Pemda ikut andil krisis beras dalam negeri
Berita Terkait
- Kepemilikan lahan kecil, alasan bank ogah beri kredit ke petani
- Setiap tahun, 100.000 lahan produktif beralih fungsi
- Harga BBM naik, jatah beras untuk rakyat miskin dilipatgandakan
- Pemerintah janji 50% dana KUR buat sektor pertanian
- Jika kekurangan, Indonesia siap beli beras 500.000 ton dari Myanmar
+ lebih banyak
LAMPUNG, kabarbisnis.com: Pemerintah daerah (pemda) disinyalir ikut memengaruhi kian berkurangnya sumber ketahanan pangan khususnya beras di dalam negeri. Pasalnya, banyak pemda yang terkesan membiarkan lahan pertanian kian menyempit.
Hal itu diungkapkan Menteri Pertanian Suswono di acara Kebangkitan Penyuluhan Melalui Tekad dan Kerja Keras Penyuluh Pertanian dalam Mendukung Empat Sukses Pembangunan Pertanian di Metro, Lampung, Sabtu (30/6/2012).
Menurutnya, sejatinya Indonesia merupakan negara yang kaya akan bahan pangan, sehingga tidak akan kekurangan sumber ketahanan pangan. Meski demikian, Indonesia berpotensi kekurangan bahan makanan utama, beras.
Karena itu, ia berpesan agar masyarakat tidak boleh bergantung dari impor negara lain. "Jangan alasan kekurangan bahan pangan. Kalau beras mungkin, karena ada el nino, sehingga produksi tak menentu," kata dia.
Suswono menegaskan, semua itu dapat dicapai asal masyarakat mau berusaha untuk mengembangkan sumber-sumber pangan. "Kita harus gali sumber pangan yang potensial," tambah dia.
Selain itu, Suswono juga menyoroti peran pemerintah daerah yang dinilai kurang memberikan dukungan pada industri pertanian. "Banyak pemerintah daerah yang tidak peduli terhadap lahan pertanian yang dibiarkan terlantar, ataupun tidak ditanami," jelas dia.
Padahal, pemerintah telah memberikan berbagai kemudahan guna meningkatkan produksi dan produktifitas pangan. Kemudahan tersebut, antara lain subsidi pupuk, skim kredit, jaminan akan Harga Pokok Pembelian (HPP), dan pemberian ganti rugi jika terjadi gangguan saat panen. "Dan juga dukungan dari lembaga keuangan perbankan," tukas dia. kbc10
- Nilai tukar rupiah terhadap USD hari ini Rp 9767.00
- Indeks Harga Saham Gabungan hari ini -45.942 menjadi 5162.057
- Pilihan Editor: Tren perusahaan raksasa dunia yang mengemplang pajak
- Bos Bulog berbagi kisah sukses dengan siswa SMA di Jatim
- Freeport beri beasiswa anak korban terowongan runtuh
- Berniaga.com: Investasi kami cukup untuk 5 tahun ke depan
- Pelanggan Indovision kini bisa tonton TV di tablet
- Gelar Pasar Meriah, berniaga.com temukan penjual-pembeli
- Novel Harry Potter terjual US$228 ribu
- Chatib Basri ingatkan bubble price di IHSG
- Digarap serius, potensi bisnis properti di daerah luar biasa
- Ini dia 18 komoditas yang kembali diliberalisasikan
- RI 4 besar produsen pertanian dunia, tapi kualitas jeblok
- Produksi Pabrik Gula Gempolkrep ditarget naik 21%
- Liberalisasi ekonomi terbukti lemahkan sektor agribisnis
- Masuki musim giling, petani desak HPP Gula Rp 9.800/kg
- Impor bibit induk ayam pedaging segera dekati 1 juta ekor
- Monsanto incar produksi benih jagung 10.400 ton
- Petani minta HPP Gula dekati biaya riil
- Kini, salak dan sarang walet RI bisa bebas masuk pasar China
- Revitalisasi tambak udang tahap dua dimulai September
- Pemerintah perkuat sinergitas hulu hilir perikanan
- UKM sektor perikanan butuh banyak pendampingan
- Pendapatan rendah, rakyat jarang beli buah-buahan
- PTPN VIII jadi jagoan genjot produksi buah tropis
- Cara Dahlan jadikan hortikultura RI tuan rumah di negeri sendiri
- Bangun pabrik gula di Malang, tiga investor siapkan duit Rp4 triliun
