loading...

Joglo Kampoeng Batik and Art, belanja sambil rekreasi

Online: Jum'at, 04 Mei 2012 | 11:02 wib ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Untuk memberikan alternatif rekreasi bagi masyarakat Jawa Timur, khususnya di wilayah Surabaya Barat, Joglo Kampoeng Batik and Art hadir di pusat perbelanjaan Golden City Mall dengan berbagai keistimewaan.

Tak hanya bisa membeli berbagai jenis batik dari berbagai daerah, di gerai tersebut pengunjung juga bisa melihat koleksi batik kuno. Ada sekitar 20 koleksi batik kuno yang dipamerkan tiap hari. Di antaranya adalah batik Nogososro asal Tuban yang sudah berumur 250 tahun, batik kraton Sumenep yang dibuat pada tahun 1899. Selain itu, ada juga batik yang diyakini bisa menyembuhkan sakit panas karena teksturnya yang sangat lembut dan terasa sangat dingin jika digunakan.

"Batik ini memang istimewa. Bisa menyembuhkan penyakit panas karena memang rasanya sangat dingin ketika ditempelkan dikulit. Ini umurnya juga sangat tua, sudah ratusan tahun. Tapi pastinya saya kurang tahu," ujar Manajer Joglo Kampoeng Batik and Art, Herminiati Erwin, saat soft opening Joglo Kampoeng Batik and Art di Golden City Mall, Surabaya, Kamis (3/5/2012).

Gerai ini terinspirasi dari keanekaragaman batik yang dimiliki Indonesia. Sehingga, gerai ini juga dilengkapi dengan koleksi dari berbagai daerah, mulai Jatim, Jawa Tengah, dan Yogyakarta. Ada pula corak batik khas Banten, Sumedang, dan Cirebon. "Kami berupaya membuat tempat ini sebagai wahana pengenalan batik yang ada di Indonesia," ujarnya.

Meskipun harga batik tulis memang mahal, untuk menyiasati agar seluruh pengunjung yang datang bisa membeli batik, mereka juga merekrut perajin batik cap yang harganya dikisaran Rp50.000 hingga Rp200.000 per potong.

"Kalau batik tulis memang harganya mahal, dari Rp200.000 hingga Rp15 juta. Tapi kami juga menyediakan batik cap untuk kelas menengah bawah yang harganya sekitar Rp50.000 hingga Rp200.000 per potong. Intinya, yang datang jangan sampai tidak bisa membeli apapun di sini," ujarnya.

Terkait jumlah stan yang ada, ia menuturkan mencapai sekitar 33 stan. Sebagian besar memang diisi oleh Usaha Kecil Menengah (UKM) batik tulis, sementara sebagian stan juga disediakan untuk berbagai kerajinan lain, seperti aksesoris dan rangkaian bunga hasil daur ulang sampah. kbc6

Bagikan artikel ini kepada kerabat anda