Mengenang goresan tangan Alit Sembodo

Rabu, 26 Agustus 2009 | 12:54 WIB ET

JAKARTA - Pameran tunggal lukisan dan sketsa karya Alit Sembodo ini, memang tidak lazim. Galibnya, pameran tunggal bertajuk "Journey : Sketsa dan Lukisan Alit Sembodo' di Galeri City Plaza Jakarta, disertai semangat dan inisiatif perkembangan karya sang senimannya, sehingga menyirongkan arah perkembangan karya selanjutnya.

Sayang memang, Alit Sembodo sang pelukis muda yang penuh kreatif dan menghasilkan karya spektakuler sudah mendahului kita. Sehingga wajar dia tak bisa hadir diantara kita dan hanya goresan tangan dalam sketsa, ilustrasi, komik, karikatur, gambar ekspresif dan lukisan masa terpampang dengan abadi.

Pameran yang digelar 22 Agustus hingga 2 September 2009 oleh Koong Galery yang didukung pihak keluarga setelah terketuk hatinya untuk memamerkan jejak-jejak artistik Alit hingga

pada periode karya yang terakhir sebelum menutup mata.

Kurator seni rupa Rizki A. Zaelani menilai banyak segi persoalan yang bisa dikemukakan dari karya-karya lukisan periode akhir yang dikerjakan Alit, yang paling menonjol adalah soal narasi bersifat gambar, dengan menciptakan permainan garis dan bentuk.

"Saya menilai lukisan Alit yang penuh gambar itu menjadi dinamik karena kekuatan karakter garis yang dikerjakannya," komentarnya.

Kumpulan gambar itu menunjukkan betapa fase perkembangan karakter garis yang pernah digeluti Alit secara intens. Contoh karya-karya sketsa yang bisa dipahami bahwa pelukis kelahiran Magelang 10 Agustus 1973 dan meninggal 4 Agustus 2003 ini, memiliki bakat menggambar yang kuat.

"Alit mampu secara langsung menangkap dan menggambarkan dimensi ruang secara baik. Suatu kejadian di pasar. misalnya dinyatakan langsung dengan komposisi garis secara lugas dan efisien," ucap Rizki.

Karakter garis yang paling menarik tentang tubuh yang dikerjakan dengan kekuatan garis ekspresif. Sebagian gambar dikerjakan dalam gambaran identitas subyek yang cukup gamblang, seperti pengemis, orang tua, perempuan. Sebagian lagi adalah fitur tanpa identitas.

"Pada gambar semacam itu saya mengingat karakter garis yang dimiliki pelukis besar Affandi. Sapuan garis kuas yang dikerjakan alit dengan bahan tinta itu, memang tak sama

persis dengan watak garis cara yang dikerjakan tangan secara langsung oleh Affandi," jelasnya.

Namun karakter bentuk yang dibuat Alit pada sketsanya secara kuat bisa mengingatkan kita pada lukisan-lukisan Affandi. Memang ada perbedaan makna yang mendasar, secara teoritis antara garis dengan kuas dan tinta hitam yang dikerjakan Alit, dengan goresan garis cat Affandi.

Alit mengerjakan garis-garis itu secara langsung dan spontan, sedang Affandi melakukannya dengan semangat dan intensitas kerja tangan yang memiliki ketegangan, katanya.

Pengamat lukisan Rendra Ruben menambahkan pelukis Alit sudah menjadi ikon seniman kontemporer Indonesia. Meski orangnya sudah meninggal, namun karyanya masih tetap hidup bahkan diburu kolektor dalam dan luar negeri.

Karya Alit sudah dimiliki kolektor di Taiwan, Singapore, dan beberapa negara di Eropa. "Bahkan pernah dilakukan lelang oleh Balai Lelang Lukisan ternyata lukisan Alit pernah terjual dengan harga tertinggi mencapai Rp 1,2 miliar melampui harga lukisan Affandi yang hanya terjual Rp400 juta," ungkapnya.

Sementara Koong Galeri Jakarta menyambut baik dengan diadakannya pameran yang kesekian kalinya digelar. Harapannya para pecinta seni lukisan dimanapun berada dapat menikmati dan mengamati dari karya-karya Alit Sembodo ini di Koong Galeri ini yang diadakan sebulan penuh. kbc10/kbc3

Bagikan artikel ini: