loading...

5 Kesalahan utama dana pendidikan anak

Online: Selasa, 01 Mei 2012 | 11:20 wib ET

SURABAYA, kabarbsinis.com: Para orang tua kerap terjebak dengan iming-iming account executive atau sales person ketika memilih produk tabungan pendidikan bagi anak-anak mereka. Kekurangtahuan mengenai detil produk menjadikan banyak orang tua justru merasa terjebak ketika dana pendidikan yang diharapkan tidak sesuai harapan di akhir periode simpanan.

Perencana keuangan Safir Senduk memberikan memaparkan lima kesalahan yang sering dilakukan orangtua dalam mempersiapkan dana pendidikan bagi anak-anak mereka. Bagi Anda para orang tua atau calon orang tua bisa diharap mencermati kesalah-kesalahan ini agar bisa mempersiapkan biaya pendidikan anaknya dengan baik.

Pertama, para orang tua mengira bahwa nilai biaya pendidikan di masa mendatang tetap sama. Tren kenaikan biaya pendidikan jauh lebih tinggi melebihi inflasi. Bahkan, di beberapa universitas dalam negeri, biaya pendidikan sudah melampaui biaya pendidikan di negara tetangga.

Kedua, para orang tua mengambil produk investasi untuk dana pendidikan dengan nilai return yang lebih kecil dari kenaikan biaya pendidikan. "Jika biaya pendidikan naiknya bisa 20% tiap tahun, mengapa kita mamaksakan diri mengambil investasi dengan return di bawah itu," ujar Safir.

Ketiga, banyak orang tua tidak sadar bahwa saat ini semakin banyak alternatif produk investasi karena terus berkembang sesuai zaman dan kebutuhan. Produk-produk investasi seperti reksadana terus bertambah seiring kebutuhan serta tren naiknya beberapa jenis komoditas yang juga berpengaruh pada produk investasi yang harus diambil.

Keempat, banyak orang tua menabung, tetapi uang tabungan itu diambil di tengah jalan. Konsistensi dalam menabung menjadi penting untuk memastikan dana pendidikan tersebut bisa bertumbuh seperti yang direncanakan.

Kelima, persiapan keuangan ini tidak diproteksi dengan asuransi. "Kemampuan menabung di bank itu diambil berdasarkan kemampuan fisik, artinya begitu kita meninggal tabungan kita hilang, sementara asuransi tidak begitu. Nah, ini yang banyak tidak dilakukan orang tua, padahal kita tidak tahu kelak apa yang akan terjadi," kata Safir. kbc8

Bagikan artikel ini kepada kerabat anda