loading...
Kategori
PerspektifHard Talk
Mode Baca
Kurs USD-IDR
7/23/2014
11.521
IHSG
7/23/2014
5.093,23
9,71 (0,19%)
Minyak Mentah
N/A
0,00
0,00 (0,00%)
Emas
N/A
0,00
0,00 (0,00%)

Revitalisasi alur barat Surabaya harga mati

Online: Kamis, 29 Maret 2012 | 10:01 wib ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Laju pertumbuhan arus barang di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, semakin meningkat. Geraknya kian terasa seiring dengan makin tingginya pertumbuhan ekonomi Jawa Timur dan Indonesia Bagian Timur.

Sebagai pintu gerbang masuknya barang untuk wilayah Indonesia Timur, seharusnya Pelabuhan Tanjung Perak kian responsif. Salah satu langkah yang dilakukan PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III adalah merevitalisasi Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS). APBS adalah ujung tombak pelayanan kepelabuhanan. Karena alur yang sempit dan tak dalam, mobilitas kapal kerap terganggu.

Strategi apa yang tengah disusun dan digarap Pelindo III? Berikut petikan wawancara kabarbisnis.com dengan Direktur Utama Pelindo III, Djarwo Surjanto.

Bisa dijelaskan, bagaimana sebenarnya kondisi APBS Tanjung Perak Surabaya saat ini?

Sebenarnya, studi awal tentang APBS ini sudah dilakukan sejak tahun 1999. Saat itu, saya masih menjabat sebagai Direktur Teknik. Studi tersebut dibantu melalui dana hibah dari Pemerintah Belanda sebesar 855.000 gulden. PT Pelindo III berkewajiban menyiapkan dana pendamping sebesar 285.000 gulden. Namun pada tahun 2002 saya dipindah ke Makassar sehingga proyek tersebut tidak bisa dilaksanakan.

Ketika kembali ke Tanjung Perak Surabaya, saya melihat proyek tersebut masih belum dilanjutkan. Saya berupaya mencari datanya ternyata pada tahun 2007 sudah ada studi tentang APBS. Dari studi tersebut diketahui ternyata kapasitas APBS hanya mencapai 27.000 gerakan kapal per tahun, sementara pada tahun 2008 realisasinya sudah mencapai 31.000 gerakan kapal per tahun. Jadi kalau kemudian mendengar ada kapal yang bersenggolan di Tanjung Perak itu karena alur sangat sempit.

Selain alur sangat sempit, juga ada pipa gas peninggalan PT Kodeco Energi Co. Ltd yang ada di bawah laut sehingga kedalaman alur menjadi sangat terbatas. Bahkan, sesuai edaran dari Adpel atau Badan Otorita Pelabuhan Tanjung Perak bahwa batas maksimum draft kapal yang bisa lewat APBS hanya 8,5 Low water Sping (LWS). Sehingga jenis Kapal General Cargo MV. Daniela Schulte DWT 93.062, misalnya, hanya bisa bermuatan 39% atau sebanyak 36.350 ton dari kapasitas muat kapal. Seementara kapal Petikemas MV. APL Minneapolis dan APL Bangkok dengan DWT 42.201 hanya mampu bermuatan 57% saja. Kondisi ini kemudian menyebabkan ekonomi biaya tinggi.

Dengan kondisi APBS yang sangat tidak kondusif, apa dampak yang ditimbulkan?

Akibatnya, kinerja Pelabuhan Tanjung Perak menjadi terkendala. Ada potensi pertumbuhan yang tidak bisa dilayani. Tak hanya itu, lambatnya kinerja pelabuhan juga akan menyebabkan pertumbuhan ekonomi Jatim dan Indonesia Bagian Timur terkendala.

Pada 2011, bagaimana kinerja Pelabuhan Tanjung Perak?

Pada 2011, arus petikemas di Tanjung Perak mengalami kenaikan sebesar 9% menjadi 2,6 juta Teus. Dengan perincian, arus petikemas internasional tumbuh sebesar 9,8% menjadi 1,2 juta Teus dan arus petikemas domestik naik 8% menjadi 1,4 juta Teus. Namun, sebenarnya ada potensi pertumbuhan yang tdiak bisa kita layani. Ini bisa dilihat dari pelabuhan pendamping seperti pelabuhan banjarmasih yang sebagian besar arus petikemasnya dari Surabaya. Sementara arus curah kering juga tumbuh 22% menjadi 8,3 juta ton dan curah cair naik 35% menjadi 2,4 juta.

Dengan kondisi alur yang cukup sempit, sementara arus barang cukup deras, apakah waktu tunggu kapal sandar di Tanjung Perak menjadi cukup lama?

Memang, waktu tunggu kapal sandar yang sudah masuk pada level zero waiting time hanya arus kapal petikemas internasional. Sementara untuk arus kapal petikemas domestik masih di kisaran 1,82 hari dari posisi sebelumnya selama 2 hari. Untuk kapal curah kering mencapai 1,5 hari dari posisi sebelumnya selama 2 hari. Bahkan, kalau pada waktu tertentu, seperti pada saat musim penghujan, waktu tunggu bisa mencapai 9 hari. Untuk kapal curah cair justru tambah lama, mencapai 3,6 hari.

Melihat kondisi tersebut, apa yang dilakukan PT Pelindo III?

Kami melihat revitalisasi APBS menjadi harga mati. Harus dilakukan. Kalau pun pemerintah pusat belum menganggarkan, kita harus cari jalan keluarnya sendiri agar kinerja semakin membaik dan perekonomian kian meningkat. Untuk itu, saya berupaya mendatangi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Petrokimia Gresik untuk kami ajak bekerja sama dalam melakukan pekerjaan revitalisasi APBS. Saya tahu, Petro sangat berkepentingan tentang alur karena kapal muatan bahan baku pupuk dari Jordania milik Petro harus melewati APBS.

Adapun ketika dalam taraf pembangunan, jelas kami tidak mengetahui bagaimana kontruksinya, maka kami juga mengajak PT Wijaya Karya Tbk (Wika) sebagai pelaksana nantinya.

Pada Juni 2010, kami menghadap ke Gubernur Jatim untuk mengajak kerjasama dengan salah satu BUMD. Dan Alhamdulillah responsnya cukup positif dan menunjuk BUMD Jatim Grha Utama untuk bekerja sama dalam pekerjaan tersebut.

Investasi yang dibutuhkan mencapai berapa dan bagaimana pembagian sahamnya dengan BUMN dan BUMD lainnya?

Perkiraan kami, pekerjaan ini akan menghabiskan dana sebesar RpUS$73,33 juta atau setara dengan Rp654,97 miliar. Kalau pembagian saham dalam pembentukan perusahaan patungan nantinya komposisi kepemilikan saham PT Pelindo III sebesar 55%, PT Petrokimia Gresik (Persero) 25%, PT Wijaya Karya (Persero) 10% dan PT Jatim Grha Utama sebesar 10%.

Kapan revitalisasi APBS mulai direalisasikan?

Kami berharap, proyek ini akan dilelangkan Agustus, karena kami juga harus menunggu pemindahan pipa gas oleh PT Pertamina Hulu Energi (PHE) West Madura Offshore (WMO). Proyek baru jalan sekitar September-Oktober. Diperkirakan akan memakan waktu satu tahun sehingga akhir 2013 atau awal 2014 alur akan menjadi lebih lebar. Rencanaya akan didalamkan menjadi 16 LWS dan dilebarkan menjadi 200 meter. kbc6

Bagikan artikel ini kepada kerabat anda