loading...
Kategori
Aneka BisnisIndustri
Mode Baca

Saatnya bangkitkan industri perkapalan Jatim

Online: Jum'at, 27 Mei 2011 | 15:32 wib ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Perlahan tapi pasti, industri galangan kapal Indonesia, khusus Jawa Timur, terus berkembang. Setelah pemberlakuan asas cabotage yang menjadi pendorong kebangkitan, industri perkapalan harus mampu meningkatkan performa agar kepercayaan dari pemesan dalam dan luar negeri terus meningkat.

"Secara umum, industri perkapalan memang terus bangkit seiring dengan banyaknya kebutuhan kapal baru. Momentum pasar ini harus dijaga dan dimanfaatkan. Jangan sampai perusahaan asal Indonesia malah memesan kapal di China," ujar Direktur Industri Maritim, Kedirgantaraan dan Alat Pertahanan Kementerian Perindustrian, Soerjono, di kantor PT Dok dan Perkapalan Surabaya (DPS), Jumat (27/5/2011).

Dia menuturkan, setidaknya terdapat tiga potensi pasar yang bisa dibidik. Pertama, kapal-kapal untuk industri minyak dan gas dari berbagai perusahaan migas yang beroperasi di Indonesia, termasuk perusahaan migas asing. