Misi yang tak lagi impossible
Di usia 55 tahun, PT Semen Gresik Tbk terus menghijaukan industri semen

SURABAYA, kabarbisnis.com: PT Semen Gresik Tbk hari ini menapaki usia yang ke 55 tahun. Usia yang cukup matang dan mapan namun juga rentan terhadap 'penyakit' yang muncul.
Sejak diresmikan pengoperasiannya pada 7 Agustus 1955, PT Semen Gresik Tbk memang telah membawa misi untuk tetap menjaga lingkungan, baik terkait hubungan industrial maupun kemasyarakatan. Bisa dibayangkan, di saat kebanyakan industri belum memikirkan soal lingkungan, PT Semen Gresik Tbk telah lebih dulu berkomitmen untuk mewujudkan industri hijau (green industry).
Tak heran jika upaya tersebut awalnya bisa dibilang sebagai misi yang tak mungkin bisa dilakukan (mission impossible). Namun seiring perkembangan dan tuntutan zaman, serta komitmen untuk menjaga lingkungan, upaya itu mutlak dilakukan, bahkan telah menjadi ikon tersendiri bagi industri semen yang memiliki pabrik di Gresik serta Tuban ini, termasuk dua anak perusahaannya, Semen Padang dan Semen Tonasa.
Tak hanya itu, dengan visi perusahaan yakni menjadi perusahaan persemenan terkemuka di Indonesia dan Asia Tenggara, setapak demi setapak Semen Gresik mampu mewujudkan hal itu. Salah satu modal yang diterapkan adalah terus berupaya meningkatkan kualitas lingkungan hidup.
Direktur Utama PT Semen Gresik Tbk, Dwi Soetjipto mengakui, industri semen selama ini sering dianggap sebagai biang memburuknya kualitas lingkungan. Namun dengan pengelolaan lingkungan yang baik, Semen Gresik mampu mendorong keberlanjutan lingkungan.
"Kepedulian terhadap lingkungan ini secara nyata in-line dengan tujuan perseroan untuk melakukan efisiensi demi peningkatan kinerja. Kami yakin, semakin perusahaan punya perhatian khusus terhadap lingkungan, kinerja perusahaan justru akan semakin membaik," tutur Dwi.
Menurut dia, upaya yang dilakukan Semen Gresik tersebut tak lepas dari penerapan falsafah 3P, yakni keseimbangan antara profit (kinerja ekonomi), people (peningkatan kehidupan masyarakat), dan planet (menjaga lingkungan bumi).
"Setiap investasi yang dilakukan Semen Gresik adalah responsible investment yang memperhatikan prinsip environment, social, dan governance (ESG) sesuai standar internasional. Kami menjadikan semangat pengelolaan lingkungan bukan sekadar lips service, tapi secara serius kami lakukan," ujar Dwi.
Pernyataan orang nomor satu di perusahaan pelat merah persemenan tersebut terwujud dengan kuatnya prioritas lingkungan di hampir semua lini operasional perusahaan, mulai bahan baku, produksi, bahan bakar, pengelolaan limbah, hingga hubungan dengan masyarakat sekitar.
Bahan bakar limbah
Berbagai inovasi terkait efisiensi terus didorong Semen Gresik. Kesemuanya bermuara pada spirit keberlanjutan lingkungan. Jika mengupas soal proses produksi, tak lepas dari ketergantungan akan bahan baku dan bahan bakar.
Pemanfaatan limbah industri seperti cooper slag, fly ash, cement retarder mampu menjadi bahan baku substitusi menggantikan pasir besi, pasir silika, dan gipsum alam. Sementara itu pengembangan bahan baku alternatif (BBA) sendiri telah dilakukan Semen Gresik sejak tahun 2008 lalu.
Kepala Biro Pengembangan Produk dan Aplikasi PT Semen Gresik, Tri Edy Susanto mengatakan, pengembangan BBA bukan semata-mata untuk menurunkan pemakaian batubara yang notabene merupakan bahan bakar utama. Tetapi, juga sebagai partisipasi perusahaan dalam ikut serta meminimalisasi pencemaran lingkungan terkait dengan emisi gas yang dikeluarkan, meskipun secara teknis emisi gas yang dikeluarkan pabrik semen sangatlah rendah. BBA limbah atau biomasa itu dipilih karena emisi yang dikeluarkan tidak ada kandungan CO2-nya," tambah Eko.
Saat ini, BBA biomasa yang dipakai SG selain sekam padi, janggel jagung, jerami, kulit kacang dari hasil pertanian, juga memakai reject tembakau dari perusahaan rokok. Diyakini, ash tobacco memiliki kadar kalorinya cukup tinggi.
Pihaknya bersyukur bahwa pasokan biomasa tersebut tidak mengalami kendala, mengingat semua bahan tersebut didapat cukup mudah, yakni dari masyarakat sekitar yang notabene daerah pertanian. "Meski demikian, kita tetap menjalin kerjasama dengan sejumlah industri rokok untuk limbah reject tembakaunya," ungkap Tri saat media plant tour beberapa waktu lalu.
Di luar dugaan, BBA cukup mampu menekan konsumsi batubara hingga 2,5 persen. Dipaparkannya, saat ini rata-rata kebutuhan batubara di Semen Gresik mencapai 6.000 ton per hari. Menariknya, batubara yang digunakan adalah kadar kalori rendah.
Efisiensi pada produksi
Berbagai upaya dilakukan Semen Gresik guna menjalankan komitmen perusahaan yang ramah lingkungan selain mampu melakukan efisiensi di semua sektor. Bukan hanya pada bahan bakar alternatif saja, namun dala proses produksi pun langkah-langkah efisiensi dan ramah lingkungan tetap dijalankan.
Salah satunya adalah teknologi burner, yang sebetulnya merupakan rekayasa dari mesin produksi dengan menggunakan tiga jenis bahan bakar seperti yang dipaparkan di atas. Kepala Departemen Produksi Semen Gresik, Eko Rudi Nurcahyanto menuturkan, dalam teknologi burner tersebut, penggunaan bahan bakar produksi semen bisa disesuaikan mulai bahan bakar solar atau diesel, batubara atau bahan bakar alternatif biomasa.
"Kita juga menerapkan variable speed drives (VSD), dimana sistem ini memungkinkan penggunaan fan dengan kecepatan yang konstan yang disesuaikan dengan jumlah kebutuhan udara. Ini terbukti mampu menghemat konsumsi listrik," ungkap Eko.
Upaya lain yang dilakukan adalah dengan membenamkan konsep vertical cement mill, dimana laju mesin produksi lebih ringan, dimana mampu menghemat konsumsi listrik hingga 3-5 KwH per ton semen. "Konsep ini akhirnya diikuti oleh produsen semen yang lain, seperti Baturaja, Holcim, serta Indocement," beber dia.
Tak hanya itu, rekayasa-rekayasa lainnya juga diterapkan di sejumlah komponen produksi yang dianggap cukup memakan energi listrik, seperti cooling tower dengan konsep close circulation, juga dengan teknik low pressure drop preheater.
Sementara untuk keberlanjutan upaya tersebut, pihaknya secara rutin melakukan pemantauan terhadap emisi udara cerobong pabrik, kualitas ambient, tingkat kebisingan lingkungan, konsentrasi debu area pabrik, iklim kerja, kualitas air buangan, serta pemantauan keberadaan air bawah tanah.
Menurutnya, pemeriksaan atas parameter Baku Mutu Lingkungan (BML) rutin dilakukan dilakukan baik oleh internal perusahaan maupun badan independen yang berkompeten. Sementara itu jika mengacu data pemantauan yang telah dilakukan pada 2011, untuk emisi cerobong yang parameter lingkungannya seperti nitrogen dioksida rata-rata hanya 23,15 jauh di bawah baku mutunya yang mencapai 1.000 mikrogram/meter kubik, sulfur dioksida hasil pengukurannya rata-rata 1,79 dan baku mutunya 800 mikrogram/meter kubik, partikulat debu hasil pengukurannya rata-rata 14,66 dan baku mutunya 80 mikrogram /meter kubik.
"Paling tidak setiap tiga bulan sekali petugas dari Departemen Kesehatan melakukan pengecekan terhadap kondisi pabrik termasuk asap dan debu," jelas Tri.
Serap debu dengan electrostatic precipitator
Selama ini, industri semen identik dengan polusi debu. Maklum, bahan baku seperti tanah liat, pasir besi, silika, gypsum, dan sebagainya merupakan bahan baku utama semen. Namun sebagai wujud atas komitmen sebagai industri hijau, pengendalian pencemaran udara dan air dari limbah produksi telah diantisipasi Semen Gresik.
Tri Edy Susanto memaparkan, sebagai industri semen, tentunya pihakinya tidak akan membuang debu sembarangan, karena hal itu sama dengan membuang semen dengan sia-sia.
Untuk itu, guna menyerap kemungkinan debu yang terbuang saat proses produksi, pihaknya memasang fasilitas atau peralatan seperti electrostatic precipitator (EP), dust collector, cyclone, conditioning tower dan bag house filter. Selain itu, pihaknya juga menyediakan buffer zone, melakukan penanaman pohon pada area green belt disekitar pabrik yang berfungsi untuk mengurangi pencemaran udara.
"Ada tiga unit E yang kami pasang di sini. Sebetulnya debu tersebut adalah gas yang tidak boleh dibuang, jadi jenisnya adalah electron," paparnya.
Bagaimana efektivitas peralatan tersebut untuk menyerap debu yang keluar, Tri memastikan bahwa EP tersebut mampu menyerap hingga 99,9 persen debu. Padahal, dari bahan semen yang diproduksi dalam mesin pabrik, potensi kehilangannya sekitar 7 persen.
"Atau kalau dibuat rata-rata sekitar 35-40 ton bahan semen yang terbuang setiap jamnya. Bayangkan jika tidak ada EP. Dan hasil serapan EP tersebut dikembalikan untuk diproduksi lagi," ulas Tri.
Diakuinya, teknologi semacam itu banyak diterapkan di negara-negara maju. Di Jepang misalnya, beberapa pabrik semen dibangun amat dekat dengan permukiman penduduk. Dengan teknologi itu, polusi debu dan gas SO2 tak mengganggu kesehatan warga sekitar.
Program sabuk hijau
Sebagai upaya mewujudkan Undang-undang Nomor 39 tahun 2009 tentang lingkungan, Semen Gresik terus mengupayakan pengelolaan lingkungan serta sinergitas dengan masyarakat di sekitar pabrik. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya pencemaran akibat operasional pabrik dan menjamin keberlanjutan lingkungan.
Upaya yang dilakukan Semen Gresik, selain pencegahan pencemaran dan polusi seperti yang telah dilakukan di dalam areal pabrik di atas, juga dengan melakukan reklamasi lahan pasca penambangan, penghijauan dan pengolahan limbah.
Kepala Departemen Produksi PT Semen Gresik Tbk, Eko Rudy Nurcahyanto mengatakan, program reklamasi itu telah dilakukan bekas tambang di Gresik, dimana bekas lahan tambang tanah liat di Ngipik dimanfaatkan untuk sumber air dan sarana hiburan.
"Sedang bekas lahan tambang batu kapur disulap menjadi perumahan, perkantoran dan industri, juga pertanian dan tempat usaha," ulas Eko.
Di luar lahan sabuk hijau, penghijauan juga terlihat di bekas areal tambang. Setidaknya ada 26 hektar lahan pascatambang yang di atasnya telah disulap menjadi hutan jati dan mahoni. "Lahan pascatambang ini kami reklamasi, keanekaragaman hayati di atasnya dikembalikan sepeti sedia kala, bahkan lebih baik, karena sebelum ditambang kondisinya sudah gundul," papar Eko.
Lahan yang sudah direklamasi tersebut merupakan tambang batu kapur pertama di SG Tuban. Lahan itu ditambang sejak pabrik SG memulai operasinya, 1994 silam. Setelah berjalan kurang lebih sepuluh tahun, penambangan itu dihentikan. "Aturannya, kalau sudah sampai 32 mdpl (meter di atas permukaan laut), harus dihentikan, kemudian direklamasi," ucapnya.
Sementara untuk penghijauan, lanjut dia, program yang dilakukan adalah dengan mengelola konsep sabuk hijau (green belt) dan green barrier dengan cara kemitraan bersama warga di sekitar pabrik, juga pembuatan hutan kota di Tuban, serta penanaman 300.000 biit pohon pada 2008-2009 lalu.
Terkait program sabuk hijau, pihaknya melibatkan sekitar 400 petani penggarap yang merupakan warga di Kecamatan Kerek dan Merakurak Kabupaten Tuban. Masing-masing berhak menggarap lahan seluas 40x50 meter. Total luas lahan yang digarap adalah mengelilingi areal pabrik seluas sekitar 800 hektare. Atau jika disimpulkan, lahan yang digarap petani mencapai 50 meter x 4 kilometer.
"Green belt itu penyangga kelestarian lingkungan pabrik. Jadi selama pabrik masih eksis, green belt akan ada, dan petani bisa menggarapnya hingga turun temurun," jelas Eko.
Kepala Bidang Pembinaan Masyarakat Tambang, Biro Bina Lingkungan PT Semen Gresik Tbk, Kusniadi menuturkan, program kemitraan sabuk hijau tersebut telah berlangsung sejak tahun 1996. Masyarakat diberi hak untuk menggarap lahan di sekitar tambang tersebut secara gratis sampai kapan pun.
