adalah peningkatan sumber daya manusia, peningkatan internal perusahaan, peningkatan kinerja karyawan, peningkatan proses dan peraturan perusahaan, peningkatan kinerja perusahaan, peningkatan strategi perusahaan, peningkatan administrasi perusahaan, dan peningkatan kepuasan kerja.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan, faktor peningkatan kualitas SDM memiliki nilai pembentuk faktor sebesar 22,925%, yang juga menunjukkan bahwa peningkatan kualitas SDM menjadi faktor terpenting untuk meningkatkan kualitas perusahaan konstruksi di Surabaya.
Hasil (studi) ini menunjukkan bahwa peningkatan sumber daya manusia merupakan faktor yang paling penting dalam peningkatan kualitas perusahaan kontraktor di Surabaya, tulis Wiguna dan Agustin.
Wiguna dan Agustin menjelaskan, terkait faktor peningkatan kualitas SDM, terdapat beberapa hal yang patut diperhatikan. Yang pertama adalah menggiatkan program pendidikan dan selfimprovement. Untuk dapat meningkatkan kualitas karyawan dalam manajemen yang efektif diperlukan dukungan karyawan yang cakap dan kompeten di bidangnya. fleksibilitas karyawan, serta respons yang lebih baik terhadap perubahan, ujar Wiguna dan Agustin. Selain itu, perusahaan konstruksi juga perlu menambahkan berbagai keahlian baru untuk para SDM-nya.
Yang terpokok memang harus terus menerus melakukan inovasi agar pelaku bisnis jasa konstruksi di Jatim bisa terus ekspansif dan berkembang sesuai tuntutan zaman, tegas Gatut. kbc5 (bersambung)
- Nilai tukar rupiah terhadap USD hari ini Rp 9775.00
- Indeks Harga Saham Gabungan hari ini +33.69 menjadi 5155.093
- Pilihan Editor: Terdesak impor, Kadin-KPPI gencar sosialisasi safeguards di Jatim
- Praktik kartel bikin bunga bank di RI tertinggi se-Asean?
- Jabat Gubernur BI, Agus Marto bersumpah tak akan terima suap
- Unesa ambisi jadi pusat litbang industri batik Nusantara
- Pensiunan ini rutin beli Jaguar lima kali dalam setahun
- Pensiun, Beckham gandeng bos Manchester City beli tim MLS?
- Rambah bisnis ponsel, Jennifer Lopez gaet Verizon
- Awas informasi pribadi Anda disalahgunakan situs belanja online
- Bos Bulog berbagi kisah sukses dengan siswa SMA di Jatim
- Bakrie Toll Road pacu penuntasan 6 ruas tol
- Potensi pasar makin meningkat, bisnis jasa konstruksi kian memikat
- BPJT talangi Bakrie Rp400 miliar
- PU prioritaskan proyek Waduk Jatigede
- PP baru terbit, jumlah asosiasi jasa konstruksi akan menyusut
- LPJK fokus pemberdayaan SDM konstruksi
- Pusat siapkan subsidi proyek SPAM Umbulan Jatim
- Pancadarma pacu kualitas jasa konstruksi
- WIKA kucurkan duit Rp30 miliar untuk bangun gedung pengembangan SDM
- Agus Marto siap kucurkan dana untuk sodetan kali dan penanggulangan bencana
- Wijaya Karya siap sambut tawaran proyek dari Irak
- Kontraktor: Perlu forum bersama atasi sejuta problem
- Januari, Wijaya Karya raih kontrak Rp572,27 miliar
- SDM minim, perusahaan konstruksi asing siap kuasai proyek di RI
- Garap Indonesia Timur, Semen Indonesia resmikan packing plant di Sorong
- Tahun ini, pasar konstruksi diprediksi tembus Rp400 T
