loading...

Bangkrut 2007, omset Uswatun kini Rp2,4 miliar

Online: Kamis, 19 Juli 2012 | 13:12 wib ET

TUBAN, kabarbisnis.com: Sempat bangkrut pada 2007, Uswatun Hasanah kini mampu membukukan omset minimal Rp200 juta per bulan atau Rp2,4 miliar per tahun. Ogah putus asa menjadi kunci keberhasilan pemilik usaha batik gedog khas Tuban, Jawa Timur, tersebut.

Uswatun bercerita, usaha batik "Sekar Ayu" yang dikembangkannya itu limbung pada 2007. Penyebabnya Bom Bali II yang terjadi pada 1 Oktober 2005. Setelah bom yang menewaskan 23 orang di kawasan Kuta dan Jimbaran itu, pembayaran dari pembeli di Bali mulai seret. Maklum, kegiatan pariwisata di Pulau Dewata itu praktis lumpuh. Wisatawan takut teror berlanjut.

"Padahal, Bali adalah pasar utama saya. Sedikitnya 40% produksi saya tersedot untuk pasar Bali," kisah Uswatun.

Sempat bertahan tertatih-tatih selama dua tahun pasca-Bom Bali II tersebut, Uswatun akhirnya benar-benar limbung pada 2007. "Saya angkat tangan. Pembayaran macet semua," ujarnya.

Padahal, Uswatun harus mencicil angsuran pinjaman ke PT Semen Gresik Tbk yang memberinya bantuan modal dalam Program Kemitraan. Uswatun yang tak pernah telat mencicil angsuran merasa sangat malu. Uswatun pun merumahkan para karyawannya. "Akhirnya saya beranikan menghubungi pihak Semen Gresik, saya jelaskan apa-adanya, saya tunjukkan nota-nota yang macet. Alhamdulillah, saya justru diberi uluran tangan untuk bangkit lagi. Saya malah disemangati untuk tidak menyerah," ujarnya.

Praktis tak lagi punya modal untuk kembali bangkit, Uswatun ditawari pinjaman khusus dari Semen Gresik sebesar Rp150 juta. "Saya kembali tertantang untuk bangkit. Saya kumpulkan keberanian diri. Saya berpikir, jatuh dalam bisnis itu biasa, tapi yang luar biasa adalah bagaimana kita bisa bangkit," ujarnya bersemangat.

Kini, Uswatun memetik buah semangat pantang menyerahnya. Omset bulanannya mencapai Rp200 juta atau Rp2,4 miliar per tahun. Tenaga kerjanya mencapai 300 orang. "Sebagian besar saya ambil dari tetangga sekitar. Mereka memproses pengerjaan batik di rumahnya masing-masing. Saya senang bisa berbagi," ujar Uswatun yang lokasi usaha berada di Desa Kedungrejo, Kecamatan Kerek, Tuban.

Batik "Sekar Ayu" dari Uswatun ini bermula dari usaha rumahan sang nenek pada 1984 dengan mempekerjakan sepuluh orang. Dari sang nenek, Uswatun menguasai teknik pewarnaan batik secara alami. Namun, Uswatun ogah puas. Dia kemudian belajar pewarnaan kimiawi selama lima bulan lewat pendidikan semi-formal.

Saat itu, produksi batik masih sebatas kaus. Pelan tapi pasti kini berkembang menjadi kain, selendang, dan beragam pernik busana lainnya. Produksinya per pekan mencapai 400 potong dalam beragam bentuk. "Harga produk mulai Rp100.000 sampai Rp2 juta," ujarnya.

Pada 2000, agar bisnisnya terus mekar, Uswatun memberanikan diri mengajukan pinjaman ke Semen Gresik sebesar Rp25 juta. "Pemasaran produk ini semakin luas setelah saya sering diajak pameran oleh Semen Gresik ke berbagai kota, mulai Surabaya, Bali, Yogyakarta, Jakarta, hingga Batam."

Tak mau berpuas diri, Uswatun terus berinovasi. Dia mengembangkan sekira 200 motif batik dengan mengadopsi buah dan tanaman lokal, seperti kates gantung (pepaya gantung) dan dangkel sungsang (bunga cempaka). kbc5

Bagikan artikel ini kepada kerabat anda