"Terserah mereka mau menanam apa, mulai palawija, sayuran, buah-buahan dan sebagainya. Kita membantu bibit dan pengelolaan tanaman pereduh atau tanaman keras, termasuk penyediaan bibit dan pupuk tanaman," ungkap Kusniadi.
Tak bisa dipungkiri, dengan adanya sistem bottom up tersebut, Semen Gresik mampu mewujudkan program yang berkelanjutan dengan partisipasi masyarakat yang bekerjasama dan dukungan dari pihak perusahaan dan pemerintah setempat.
Berbuah penghargaan
Meski bukan tujuan utama, namun upaya pengelolaan lingkungan yang dilakukan PT Semen Gresik tersebut berbuah pada sejumlah penghargaan. Bahkan selama empat tahun berturut-turut sejak 2008 lalu Semen Gresik berhasil meraih penghargaan Proper Hijau dari Kementerian Negara Lingkungan Hidup. Proper (Program Penilaian Peringkat Pengelolaan Lingkungan) hijau merupakan penghargaan untuk mengukur tingkat ketaatan perusahaan berdasarkan peraturan yang berlaku yang terbagi atas tujuh kategori, yaitu emas, hijau, biru, merah, merah minus, dan hitam.
"Dan tahun ini kami menargetkan bisa meraih level emas," ujar Eko Rudy Nurcahyanto.
Tak hanya itu, PT Semen Gresik juga mendapatkan penghargaan Green Industry dari Kementerian Perindustrian dan penghargaan Indonesia Green Award 2011 dari Majalah Bisnis dan CSR.
Komitmen lingkungan Semen Gresik juga tercermin dengan masuknya saham perseroan dalam indeks SRI-Kehati di Bursa Efek Indonesia (BEI). Indeks Sri-Kehati adalah jajaran 25 saham dari perusahaan-perusahaan yang dinilai mempunyai komitmen tinggi terhadap keberlanjutan lingkungan. Dari sekitar 440 perusahaan yang tercatat di lantai bursa tanah air, hanya dipilih 25 perusahaan yang layak masuk indeks Sri-Kehati.
Dengan kenyataan itu, bisa disimpulkan bahwa industri apapun bisa melakukan hal yang sama. Misi yang dulunya mungkin hanya sekadar obsesi, terbukti bahwa misi itu bukan lagi impossible. kbc7
- Nilai tukar rupiah terhadap USD hari ini Rp 9750.00
- Indeks Harga Saham Gabungan hari ini +83.4 menjadi 5229.083
- Pilihan Editor: Ingin dapat kredit, datangi Bank dan UMKM Expo di Surabaya
- Harga rumah tipe 36 ke bawah alami lonjakan kenaikan
- The Great Gatsby, sebuah film yang digarap bukan setengah-setengah
- Pasang foto tanpa izin, Rihanna tuntut Topshop US$5 juta
- Olympus tak lagi bermain di pasar kamera murahan
- Kecewa layanan jasa keuangan, lakukan hal ini ke OJK
- Waduh, uang rusak di Jatim capai Rp1,67 triliun
- Pasar properti sejumlah negara Asia bermasalah, RI lampu kuning?
- OJK masih kaji pemecahan lot saham jadi 100 lembar
- Pemerintah minta bank permudah kredit industri kreatif
- Tanam duit Rp2,1 T, produksi Daihatsu bakal tembus 460.000
- Bangun pabrik di RI, VW berburu pemasok komponen lokal
- Industri kulit dan alas kaki Jatim mulai menggeliat
- Dahlan klaim sejak 2012 PD di Jatim cetak untung
- Agar eksis, industri tekstil RI harus incar segmen atas
- Indonesia berpeluang jadi basis industri oleokimia
- Pelindo III-AKR bangun kawasan industri di Gresik
- Lima sektor industri ini bakal nikmati tax holiday
- Pabrik rokok keluarga siap-siap dibebani cukai tinggi
- Indonesia berpeluang jadi basis industri oleokimia
- Incar tambahan produksi 2,5 juta ton, Indocement kebut dua pabrik baru
- Agar eksis, industri tekstil RI harus incar segmen atas
- Pelindo III-AKR bangun kawasan industri di Gresik
- Pemerintah dorong penggunaan furnitur rotan di instansi dan sekolah
- Bangun pabrik di RI, VW berburu pemasok komponen lokal
