Industri gula gairahkan ekonomi lokal

Senin, 31 Desember 2012 | 07:16 WIB ET
Kepala Bidang PKBL PTPN X Wasis Pramono membagikan sembako. Salah satu upaya PTPN X meningkatkan kesejahteraan sosial-ekonomi warga.
Kepala Bidang PKBL PTPN X Wasis Pramono membagikan sembako. Salah satu upaya PTPN X meningkatkan kesejahteraan sosial-ekonomi warga.

SURABAYA, kabarbisnis.com: Kehadiran industri gula di Indonesia telah mampu menjadi penyangga kehidupan ekonomi bagi setidaknya sejuta petani dan jutaan warga lainnya yang bekerja sebagai karyawan pabrik gula (PG), tenaga tebang, sopir angkutan, penjual makanan, dan berbagai profesi penunjang lainnya. Industri padat karya yang telah ada di Nusantara sejak lebih dari empat abad silam ini dengan segala dinamikanya telah mampu menggairahkan ekonomi daerah dengan kehadiran PG-PG yang tersebar di banyak tempat di Indonesia.

Sekretaris Perusahaan PT Perkebunan Nusantara X (Persero), M. Cholidi, mengatakan, sebelas PG yang dimiliki perseroan di kawasan Jawa Timur juga terbukti mampu menggairahkan ekonomi di daerah. Sedikitnya ada 71.691 petani tebu di lingkungan PG-PG milik PTPN X. Itu belum termasuk 12.000 karyawan PTPN X yang banyak dari penduduk setempat dan ratusan ribu tenaga kerja penunjang lainnya, seperti tenaga tebang, sopir truk pengangkut tebu, penjual makanan, dan sebagainya.

Menurut Cholidi, dampak pengganda (multiplier effect) ekonomi kehadiran PG-PG cukup besar. Misalnya dalam hal mendorong kegiatan ekonomi daerah, menyerap tenaga kerja, peningkatan pendapatan masyarakat, dan menjadi stimulus bagi pembangunan lokal.

"Kehadiran PG-PG di daerah telah mampu mendorong pergerakan ekonomi lokal, terutama meningkatkan kesejahteraan petani tebu seiring dengan pendampingan yang intens dilakukan oleh PTPN X. Perbaikan kinerja PG-PG PTPN X juga mampu meningkatkan rendemen (kadar gula dalam tebu), sehingga berdampak positif pada kesejahteraan petani tebu," ujar Cholidi.

Cholidi menambahkan, selain dalam bentuk penyerapan tenaga kerja dan pemberdayaan petani, kontribusi PG bagi ekonomi lokal juga diwujudkan dalam bentuk pembayaran pajak dan retribusi. Sebagai BUMN, PTPN X juga secara rutin menyerahkan dividen kepada negara yang dananya kemudian digunakan untuk program-program pembangunan yang digerakkan pemerintah.

Semua aktivitas bisnis PG, lanjut Cholidi, akan bermuara pada peningkatan nilai tambah bagi perusahaan yang akan memberi dampak positif bagi stakeholders, termasuk tentu saja ke perekonomian lokal.

"Semakin kuat kinerja kami, semakin besar pula dampaknya ke ekonomi lokal. Pendapatan Asli Daerah (PAD) meningkat seiring semakin besarnya pajak daerah dan retribusi yang kami bayar, penyerapan tenaga kerja membesar, dan multiplier effect lainnya seperti kenaikan permintaan sejumlah barang dan jasa, mulai dari kuliner, wisata, properti, sampai perhotelan di kota yang menjadi basis PG. Ujung-ujungnya, kesejahteraan masyarakat ikut terkerek naik," jelas dia.

Peningkatan nilai tambah bagi masyarakat di daerah juga diwujudkan melalui Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL). PKBL adalah program dari setiap BUMN untuk meningkatkan kesejahteraan sosial-ekonomi masyarakat. PTPN X sendiri meningkatkan kesejahteraan sosial-ekonomi masyarakat, seperti petani, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), dan warga secara luas.

Kepala Bidang PKBL PTPN X, Wasis Pramono, menjelaskan, PTPN X selama ini melakukan pemberdayaan ke petani secara berkelanjutan. Tahun ini, PTPN X mengelola dana PKBL sekitar Rp450 miliar. Tahun depan ditargetkan naik menjadi Rp550 miliar. Selain dari dana internal PTPN X, dana tersebut juga didapatkan dari PKBL-PKBL BUMN lain yang dikoordinatori oleh PTPN X.

"Dana tersebut digunakan antara lain untuk bantuan permodalan petani, meningkatkan kualitas SDM petani, menguatkan kapasitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), dan mendorong kesejahteraan sosial-ekonomi masyarakat sekitar pabrik gula," ujarnya.

PTPN X secara berkelanjutan terus membantu meningkatkan kapasitas petani tebu dalam hal teknis budidaya. Berbagai pelatihan secara rutin digelar untuk meningkatkan SDM petani. Mengajak perwakilan petani untuk studi banding ke negara yang sukses mengembangkan industri gula, seperti Thailand, juga rutin diadakan.

PTPN X juga melakukan riset terpadu budidaya tebu yang nantinya bisa membantu petani meningkatkan produktivitasnya. Salah satu yang terbaru adalah pengenalan metode bud chips yang bisa memacu produktivitas tebu. "Petani selama ini kerap dinilai terpinggirkan. Namun, di lingkungan PTPN X, petani diposisikan sebagai mitra sejajar yang harus tumbuh dan berkembang secara bersama-sama dengan pabrik gula," jelasnya.

Selain untuk penguatan petani tebu, PTPN X juga meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat melalui pemberian beasiswa pendidikan, pembangunan sarana ibadah, dan dukungan dalam berbagai kegiatan positif di masyarakat.

PTPN X sendiri berhasil mempertahankan prestasinya sebagai market leader industri gula nasional. Tahun ini, PTPN X memimpin pencapaian industri gula nasional dengan produksi gula sekitar 494.000 ton, meningkat 8,12 persen dibanding 2011. PTPN X berkontribusi 19 persen terhadap total produksi gula nasional yang mencapai 2,5 juta ton pada tahun ini. Baik secara jumlah maupun persentase pertumbuhan, PTPN X mengungguli perusahaan pergulaan lainnya. Rendemen PTPN X juga meningkat menjadi 8,14 persen.

Luas lahan tebu di lingkungan PTPN X mencapai 72.124 hektar dengan produktivitas 84,2 ton tebu per hektar. Tahun ini PTPN X menggiling 6,072 juta ton tebu.

"Tahun depan kami menargetkan penambahan lahan tebu menjadi 76.000 hektar. Adapun produksi gula kami targetkan meningkat menjadi 538.000 ton," ujar Cholidi. kbc5

Graha Agung Kencana
Bagikan artikel ini: