loading...
Kategori
Aneka BisnisAgribisnis
Mode Baca

Tekan konsumsi untuk swasembada beras

Online: Senin, 25 Juli 2011 | 17:03 wib ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Indonesia dapat saja kembali menjadi negara yang swasembada beras dan tidak lagi memerlukan impor beras, meski untuk stok Perum Bulog. Caranya, tekan saja tingkat konsumsi masyarakat.

Mantan Menteri Pertanian Bungaran Saragih memberi tips, swasembada beras dapat tercapai asalkan konsumsi beras masyarakat yang mencapai 139 kilogram (kg) per kapita per tahun dapat diturunkan. Begitupula halnnya dengan pertumbuhan penduduknya yang meningkat 1,4% per tahun.

"Konsumsi per kapita harus diturunkan secara gradual dan pasti untuk mencapai swasembada," ujar Bungaran dalam seminar Ketahanan Pangan di Jakarta, Senin (25/7/2011).

Bungaran menerangkan, dengan pertumbuhan penduduk 1% saja, maka penambahan jumlah penduduk akan mencapai 2,4 juta orang. Hal ini akan membuat permintaan beras ikut meningkat, akibatnya harga beras menjadi tinggi. "Angka per kapita beras harus diturunkan, dan ini bukan hanya tugas Kementerian Pertanian saja," tukas dia.

Bungaran mencatat, apabila konsumsi dapat diturunkan dari 139 kg menjadi 100 kg per kapita per tahun, berarti sudah mampu mengurangi konsumsi lebih dari 30%. Sedangkan persentase impor Indonesia tiap tahunnya tak lebih dari 5%, maka Indonesia berpotensi bisa mengekspor 25% hasil produksi berasnya.

"Pemerintah harus optimistis bisa menurunkan konsumsi beras menjadi 60 kg per kapita per tahun dalam kurun waktu 20 tahun, apalagi tahun 2030 penduduk kita diperkirakan akan mencapai 300 juta orang dan akan terus bertambah," terang dia.

Kendati begitu, selain penurunan tingkat konsumsi beras, Bungaran juga meminta pemerintah melakukan upaya penggenjotan produksi. Upaya tersebut yaitu dengan menciptakan perluasan lahan sawah dan peningkatan produktivitas tanaman padi.

"Demand akan bertambah tiap tahun setidaknya mengikuti pertambahan penduduk, karena itu suplai harus ditambah," ujar Bungaran seraya menambahkan untuk peningkatan produksi itu juga dibutuhkan lahan, air untuk irigasi, pupuk, benih, dan pestisida.

Ketua Yayasan Pertanian Mandiri Indonesia (Yapari) Faisal Kasryno mengatakan, dengan harga beras yang cenderung meningkat berarti kemampuan produksi padi dalam negeri diperkirakan menurun. Penurunan ini, akibat tingginya konversi lahan sawah.

"Ini perlu adanya moratorium pemberian HGU (Hak Guna Usaha) baru untuk pengembangan perkebunan besar swasta," tukas dia.

Faisal juga meminta pemerintah mengembangkan sarana irigasi baru sekitar 2,5 juta hektare menjelang tahun 2020. "Potensi sumberdaya lahan dan air masih tersedia di Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Jumlahnya sekitar 20 juta Ha," tutupnya. kbc11

Bagikan artikel ini kepada kerabat anda
Kurs USD-IDR
10/31/2014
12.075
IHSG
10/31/2014
5.072,52
13,67 (0,27%)