Karyawan Restoran Padang tak digaji

Senin, 29 Juni 2009 | 15:05 WIB ET

SURABAYA - Karyawan Restoran Padang benar-benar tak diberi gaji. Lantas bagaimana pendapatan para karyawan ala Restoran Padang? Disinilah letak kekhasan manajemen Restoran Padang. Karyawan memperoleh pendapatan berdasarkan sistem bagi-hasil dengan investor.

Perhitungan bagi-hasil tersebut menggunakan sistem poin. Acuan dalam menentukan poin yang didapat karyawan adalah berdasarkan bobot kerja atau Mato. Jadi, setiap karyawan punya Mato atau nilai sendiri berdasarkan bobot pekerjaan mereka.

Pewaralaba Restoran Padang Sederhana Amril Arief, mengungkapkan, perhitungan pendapatan karyawan dan investor dilakukan setiap 100 hari sekali. Setelah memasuki 100 hari, omzet dan seluruh biaya operasional dijumlahkan.

“Omzet selama 100 hari ini dikurangi biaya operasional yang terdiri dari belanja bahan baku, biaya telepon, listrik dan lain-lain. Dari sini akan ketemu laba kotor. Laba kotor ini dipotong zakat lebih dulu, yaitu 2,5% dari total laba kotor,” jelas Amril di sela-sela pembukaan Restoran Padang Sederhana di Surabaya, Senin (29/6/09).

Tak dipungkiri bahwa budaya Minang tempat Restoran Padang lahir, menghirup spirit Islam dalam-dalam. Manajemen restoran Padang menerapkan langsung ajaran Islam.

Setelah membayar zakat, laba kotor tadi dikurangi terlebih dulu 10% untuk menutup biaya penyusutan. Biaya penyusutan ini akan digunakan untuk memperbaiki AC yang rusak, atau peralatan yang rusak, atau untuk menambal atap yang bocor.

“Kalau biaya penyusutan sudah dikurangkan, maka ada pembagian 50%-50% antara karyawan dan investor,” paparnya.

Amril menjelaskan, dari hak 50% tersebut, para karyawan membagi dengan sesama mereka sesuai Mato masing-masing.

Nilai Mato tertinggi ada pada kepala masak atau Chef. Dia yang memimpin para koki yang bekerja di dapur induk sehingga perannya sangat vital dalam menyajikan citarasa menu makanan maupun minuman yang dihidangkan.

Di dapur induk biasanya terdapat 6-7 orang karyawan. Kaum lelaki di dapur biasanya menangani masakan yang berat-berat. Misalnya, rendang, gulai, ayam, kikil, dan menu berat lainnya. Sementara para koki perempuan biasanya menangani masak-memasak yang ringan-ringan, seperti memasak nasi, memeras santan kelapa, atau merebus daun singkong.

Setelah Chef, Mato terbesar kedua adalah Manajer, disusul Kepala Palung, Kasir, Kepala Belanja, Divisi minuman dan sate. Mato terendah ada di bagian cuci piring.

“Dengan demikian, semakin tinggi kinerja dari karyawan maka pendapatan mereka semakin tinggi. Manajemen semacam ini, membuat karyawan yang bekerja di Restoran Padang selalu punya semangat kerja tinggi. Jadi kalau malas-malasan, maka pendapatan merekapun sedikit,” kata Amril.

Menurut dia, sistem keuangan yang transparan ini menjadikan setiap karyawan level apa pun tahu, berapa omset yang diraih perusahaan dalam setiap harinya. Transparansi ini menjadikan karyawan akan lebih termotivasi untuk maju. kbc7

Bagikan artikel ini: