loading...

Susahnya mencari entrepreneur pertanian

Online: Senin, 17 September 2012 | 08:54 wib ET

TIDAK mudah bagi produk hortikultura nasional untuk pentas dalam kancah global. Hal itu tidak lain karena masih minimnya Sumber Daya Manusia (SDM) yang berani menjadi entrepreneur komoditas hortikultura. Bahkan, para pebisnis pemula cenderung menjauhi sektor pertanian ini karena dinilai tak berkesan mewah.

Mantan Menteri Pertanian (Mentan) Bungaran Saragih menuturkan, dirinya sempat memperoleh pertanyaan Duta Besar Indonesia di Uni Emirate Arab yang mengatakan, dirinya sangat mudah memperoleh sayur, buah tropis hingga bumbu dapur di Indonesia. Namun, menjadi persoalaan setelah ditelisik ternyata semua komoditas hortikultura tersebut berasal dari Thailand.

Pertanyaan tersebut dilontarkan dubes RI untuk Uni Emirate Arab (UEA) itu ketika menerima kunjungan Presiden Megawati Soekarno Putri yang tengah transit menuju ke Sidang FAO,di Italia pada 2002. Mendengar fakta itu, Bungaran sempat kaget.

Menjawab hal itu, Bungaran memiliki argumentasi mendasar yang berbeda. Di depan Presiden saat itu, Bungaran berpendapat, dalam hal menghasilkan produktivitas tanam, petani Indonesia mampu bersaing dengan petani asal Thailand.

"Misalnya padi, produktivitas petani kita bisa melebihi 5 ton per hektare (ha). Sementara Thailand, hanya 2,5 ton," ujar Bungaran.

Menurut Bungaran, petani telah mampu menunjukkan keberhasilan usaha budidaya tanamnya. Persoalannya, cara kegiatan on farm pada dua sektor itu dipaksakan pada tanaman hortikultura. Padahal, komoditas tersebut memiliki karakter sistem usaha agribisnis yang berbeda.

Menurut Guru Besar Fakultas Institut Pertanian Bogor (IPB) itu, usaha tani hortikultura bukan diposisikan sebagai produk pangan dasar. Produk hortikultura membutuhkan penanganan skala usaha yang ekonomis.

"Persoalaannya banyak pengusahaan hortikultura ditanam di lahan yang kecil dan dicampur dengan tanaman lain," ujar Bungaran.

Pola budidaya hortikultura harus berorientasi pasar. Manajemen paska panen menjadi penentu kualitas produk. Hasil budidaya wajib memperhatikan ukuran, rasa dan corak sesuai selera pasar.

Kualitas mutu produk dapat terjaga apabila pola penyimpanan mampu menerapkan sistem rantai dingin.Penerapan sistem logistik agribisnis itu berlaku tidak hanya bagi pasar ekspor, tapi juga untuk menjaga menjaga eksistensi di pasar domestik.

"Kapasitas untuk menjawab itu semua bukan lagi petani. Thailand mempromosikan hortikulturanya di luar negeri itu dilakukan entrepreneur. Semua dilakukan para pebisnis Thailand baik eksportir,perusahaan kargo hingga perbankan," paparnya.

Hortikultura petani akan diposisikan sebagai komoditas terindustrialisasi bernilai tinggi bila para entrepreneur menjadi motor,cakap melobi baik pemerintah,periset maupun NGO. kbc11

Bagikan artikel ini kepada kerabat anda