loading...
Kategori
EnergiMigas

Gara-gara warga sering demo, kinerja hulu migas terhambat

Online: Senin, 02 Juli 2012 | 12:22 wib ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Masih tingginya tingkat resistensi masyarakat terhadap pekerjaan hulu migas memicu kekhawatiran pemangku kebijakan, khususnya Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (BP Migas).

Warga sering melakukan demo dan perusakan sejumlah fasilitas yang ada. Padahal pekerjaan hulu migas tersebut ke depannya pasti akan menyebabkan roda perekonomian daerah yang bersangkutan menjadi lebih terpacu.

"Ini yang sangat kami sesalkan. Padahal keberadaa proyek hulu migas di seluruh wilayah Jatim akan memberikan dampak positif terhadap kinerja ekonomi daerah tersebut," ujar Kepala BP Migas Perwakilan Jawa, Bali dan Nusatenggara, Elan Budiantoro, di Surabaya, Minggu malam (1/7/2012).

Seperti kasus yang terjadi dalam beberapa pekan lalu di sumur ENC-1 PT EML Desa Tanjung, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep yang dikelola PT Energi Mineral Langgeng (EML) yang didemo masyarakat. Sehingga proses eksplorasi terpaksa dihentikan sejak tanggal 21 Juni hingga hari ini.

"Selain akan mengganggu dan memperlambat penemuan cadangan migas baru, hal ini juga akan mengakibatkan investor yang akan masuk menjadi enggan," tegasnya.

Khusus untuk kasus EML, BP Migas bersama pemerintah daerah setempat, masyarakat serta pihak EML sudah membuat kesepakatan. Rencananya hari ini sumur akan segera dibuka sehingga pekerjaan eksporasi bisa dilaksanakan kembali.

"Sebenarnya tidak hanya itu, karena kejadian ini dan beberapa kasus yang sama yang terjadi di berbagai kilang di Sumenep menunjukkan bahwa pemahaman masyarakat terhadap proyek hulu migas sangat minim dan perlu penanganan serius dan berkelanjutan," terangnya.

Penurut Elan, sosialisasi sebenarnya sudah dan terus dilakukan oleh BP Migas, namun kadang ada beberapa elit masyarakat yang memberikan informasi tidak benar yang memicu kemarahan dan ketidakpuasan warga.

Elan juga meminta pemda setempat untuk turun tangan dalam melakukan sosialisasi dan membantu menyelesaikan kasus yang seringkali terjadi karena ini untuk kebaikan bersama. "Harusnya pemda juga bergerak untuk menyelesaikannya. Karena proyek ini juga berkontribusi terhadap pergerakan roda perekonomian daerah tersebut," terangnya.

Hal yang sama juga diutarakan oleh Kepala Dinas Humas dan Kelembagaan BP Migas, Rinto Pudyantoro bahwa kehadiran proyek hulu migas di satu daerah akan menjadi penggerak ekonomi daerah tersebut. "Seperti kasus tutupnya kilang pangkalan Brandan di Sumatra Utara mengakibatkan daerah tersebut menjadi kota mati," ujar Rinto. kbc6

Bagikan artikel ini kepada kerabat anda