loading...
Kategori
Aneka BisnisIndustri
Mode Baca

Kenaikan listrik kian menghimpit industri kecil

Online: Kamis, 18 Agustus 2011 | 11:17 wib ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) membantah klaim pemerintah yang menyatakan industri nasional dapat memaklumi rencana kenaikan tarif dasar listrik rerata 10%. Kebijakan tersebut dipastikan makin memukul kinerja industri skala kecil dan menengah (IKM).

"Padahal ,jumlah usaha yang dikategorikan IKM jauh lebih besar ketimbang yang besar," terang Ketua Umum Apindo Sofyan Wanandi kepada kabarbisnis.com, Kamis (18/8/2011).

Dia menilai, pemerintah tidak dapat menyimpulkan begitu saja semua kemampuan industri nasional untuk menerima kenaikan beban kenaikan TDL. Pasalnya, elastisitas kenaikan biaya energi terhadap setiap sektor industri terhadap industri lainnya berbeda.

Misalnya, sektor industri jasa perhotelan lebih sensitif terhadap kenaikan TDL. Sektor ini hanya mengandalkan listrik sebagai komponen biaya energi. Hal yang sama juga terjadi pada industri garmen dan konveksi.

Demikian pula soal besar-kecilnya skala industri. Imbas kenaikan biaya energi akan berbeda bila dialami industri tekstil skala menengah besar. Kategori industri seperti ini sudah menyiapkan pembangkit listrik tersendiri, minimal menggunakan genset. Namun, hal berbeda tentu dirasakan industri kecil yang pasti akan semakin tertekan.

Industri besar relatif tidak terbebani, karena lebih mampu mengatur beban biaya energinya. "Apalagi, saat ini tarif listrik sektor industri skala besar sudah dikenakan tarif pasar atau internasional, minimal mendekati biaya pokok penyediaan PLN," ujar Sofyan.

Sofyan mengingatkan apabila kenaikan TDL 10% dikenakan, bukan tidak mungkin akan terjadi gelombang rasionalisasi tenaga kerja di sektor IKM. Hal itu sebagai kompensasi untuk mengurangi biaya operasi akibat kenaikan TDL. "IKM mengklaim mereka harus eksis. Mau bicara daya saing. Penerapan ACFTA sudah membuat IKM terpukul karena membanjiri produk China sampai dijajakan di tempat emperan," tandasnya.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian MS Hidayat mengklaim, dunia industri telah menerima keputusan pemerintah yang akan memberlakukan kenaikan TDL 10% pada 2012. "Mau tidak mau subsidi listrik itu dilepaskan tahun depan, tetapi harus mencari satu rumusan. Saya sudah beri tahu mereka bahwa tahun depan TDL akan naik," kata MS Hidayat, Rabu (17/8/2011).

Dalam penjelasan RAPBN 2012, Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan, untuk subsidi listrik diturunkan cukup signifikan dari Rp 65 triliun pada 2011 menjadi Rp 45 triliun pada RAPBN 2012. Penurunan tersebut diiringi dengan kenaikan tarif tenaga listrik (TTL) atau biasa disebut TDL sebesar 10% pada April 2012.

Meski akan mengalami kenaikan TDL, Hidayat berharap tidak mempengaruhi pertumbuhan sektor industri pada tahun depan. Dia berharap pertumbuhannya melebihi pertumbuhan ekonomi tahun tersebut. Pada semester I 2011 pertumbuhan industri capai 6,6%. kbc11

Bagikan artikel ini kepada kerabat anda
Kurs USD-IDR
10/30/2014
12.125
IHSG
10/30/2014
5.058,85
-15,21 (-0,30%)