loading...
Kategori
Rubrik SpesialGo UKM
Mode Baca
Kurs USD-IDR
7/31/2014
11.585
IHSG
7/25/2014
5.088,80
-9,84 (-0,19%)
Minyak Mentah
N/A
0,00
0,00 (0,00%)
Emas
N/A
0,00
0,00 (0,00%)

Pelatihan UMKM berdayakan potensi daerah

Online: Minggu, 31 Juli 2011 | 10:02 wib ET

JEMBER, kabarbisnis.com: Untuk memberdayakan potensi daerah di wilayah Jawa Timur, sejak Mei lalu Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jatim bersama sejumlah pihak dan instruktur profesional gencar melakukan pelatihan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di seluruh Jatim. Pola pelatihan yang digunakan adalah berbasis sumberdaya lokal.

Pada akhir pekan ini, pelatihan yang ke-50 digelar di Kecamatan Jenggawah Jember dengan tema pembuatan tahu tanpa limbah. Sementara pada hari sebelumnya, pelatihan dilakukan di Kecamatan Sukowono Jember dengan topik pengelolaan pelepah pisang menjadi tampar.

"Di daerah Sukowono, kami memberikan pelatihan pembuatan tampar dengan pelepah pisang. Itu karena di sana banyak sekali pohon pisang namun pelepahnya dibiarkan dan tidak dimanfaatkan. Sementara kalau di Jenggawah, kami mengadakan pelatihan pembuatan tahu tanpa limbah karena memang disini potensi kedelainya besar," ungkap fungsional Peneliti Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Provinsi Jatim, Nelson Sembiring ketika dikonfirmasi, Sabtu (30/7/2011).

Nelson mengungkapkan, dengan menjadikan pelepah pisang menjadi tampar, maka barang yang asalnya tidak dimanfaatkan dan dibuang begitu saja akan bernilai ekonomis. Tampar dari pelepah bisa digunakan untuk lapisan pembuatan kursi, hiasan keramik, dan beberapa produk yang bernilai seni tinggi.

Memberdayakan bahan baku lokal itulah yang disebut sebagai pengembangan UMKM berbasis lokalitas. Selain bahan baku lokal, bantalan dari pengembangan UMKM di daerah haruslah berbasis sumber daya manusia (SDM) lokal dan institusional (kelembagaan) lokal seperti dengan memanfaatkan kelompok PKK, Karang Taruna, dan kelompok pengajian.

Nelson menambahkan, untuk proses pembuatan tahu tanpa limbah, pihaknya menggunakan teknologi dari sari air laut dan tidak menggunakan cuka. "Itu karena sari air laut tersebut sangat kaya maknesium," kata Nelson yang juga Wakil Ketua Umum Kadin Jatim Bidang ESDM.

Selama ini, lanjutnya, sari air laut selalu dieakspor ke Jepang sebanyak 5.000 liter per bulan. Sementara masyarakat Jatim belum ada yang memanfaatkan. Dan ini adalah hasil penelitian Balitbang Provinsi Jatim pada tahun 2005.

"Intinya, kami menyelenggarakan pelatihan ini dengan menyesuaikan potensi alam di daerah yang bersangkutan. Dan alhamdulillah, para peserta mengaku puas," tekannya.

Potensi daerah

Nelson mengatakan, selain bertema pembuatan tahu dan tampar pisang, berbagai tema lain juga diangkat dalam pelatihan UMKM di berbagai daerah. Tema yang diangkat menyesuaikan dengan sumberdaya lokal di masing-masing daerah. Misalnya di daerah pesisir Situbondo dan Banyuwangi, ada pelatihan pembuatan bakso ikan.

"Kami ingin potensi daerah benar-benar dioptimalkan untuk memberi nilai tambah bagi masyarakat, khususnya pelaku UMKM," tegas Nelson.

Seperti diketahui, sejak akhir Mei lalu, tim Kadin Jatim berkeliling Jatim untuk memperkuat daya saing UMKM di seluruh kota/kabupaten. Berbagai tema pelatihan digelar dengan berbasis pada potensi lokal. Program ini gratis dan bisa diikuti oleh siapa pun UMKM atau calon pengusaha yang berminat. kbc6

Bagikan artikel ini kepada kerabat anda