loading...

Tahun depan, PT Garam mulai produksi di NTT

Online: Senin, 09 Juli 2012 | 19:22 wib ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: PT Garam (Persero) menargetkan pada tahun 2013 sudah bisa melakukan panen perdana garam di Teluk Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), seiring pembukaan lahan pertanian garam seluas kurang lebih 7.000 hektare di provinsi tersebut.

Finance and Marketing Director PT Garam, Yulian Lintang mengatakan, tahun ini proses perencanaan desain (detailed engineering design/DED) untuk proyek tersebut sudah dilakukan.

“Saat ini kami sedang melakukan proses DED di NTT untuk ekspansi lahan baru. Awal tahun depan ditargetkan pekerjaan konstruksi sipil mulai bisa dilakukan dan pada akhir 2013 sudah bisa berproduksi minimal separuh dari target,” ujarnya di sela penandatanganan kerjasama pembiayaan untuk petani garam antara PT Garam dengan PT Bank mandiri Tbk di Kantor Cabang PT Garam, Senin (9/7/2012).

Investasi awal untuk proyek pengembangan teluk Kupang sebagai sentra penghasil garam tersebut diperkirakan mencapai Rp 500 miliar dengan proyeksi kapasitas produksi mencapai 400.000 ton per tahun.

Ia menambahkan, dari 7.000 hekatar lahan yang akan dikembangkan di NTT, hanya 5.000 hektare akan dikelola oleh PT Garam. Sisanya yang 2000 hektare dikelola akan mejadi lahan pertanian garam rakyat.

“Untuk lahannya akan disediakan oleh pemerintah daerah NTT,” imbuhnya.

Dengan beroperasinya lahan pertanian garam di NTT tersebut, diharapkan bisa menutupi kebutuhan garam konsumsi di dalam negeri yang saat ini masih harus diimpor dari India dan Australia.

Saat ini Kebutuhan garam nasional mencapai sekitar 3 juta ton. Dari jumlah tersebut, sekitar 1,6 juta ton diperuntukkan keperluan industri, dan sisanya sekitar 1,4 juta ton merupakan kebutuhan garam untuk konsumsi domestik.

Dari kebutuhan untuk konsumsi domestik sebesar 1,4 juta ton tersebut, baru 1,1 juta ton yang bisa dipenuhi dari dalam negeri, sisanya masih masur impor. “Dengan kapasitas produksi 400 ribu ton di NTT nantinya Indonesia sudah tidak perlu lagi melakukan impor untuk kebutuhan konusmsi domestik,” kata Yulian. kbc8

Bagikan artikel ini kepada kerabat anda