Industri melemah, buruh China protes keras

(Ilustrasi/istimewa)
AKTIVITAS industri manufaktur China pada November 2011 terkontraksi untuk kali pertama dalam tiga tahun terakhir. Melambatnya permintaan barang secara global akibat krisis di Eropa dan Amerika Serikat telah mengganggu ekonomi China. Alhasil, para buruh pun was-was tentang masa depannya.
Pertumbuhan ekonomi cenderung melambat. Pada kuartal III/2011, ekonomi Negeri Tirai Bambu itu tumbuh 9,1%. Angka ini melambat dibanding kuartal II/2011 sebesar 9,5%. Kondisi industri manufaktur, yang selama ini menjadi tumpuan China, terpuruk.
Wajar jika para buruh pun was-was tentang masa depannya. Penurunan upah membayangi, bahkan bisa berujung ke pemutusan hubungan kerja (PHK). Tidak mengherankan, ribuan buruh pabrik di kawasan China selatan kini mulai rajin menggelar aksi unjuk rasa.
Di wilayah Shenzhen, misalnya, seperti dilaporkan AFP, Serikat Buruh Little Bird mulai mengonsolidasi gerakan dan mendesak pemberian upah lembur.
"Kami ingin mempelajari metode yang berbeda untuk melindungi hak-hak kami," kata Ran Lin, buruh yang bekerja 11 jam sehari dalam 6 hari, di Shenzen.
Ran Lin bekerja di perusahaan Yong Jie Electronics. Dia bergaji 2.000 yuan US$315 (sekitar Rp2,83 juta). Meski kerap lembur, Ran mengaku perusahaannya telah mengurangi biaya penggantian uang makan dan tempat tinggal.
Ran pun meradang. "Kami berkontribusi besar terhadap ekonomi negara. Saya berharap perusahaan memberikan kompensasi yang layak," tegas Ran.
Pendiri organisasi pekerja Little Bird, Wei Wei, mengatakan, perlindungan terhadap buruh harus diutamakan. Kini, para pekerja berusaha meningkatkan daya tawarnya ke perusahaan. "Para buruh sudah belajar bagaimana menyatukan suara," kata Wei Wei,.
Wei mengatakan, saat ini sudah ada banyak pabrik yang melek dengan pentingnya buruh bagi peningkatan kinerja perusahaan. Pabrik-pabrik di kawasan China selatan seperti Guangdog sudah mulai melakukan pendekatan yang manusiawi kepada para buruh. kbc3
- Nilai tukar rupiah terhadap USD hari ini Rp 9775.00
- Indeks Harga Saham Gabungan hari ini +33.69 menjadi 5155.093
- Pilihan Editor: Terdesak impor, Kadin-KPPI gencar sosialisasi safeguards di Jatim
- Roy Suryo dukung Banyuwangi pacu wisata melalui kompetisi olahraga
- Praktik kartel bikin bunga bank di RI tertinggi se-Asean?
- Jabat Gubernur BI, Agus Marto bersumpah tak akan terima suap
- Unesa ambisi jadi pusat litbang industri batik Nusantara
- Pensiunan ini rutin beli Jaguar lima kali dalam setahun
- Pensiun, Beckham gandeng bos Manchester City beli tim MLS?
- Rambah bisnis ponsel, Jennifer Lopez gaet Verizon
- Awas informasi pribadi Anda disalahgunakan situs belanja online
- Serbuan produk China, bagaikan air bah
- Ketidaknyamanan Bandara Soekarno Hatta makin memprihatinkan
- Resistensi pariwisata Indonesia melegakan
- Benahi kinerja, Merpati masih dirongrong orang dalam
- Surabaya banjir apartemen
- Perseteruan KPK-Polri ganggu perekonomian
- Petani Minahasa Selatan Tolak tambang emas
- Adu kuat operator telekomunikasi di Jatim, siapa bakal tersungkur?
- Makin membahana, saatnya atur e-commerce
- Menanti dukungan pemerintah ke kontraktor lokal
- Menanti skim pembiayaan untuk sektor pertanian
- Tergusurnya potensi diversifikasi produk pangan lokal
- Aturan pembatasan BBM bikin buram industri logistik
- Awas, Robert Tantular bisa comeback acak-acak Bank Mutiara
- Menanti jurus OJK redam investasi bodong
- Asa baru peningkatan produksi kedelai
