loading...
Kategori
Aneka BisnisAgribisnis
Mode Baca
Kurs USD-IDR
7/24/2014
11.615
IHSG
7/24/2014
5.098,64
5,41 (0,11%)
Minyak Mentah
N/A
0,00
0,00 (0,00%)
Emas
N/A
0,00
0,00 (0,00%)

Pemerintah ngotot kerek harga pupuk urea

Online: Minggu, 01 Januari 2012 | 14:04 wib ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pemerintah memutuskan menaikkan harga pupuk bersubsidi jenis urea menjadi Rp 1.800 per kg dari sebelumnya Rp 1.600 per kg. Sejumlah dalil menjadi legitimasi mengapa harga pupuk harus dinaikkan.

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Rusman Heriawan mengakui, langkah menaikkan harga pupuk urea itu untuk mengurangi disparitas harga antara pupuk bersubsidi dengan non subsidi secara bertahap. Untuk Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk urea bersubsidi ditetapkan Rp 1.800 per kg. Bandingkan dengan harga pupuk urea nonsubsidi yang bisa mencapai Rp 4.800 per kg.

"Produk apapun yang memiliki rentang disparitas tinggi akan memicu moral hazard seperti kasus terbaru penyimpangan distribusi pupuk sebesar 770 ton yang diungkap Polresta Depok. Tindak spekulasi seperti ini bukan tidak mungkin juga terjadi di tempat lain," ujar Rusman di Jakarta, akhir pekan ini.

 

Dana subsidi pupuk yang digelontorkan pemerintah sendiri terbilang tidak kecil. Tahun depan, pemerintah mengganggarkan hingga Rp16,9 triliun. Budget sebesar itu diperuntukkan untuk 10,52 juta ton pupuk bersubsidi. Meski ada kenaikan Rp 200 per kg, pupuk urea tetap menempati volume terbesar 5,1 juta ton.

Di sisi lain, pemerintah berkepentingan agar para petani mampu mengalihkan kepada penggunaan pupuk majemuk dan organik secara berimbang sesuai rekomendasi spesifik lokasi.

Rusman tidak menampik pupuk urea memberi kontribusi besar terhadap perjalanan pembangunan pertanian nasional. Dari awal Orde Baru terus pada fase Revolusi hijau hingga saat kini, pupuk urea mampu melibatkan produksi hasil pertanian. "Itu tidak terbantahkan," ujar Rusman.

Namun, Rusman juga mengingatkan , pemakaian pupuk urea itu yang tadinya dianggap penopang kini juga menjadi ancaman terhadap keberlangsungan lahan pertanian itu sendiri. Pasalnya, hara tanah yang digunakaan pupuk urea tadi menjadi rendah. Gilirannya, produktivitas pun menjadi turun.

Rusman pun berkeyakinan kenaikan harga pupuk bersubsidi tidak berimplikasi negatif terhadap petani. Menurutnya, hal itu ditunjukkan dari kenaikan indeks Nilai Tukar Petani (NTP) tahun 2011, dari di bawah 100 menjadi lebih 105. NTP sendiri diartikan kecepatan harga jual petani lebih pesat ketimbang ongkos produksinya.

Dirjen Prasarana dan Sarana Kementan Gatot Irianto mengilustrasikan, adanya kenaikan HET pupuk bersubsidi urea menjadi Rp 1.800 berarti petani harus merogoh tambahan ongkos produksi sebesar Rp 60.000 per hektare (Ha). Asumsi tambahan biaya produksi sebesar itu apabila penggunaan pupuk urea sebesar 300 kg per Ha.

Namun, hal itu lebih kecil bila dibandingkan kenaikan harga gabah kering panen (GKP) sesuai Inpres Perberasan No 9 /2009 yang semula sebesar Rp 2.640 per kg kini naik menjadi Rp 4.440 per kg atau meningkat hingga Rp 1.600 per kg. Dengan asumsi produktivitas hasil tanam sebesar 5 ton per Ha, maka petani memperoleh keuntungan Rp 8 juta per Ha dari usaha tanam padi. kbc11

Bagikan artikel ini kepada kerabat anda