Karpet merah untuk beras impor

Berita Terkait
DI TENGAH tantangan perubahan iklim dan tergerusnya lahan, kinerja sektor pertanian tahun ini tampaknya cukup bagus dibanding tahun lalu. Hingga akhir 2012, produksi beras nasional diprediksi bakal naik 4,3% dan mengalami surplus sekitar 5 juta ton beras. Meski demikian, peluang impor beras masih terbuka.
Perum Bulog menilai, surplus tersebut belum cukup untuk menunjang ketahanan pangan nasional. Impor beras masih dimungkinkan mengingat besaran surplus tersebut dipercaya belum menempatkan Indonesia dalam keadaan aman pangan.
Hingga hari ini, tercatat stok beras di Bulog secara nasional mencukupi untuk 8,5 bulan ke depan atau sampai Maret 2013. Stok tersebut tersebar di 1.751 unit gudang milik Bulog yang ada di seluruh Indonesia.
"Persoalannya, impor sangat berbeda dengan ketersediaan beras di Bulog. Pemerintah tidak akan mengambil risiko tajamnya musim paceklik yang mungkin bakal terjadi hingga Maret. Dalam rangka pengamanan stok cadangan tidak kurang, pemerintah bisa saja mengimpor. Bahkan, pemerintah yang baik juga akan berhitung dengan kondisi pada 2013. Karena posisi stok kita ini pes-pasan," ujar Direktur Utama Perum Bulog Sutarto Alimoeso.
Sutarto mengingatkan pengaruh iklim dan hama yang bisa mengacaukan produksi beras. "Negara sebesar ini dengan banyaknya kepulauan, memang yang paling aman, stok yang dimiliki dalam tiap waktu itu ya sekitar 6 bulan, kalau hanya 3 bulan saya rasa tidak cukup aman," tegasnya.
Dengan kondisi surplus beras nasional 2012 yang diperkirakan mencapai 5 juta ton, menurutnya itu tidak cukup aman bagi ketahanan pangan Indonesia yang memiliki jumlah penduduk sebesar 240 juta orang.
"Kalau surplus beras kita sudah mencapai 10 juta ton, itu baru aman. Gangguan iklim, elnino, hama tidak akan berpengaruh. Harga akan tetap stabil walaupun produksi sedikit terkendala. Dan ini kita targetkan terlaksana di 2014," ujarnya.
Terkait pengadaan beras tahun ini, Sutarto mengatakan, sudah mencapai 2,4 juta ton. Hingga akhir 2012, pengadaan diterget mencapai 3 juta ton beras. Untuk mencapainya, Bulog telah melaksanakan empat strategi.
Pertama, strategi dorong tarik pemda dengan memaksimalkan penyuluh yang ada untuk menggaet petani agar mau menjual beras mereka ke Bulog. Kedua, strategi jaringan semut dengan merekrut Gapoktan hingga penggilingan kecil untuk bermitra dan menjual beras mereka ke Bulog. Ketiga, pemberian insentif dan terakhir dengan turun langsung melakukan penanaman (on farm) melalui kerjasama dengan petani. kbc6
- Nilai tukar rupiah terhadap USD hari ini Rp 9757.00
- Indeks Harga Saham Gabungan hari ini +67.005 menjadi 5145.683
- Pilihan Editor: Ingin dapat kredit, datangi Bank dan UMKM Expo di Surabaya
- The Great Gatsby, sebuah film yang digarap bukan setengah-setengah
- Pasang foto tanpa izin, Rihanna tuntut Topshop US$5 juta
- Olympus tak lagi bermain di pasar kamera murahan
- Kecewa layanan jasa keuangan, lakukan hal ini ke OJK
- Waduh, uang rusak di Jatim capai Rp1,67 triliun
- Pasar properti sejumlah negara Asia bermasalah, RI lampu kuning?
- OJK masih kaji pemecahan lot saham jadi 100 lembar
- Ungguli rata-rata nasional, tata kelola Provinsi Jatim dinilai cemerlang
- Serbuan produk China, bagaikan air bah
- Ketidaknyamanan Bandara Soekarno Hatta makin memprihatinkan
- Resistensi pariwisata Indonesia melegakan
- Benahi kinerja, Merpati masih dirongrong orang dalam
- Surabaya banjir apartemen
- Perseteruan KPK-Polri ganggu perekonomian
- Petani Minahasa Selatan Tolak tambang emas
- Adu kuat operator telekomunikasi di Jatim, siapa bakal tersungkur?
- Makin membahana, saatnya atur e-commerce
- Menanti dukungan pemerintah ke kontraktor lokal
- Menanti skim pembiayaan untuk sektor pertanian
- Tergusurnya potensi diversifikasi produk pangan lokal
- Aturan pembatasan BBM bikin buram industri logistik
- Awas, Robert Tantular bisa comeback acak-acak Bank Mutiara
- Menanti jurus OJK redam investasi bodong
- Asa baru peningkatan produksi kedelai
