loading...

Di Rusia, spa Bali kalahkan Shiatsu

Online: Minggu, 08 Juli 2012 | 09:34 wib ET

MOSKWA, kabarbisnis.com: Perawatan tubuh dan seni pijat khas Bali sangat populer di Rusia, dan orang-orang di negeri Beruang Putih itu menggemarinya hingga rela mengeluarkan uang 100 sampai 400 dolar AS sekadar untuk menikmatinya.

"SPA Bali lagi 'nge-trend' di Rusia mengalahkan popularitas seni pijat bangsa lain seperti 'shiatsu'," kata Dubes RI di Rusia Djauhari Oratmangun saat menjamu delegasi Indonesia pada "World Media Summit" di Kafe Mania, Moskwa, akhir pekan lalu, yang juga menyajikan sajian makanan dan minuman beraroma Indonesia, diataranya kue Raja Ampat dan wedang jahe.

Dubes mengatakan, warga Rusia yang memadati kafe dekat dengan Kremlin itu umumnya sudah pernah ke Bali dan Raja Ampat, Papua, atau minimal sudah mengenal Indonesia baik tradisinya, kuliner, seni budaya, termasuk seni pijat khas Bali.

Saat ini, menurut Djauhari, ada lebih dari 400 pekerja SPA Bali di Rusia yang tersebar di kota-kota besar seperti Moskwa, St.Petersburg, dan Vladivostok. Industri SPA Bali di Rusia berkembang sejak sekitar lima tahun lalu dan makin banyak wanita Indonesia yang bekerja di sektor pariwisata ini.

"Ini pijat beneran lho, bukan yang lain-lain," ujar Dubes, buru-buru menjelaskan.

Para pekerja SPA Bali didatangkan ke Rusia secara resmi oleh perusahaan Sim Krasok memalui perizinan yang berkoordinasi antara Kementerian Tenaga Kerja dan Kementerian Pariwisata dan Industri Kreatif. SPA Bali dipromosikan besar-besaran oleh perusahaan tersebut di berbagai media seperti majalah, koran dan televisi.

Bahkan di Bandara Internasional Demodevodo banyak iklan luar ruang yang bergambar wanita cantik Bali dan menjanjikan kebugaran dengan pijatan khas tradisional wanita dari Timur.

Menteri Pemberdayaan Perempuan Linda Agum Gumelar pekan lalu sempat bertemu dengan para wanita Indonesia yang bekerja di sektor industri wisata tersebut di KBRI.

"Ibu menteri sangat mendukung berkembangnya SPA Bali di Rusia dan berpesan kepada para pekerja di sektor ini agar tetap menjaga nama baik Indonesia," papar Dubes Djauhari.

Kabid Penerangan KBRI Moskwa M Aji Surya menambahkan, para pekerja Indonesia itu umumnya bahagia dan sejahtera karena mereka dilindungi oleh aturan resmi dan KBRI terus memantau keberadaan mereka. Setiap tanggal 17 Agustus, saat Indonesia merayakan hari kemerdekaan, perusahaan meliburkan pekerjanya.

"KBRI jadi ramai oleh mereka. Setelah upacara bendera, kita makan bersama," tutur Aji Surya.

Yang unik, lanjut Aji, saat sejumlah diplomat atau lokal staf belum memiliki peralatan komunikasi canggih seperti Ipad atau Blackberry, para pekerja SPA Bali sudah menenteng dan menggunakannya. "Mereka tampak makmur dan gemar kirim uang hasil kerjanya ke Indonesia," cerita Aji Surya. kbc10

Bagikan artikel ini kepada kerabat anda