loading...
Kategori
Aneka BisnisLain Lain
Mode Baca
Kurs USD-IDR
7/12/2014
11.585
IHSG
7/11/2014
5.032,60
-65,41 (-1,30%)
Minyak Mentah
N/A
0,00
0,00 (0,00%)
Emas
N/A
0,00
0,00 (0,00%)

Kerap ditolak ekspor kopi, RI minta Jepang fair soal batas residu kopi

Online: Rabu, 03 April 2013 | 02:41 wib ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Indonesia meminta Jepang mengikuti ketentuan universal dalam hal penetapan ambang batas residu herbisida kopi. Sudah dua tahun, Negara Matahari Terbit itu menerapkan standar teknis untuk keamanan pangan.

"Kita meminta Jepang meninjau kembali batas residu carbaryl. Penetapan carbaryl sebesar 0,1% part per bilion (PBB), itu terlalu tinggi. Semestinya Jepang mengikuti sesuai ketentuan universal," kata Direktur Ekspor Produk Pertanian dan Kehutanan Kementerian Perdagangan (Kemendag) Mardjoko dalam diskusi umum sertifikasi kopi di Jakarta, Selasa (2/4/2013).

Padahal Uni Eropa (UE) dan Amerika Serikat (AS), menurut Mardjoko, menetapkan batas residu herbisida lebih fleksibel yakni hanya 0,1 PBB. Diakui, dalam beberapa kali kasus, kopi Indonesia ditemukan melebihi ambang batas residu antara 0,5-0,7 PBB.

"Sebetulnya, dalam kaca mata konsumen kandungan herbisida kopi Indonesia masih dapat diterima.Importir kopi dari Jepang yang menyatakan itu kepada kita," ujar Mardjoko.

Permasalahannya, menurut Marjoko, penentuan ambang batas residu kopi ditetapkan pemerintah. Karena itu, menurutnya, bersama

para pemangku kepentingan terus berjuang menegosiasikan hambatan perdagangan tersebut.

Apalagi, menurut Mardjoko, Jepang tergabung dalam Codex Committee on Contaminant in Food (CCCF). Dalam perkembangan akhir, tampaknya Jepang memberikan tanda positif.

"Tapi masih ada proses yang harus dilakukan. Kita harus tunjukkan data, dan informasi pada mereka," terang dia.

Ketua Umum Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) Irfan Anwar optimistis hambatan ekspor dapat dituntaskan tahun ini. Caranya, memperketat quality control (QC) kopi sejak budidaya."Sudah 90 % item permasalahan sudah dituntaskan," terang dia.

Mardjoko kembali menjelaskan, dalam periode 2007-2012,meski kontribusi hanya 1% dari total nilai ekspor non migas, pertumbuhan ekspor kopi Indonesia mencapai 10,5%.

Tahun 2012, ekspor kopi Indonesia mencapai US$ 1,2 miliar.Nilai ekspor tersebut meningkat 20,5% dibandingkan tahun lalu sebesar US$ 1,04 miliar. Sementara volume ekspor kopi sebesar 448.000 ton atau naik 29,5% yakni sebesar 346.500 ton.

"Memang cukup signifikan ketika suasana komoditas perkebunan lain yang mengalami penurunan," pungkasnya. kbc11

Bagikan artikel ini kepada kerabat anda