loading...

Bos Monsanto beber strategi kuasai pasar Indonesia

Online: Kamis, 14 Juni 2012 | 05:28 wib ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Pasar benih jagung di Indonesia masih sangat potensial. Apalagi di Jawa Timur yang merupakan lumbung jagung nasional yang terbesar. Melihat besarnya pasar tersebut, salah satu pabrik rekayasa benih pertanian asal Amerika Serikat, Monsanto Indonesia, kian getol memenetrasi pasar.

Apa dan bagaimana langkah Monsanto merebut pasar benih jagung, berikut petikan wawancara kabarbisnis.com dengan Presiden Direktur Monsanto Indonesia, Chris J. Peterson.

Bisa dijelaskan, bagaimana sebenarnya kondisi pasar benih jagung di Indonesia?

Pasarnya cukup bagus. Misalnya di Jatim yang merupakan lumbung jagung nasional yang terbesar. Dengan tingkat produksi yang cukup tinggi ditunjang dengan luasnya lahan, Indonesia akan tetap menjadi pasar benih yang potensial.

Melihat besarnya pasar benih jagung, apa yang dilakukan Monsanto untuk menarik pasar tersebut?

Memang kami telah menargetkan bisa menguasai sekitar 30% pasar benih jagung di Indonesia yang mencapai 60.000 metrik ton per tahun dari posisi tahun 2011 sebesar 10%.

Apa yang telah dan akan dilaukan untuk mencapai target tersebut?

Untuk mencapainya, kami telah menyiapkan berbagai langkah. Di antaranya adalah peluncuran produk terbaru benih jagung Hibrida DK 95 dan DK 85. DK 85 adalah jenis benih jagung yang disiapkan untuk ditanam di dataran tinggi, sementara DK95 adalah jenis benih jagung yang sesuai dengan dataran rendah. Kedua jenis benih jagung tersebut bisa tahan terhadap organisme pengganggu tumbuhan seperti jamur atau pengerek tumbuhan yang biasai disebut dengan bulai.

Jika ditanam dengan cara yang benar dan baik, produktivitas kedua jenis benih jagung hibrida tersebut bisa mencapai 9 ton hingga 11 ton per hektar. Padahal kalau jenis benih jagung biasa produktivitasnya hanya mencapai 5 ton hingga 6 ton per hektar. Selain itu, kami juga rutin memberikan training kepada petani tentang agribisnis yang baik di pusat training kami, Dekalb Learning Center di Kediri, Jawa Timur.

Kenapa petani harus diberikan training tentang agribisnis yang baik?

Karena petani Indonesia saat ini memerlukan teknologi yang bisa meningkatkan produktivitas jagung mereka dengan lahan yang terbatas. Hal ini untuk meminimalisasi tingkat ketergantunagn impor jagung dari negara luar.

Tahun lalu saja, Indonesia harus melakukan impor jagung sebesar 3,2 juta ton pipilan kering untuk memenuhi kebutuhan industri. Untuk itu, petani harus didorong agar mampu meningkatkan produksi mereka melalui rekayasa genetika dan cara tanam yang baik.

Selain itu, apa lagi yang telah dilakukan?

Kami juga telah melakukan peningkatan produksi. Di tahun ini kami berupaya metingkatkan produksi hingga 90% dari total kapasitas yang terpasang. Sementara di tahun lalu produksi maki masih dikisaran 60% dari total kapasitas terpasang pabrik yang mencapai 13.000 metrik ton per tahun.

Dua tahun lalu kami juga telah menyelesaikan pembangunan pabrik manufakturing bening senilai US$40 juta di Mojokerto dan sudah beroperasi dari 2010. Dengan peningkatan kinerja ini, kami berharap bisa memenuhi kebutuhan benih untuk pasar dalam negeri, dan pasar ekspor, khususnya ke Thailand, Filipina, dan Vietnam. kbc6

Bagikan artikel ini kepada kerabat anda