Tahun depan, PT Garam mulai produksi di NTT
SURABAYA, kabarbisnis.com: PT Garam (Persero) menargetkan pada tahun 2013 sudah bisa melakukan panen perdana garam di Teluk Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), seiring pembukaan lahan pertanian garam seluas kurang lebih 7.000 hektare di provinsi tersebut.
Finance and Marketing Director PT Garam, Yulian Lintang mengatakan, tahun ini proses perencanaan desain (detailed engineering design/DED) untuk proyek tersebut sudah dilakukan.
Saat ini kami sedang melakukan proses DED di NTT untuk ekspansi lahan baru. Awal tahun depan ditargetkan pekerjaan konstruksi sipil mulai bisa dilakukan dan pada akhir 2013 sudah bisa berproduksi minimal separuh dari target, ujarnya di sela penandatanganan kerjasama pembiayaan untuk petani garam antara PT Garam dengan PT Bank mandiri Tbk di Kantor Cabang PT Garam, Senin (9/7/2012).
Investasi awal untuk proyek pengembangan teluk Kupang sebagai sentra penghasil garam tersebut diperkirakan mencapai Rp 500 miliar dengan proyeksi kapasitas produksi mencapai 400.000 ton per tahun.
Ia menambahkan, dari 7.000 hekatar lahan yang akan dikembangkan di NTT, hanya 5.000 hektare akan dikelola oleh PT Garam. Sisanya yang 2000 hektare dikelola akan mejadi lahan pertanian garam rakyat.
Untuk lahannya akan disediakan oleh pemerintah daerah NTT, imbuhnya.
Dengan beroperasinya lahan pertanian garam di NTT tersebut, diharapkan bisa menutupi kebutuhan garam konsumsi di dalam negeri yang saat ini masih harus diimpor dari India dan Australia.
Saat ini Kebutuhan garam nasional mencapai sekitar 3 juta ton. Dari jumlah tersebut, sekitar 1,6 juta ton diperuntukkan keperluan industri, dan sisanya sekitar 1,4 juta ton merupakan kebutuhan garam untuk konsumsi domestik.
Dari kebutuhan untuk konsumsi domestik sebesar 1,4 juta ton tersebut, baru 1,1 juta ton yang bisa dipenuhi dari dalam negeri, sisanya masih masur impor. Dengan kapasitas produksi 400 ribu ton di NTT nantinya Indonesia sudah tidak perlu lagi melakukan impor untuk kebutuhan konusmsi domestik, kata Yulian. kbc8
- Nilai tukar rupiah terhadap USD hari ini Rp 9775.00
- Indeks Harga Saham Gabungan hari ini +33.69 menjadi 5155.093
- Pilihan Editor: Terdesak impor, Kadin-KPPI gencar sosialisasi safeguards di Jatim
- Roy Suryo dukung Banyuwangi pacu wisata melalui kompetisi olahraga
- Praktik kartel bikin bunga bank di RI tertinggi se-Asean?
- Jabat Gubernur BI, Agus Marto bersumpah tak akan terima suap
- Unesa ambisi jadi pusat litbang industri batik Nusantara
- Pensiunan ini rutin beli Jaguar lima kali dalam setahun
- Pensiun, Beckham gandeng bos Manchester City beli tim MLS?
- Rambah bisnis ponsel, Jennifer Lopez gaet Verizon
- Awas informasi pribadi Anda disalahgunakan situs belanja online
- Ini dia 18 komoditas yang kembali diliberalisasikan
- Masuki musim giling, petani desak HPP Gula Rp 9.800/kg
- Produksi Pabrik Gula Gempolkrep ditarget naik 21%
- Liberalisasi ekonomi terbukti lemahkan sektor agribisnis
- Impor bibit induk ayam pedaging segera dekati 1 juta ekor
- Monsanto incar produksi benih jagung 10.400 ton
- Petani minta HPP Gula dekati biaya riil
- Pembangunan pertanian tumpul, kemiskinan di desa sulit diturunkan
- Mentan janji harga daging bakal di kisaran Rp 76.000
- Main-main, Dahlan ancam cabut izin impor kedelai Bulog
- Kini, salak dan sarang walet RI bisa bebas masuk pasar China
- Revitalisasi tambak udang tahap dua dimulai September
- Pemerintah perkuat sinergitas hulu hilir perikanan
- UKM sektor perikanan butuh banyak pendampingan
- Pendapatan rendah, rakyat jarang beli buah-buahan
- PTPN VIII jadi jagoan genjot produksi buah tropis
