Biaya produksi naik 25%, pebisnis siap PHK pekerja
Berita Terkait
- Jadi buruan investor, prospek properti industri cerah
- Diguncang kenaikan BBM, industri lokal bakal tetap tumbuh 6,6%
- Soekarwo dukung industri di Jatim dapat jatah gas Husky
- Kenaikan TTL tahap II, pebisnis hotel siap-siap pangkas karyawan
- Menperin anggap 'boyongan' 90 industri Jabodetabek wajar
+ lebih banyak
JAKARTA, kabarbisnis.com: Kepastian bakal dinaikkannya tarif tenaga listrik (TTL) sebesar 15 persen di tahun depan tampaknya menjadi ancaman tersendiri bagi pelaku usaha di Tanah Air. Pasalnya, kenaikan TTL akan mengerek biaya produksi hingga 25 persen. Untuk tetap mempertahankan usahanya, pelaku usaha kemungkinan akan memangkas jumlah pekerjanya.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengatakan, yang paling merasakan dampak kenaikan TTL adalah industri padat karya, sehingga dimungkinkan mereka akan mengurangi pegawainya.
"Industri padat karya itu yang paling berdampak, tekstil, kaca dan lainnya apalagi yang UMKM pasti terbebani kenaikan tarif listrik 15% tahun depan, dampaknya ongkos produksi jadi naik 25%," kata Sofjan, Sabtu (22/9/2012).
Menurut Sofjan, jika ongkos produksi sudah naik 25%, maka bagi industri kecil untuk menyelamatkan usahanya jalannya dengan mengurangi jumlah pegawai.
"Pasti kurangi jumlah pegawai, artinya kan akan meningkatkan jumlah pengangguran, seperti di Mall-mall, pemilik mal tidak masalah naik berapapun tarif listrik karena mereka akan bebankan ke penyewa, nah penyewa ini yang susah, tentu antisipasinya yang biasa jaga tokonya 4-5 pegawia dia kurangi 1-2 pegawai," tuturnya.
Sofjan juga protes keras dikarenakan industri dan pengusaha tidak dilibatkan dalam pembahasan kenaikan tarif listrik tersebut. "Kita tidak dilibatkan sama sekali, padahal tahun-tahun sebelumnya kita ikut dilibatkan, kita juga kaget kok tahu-tahu sudah diputus naik, makanya kemarin kita rapat dan sepakat memprotes kenaikan tarif listrik 15% tersebut," ungkap Sofjan.
Seperti diketahui, pemeritah pada 1 Januari 2013 dipastikan akan menaikan tarif listrik, mekanisme yang akan dipilih kenaikan akan dilakukan secara pertahap hingga mencapai 15%.
Terkait kenaikan tarif listrik 15% tersebut, pemerintah tidak memberlakukan kenaikan untuk golongan R1 450 va dan 900 Va, sementara untuk golongan Bisnis 3, R3 6.600 Va seperti Mall, Hotel dan rumah mewah tidak diberikan lagi subsidi listrik oleh negara alias dicabut subsidinya.
Sedangkan industri tetap diberkan subsidi listrik namun jumlahnya dikurangi pada 2013, negara memberikan subsidi ke industri mencapai Rp 20 triliun. kbc10
- Nilai tukar rupiah terhadap USD hari ini Rp 9765.00
- Indeks Harga Saham Gabungan hari ini -26.217 menjadi 5188.759
- Pilihan Editor: Ingin dapat kredit, datangi Bank dan UMKM Expo di Surabaya
- Berbekal US$1,1 miliar, Yahoo! resmi caplok Tumblr
- RI disilakan cicipi kekayaan energi Papua Nugini
- Resmi meluncur, Sony Xperia Tablet Z dibanderol Rp4,8 jutaan
- BlackBerry siap kembangkan Z10 jadi phablet terbaru
- Gerakan Direksi Mengajar, bos PTPN X ajak pelajar SMA rajin membaca
- Dorong penggunaan gas, optimalkan penjualan mobile
- Tambah kapasitas Etihad Stadium, Manchester City rogoh £50 juta
- Dafam gelar pertandingan persahabatan antar jaringan hotel
- Pemerintah minta bank permudah kredit industri kreatif
- Tanam duit Rp2,1 T, produksi Daihatsu bakal tembus 460.000
- Bangun pabrik di RI, VW berburu pemasok komponen lokal
- Industri kulit dan alas kaki Jatim mulai menggeliat
- Dahlan klaim sejak 2012 PD di Jatim cetak untung
- Pelindo III-AKR bangun kawasan industri di Gresik
- Agar eksis, industri tekstil RI harus incar segmen atas
- Indonesia berpeluang jadi basis industri oleokimia
- Wismilak siap pasok filter rokok Ke Taiwan dan Polandia
- Sritex siap tantang tekstil China di negaranya
- Wismilak incar produksi 3,6 miliar batang rokok
- Lima sektor industri ini bakal nikmati tax holiday
- Pabrik rokok keluarga siap-siap dibebani cukai tinggi
- Indonesia berpeluang jadi basis industri oleokimia
- Incar tambahan produksi 2,5 juta ton, Indocement kebut dua pabrik baru
- Agar eksis, industri tekstil RI harus incar segmen atas
