loading...
Kategori
Keuangan
Mode Baca

Stabilkan nilai tukar rupiah, ini tiga strategi BI

Online: Rabu, 12 Juni 2013 | 12:56 wib ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Sebagai upaya menstabilkan nilai tukar rupiah yang kian terpuruk, Bank Indonesia (BI) melancarkan beberapa strategi.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyebut, setidaknya ada tiga strategi yang dilakukan BI dalam menjaga stabilitas rupiah. "BI lakukan langkah-langkah pre-emptive untuk stabilkan moneter. Pertama, kita pasok dolar dalam jumlah besar untuk stabilkan Rupiah. Kita pastikan likuiditas dolar tersedia cukup," kata Perry di Jakarta, Rabu (12/6/2013).

Bank Indonesia "mengguyur" dolar AS ke pasar valas menggunakan cadangan devisa yang pada Mei lalu sudah tergerus sebanyak US$2,3 miliar menjadi US$105 miliar dari US$107,3 miliar pada bulan April lalu.

Langkah kedua adalah melakukan melalui penyerapan surat-surat berharga yang ada di pasar surat berharga. "Kita juga beli SBN (surat berharga negara) melakukan lelang dari pasar sekunder yang dilepas asing. Kita siap beli SBN berapapun jumlah yang akan dijual," ungkapnya.

Melepas dolar AS di pasar valas dan menampung surat berharga dikenal dengan 'operation twist' yaitu BI menyebar dolar AS dan mendapatkan rupiah. Sehingga rupiah tersebut akan digunakan untuk membeli surat berharga.

Langkah ketiga BI baru dilancarkan semalam dengan menaikkan suku bunga simpanan Fasbi (fasilitas simpanan Bank Indonesia) atau deposit facility sebesar 25 basis point dari 4 persen menjadi 4,25 persen. Langkah tersebut dilancarkan BI guna menenangkan gejolak pasar.

"Ketiga, kenaikan Fasbi sebesar O.25 persen tersebut untuk memperkuat sinyal langkah-langkah serius BI. Jadi kenaikan Fasbi ini bagian dari langkah-langkah preemptive yang sudah dan akan dilakukan BI tersebut," tutup Perry.

Rupiah kembali mengalami tekanan hingga menyentuh angka Rp 9.870 per dolar AS pada 11 Juni 2013. Dalam Jakarta InterBank Offered Rate siang ini seperti dilansir situs bi.go.id, nilai tukar berada di kisaran Rp 9.856 per dolar AS.

Rupiah sudah beberapa kali mengalami keterpurukan dalam satu dekade terakhir. Saat 1997-1998, posisi rupiah berada di level Rp 14.000 per dolar AS. Setelah sempat membaik dan kembali bangkit, rupiah kembali terpuruk pada 2005. Saat itu, rupiah berada di level Rp 12.000 per dolar AS dan terakhir pada krisis keuangan global 2008-2009 di mana posisi rupiah menyentuh level Rp 10.000 per dolar AS. kbc10

Bagikan artikel ini kepada kerabat anda
Kurs USD-IDR
10/24/2014
12.067
IHSG
10/24/2014
5.073,07
-30,45 (-0,60%)