Banyak peluang ekspor ikan terbuang percuma

Thomas Darmawan
SURABAYA, kabarbisnis.com: Banjir di Thailand yang melumpuhkan sektor ekonomi negara tersebut rupanya tidak bisa dimanfaatkan industri perikanan dalam negeri untuk menggenjot ekspor ke negara-negara yang selama ini dipasok Thailand.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan pemasaran Produk Perikanan (AP5I), Thomas Darmawan, menyesalkan industri perikanan dalam negeri yang menurutnya tidak responsif terhadap peluang tersebut.
Berikut petikan wawancara dengan Thomas Darmawan.
Sejauh mana sebenarnya peluang produk perikanan Indonesia untuk menggarap pasar yang ditinggalkan Thailand seiring banjir di negara tersebut?
Peluang terbesar yang harusnya bisa ditangkap pengusaha lokal saat ini adalah ekspor ikan darat seperti patin, nila, dan udang. Pasar saat ini sangat butuh pasokan tambahan dari negara-negara lain lantaran produksi Thailand dan beberapa negara pemasok lain seperti Vietnam juga sedang menurun.
Apakah pengusaha perikanan kita sudah merespons peluang itu?
Saya sendiri heran, ada apa dengan sektor perikanan Indonesia saat ini, ada pasar yang terbuka lebar tapi tidak dimanfaatkan. Contohnya saja, Thailand yang menjadi penguasa pasar udang dan ikan saat ini tidak bisa berbuat apa-apa, namun industri kita tidak mau memanfaatkan momen untuk menggenjot ekspor.
Bagaimana sebenarnya kinerja kita untuk produk-produk perikanan darat yang sebenarnya bisa digenjot itu?
Selama ini, produksi Indonesia di sektor tersebut memang minim dibanding dua negara tersebut. Di Vietnam misalnya, luas kolam ikan patin hanya 4.500 hektare, namun jumlah produksinya mencapai 1,1 juta ton dan mampu menghasilkan ekspor sebanyak US$1,5 miliar sekali panen.
Bila dibandingkan dengan Indonesia yang lahannya sangat luas, bibitnya jauh lebih unggul tapi produksi pertahunnya hanya 2.400 ribu ton. Bahkan untuk ekspor seluruh produk perikanan tahun ini hanya diperkirakan mencapai US$3,2 miliar. Apalagi jika dibandingkan dengan Thailand yang tahun ini diprediksi mampu mengekspor produk perikanan sebesar US$7 miliar.
Apa saja yang menghambat sektor ini di Indonesia?
Ada banyak masalah yang menghadang di sektor ini, mulai masalah kolam, sulitnya dana revatilisasi tambak dan kolam, kredit perbankan yang sulit didapat, sampai sering tercemarnya air sungai membuat nelayan tidak mampu memacu produksinya walaupun memiliki lahan yang berlimpah. kbc8
- Nilai tukar rupiah terhadap USD hari ini Rp 9750.00
- Indeks Harga Saham Gabungan hari ini +71.451 menjadi 5217.134
- Pilihan Editor: Ingin dapat kredit, datangi Bank dan UMKM Expo di Surabaya
- Harga rumah tipe 36 ke bawah alami lonjakan kenaikan
- The Great Gatsby, sebuah film yang digarap bukan setengah-setengah
- Pasang foto tanpa izin, Rihanna tuntut Topshop US$5 juta
- Olympus tak lagi bermain di pasar kamera murahan
- Kecewa layanan jasa keuangan, lakukan hal ini ke OJK
- Waduh, uang rusak di Jatim capai Rp1,67 triliun
- Pasar properti sejumlah negara Asia bermasalah, RI lampu kuning?
- OJK masih kaji pemecahan lot saham jadi 100 lembar
- Bos Monsanto beber strategi kuasai pasar Indonesia
- Sri Mulyani: Kelompok tertentu ganjal kemajuan RI
- Ini dia strategi Ciputra garap pasar properti
- Saatnya melirik profesi penilai
- Resep Flexi kuasai Jatim, Bali, dan Nusra
- Pendekatan kesejahteraan untuk kasus tanah
- Metamorfosis operator menuju layanan personal
- Musda REI Jatim, Henry mengaku tak siap
- Konsep korporatisasi koperasi lewat Badan Usaha Milik Rakyat
- Gubernur BI Harus Dorong Bank agar Lebih Pro-Sektor Riil
- Kalau Dalam Negeri Tak Cukup, Jangan Takut Impor
- Gairah Mari Pangestu pacu bisnis kuliner dan fesyen
- Tugas berat pengganti BP Migas
- Dirut Telkomsel: Kami memang tidak mau bayar
- Tujuh faktor kunci bangun kelautan dan perikanan
- Kemandirian pangan dilumpuhkan akses lahan
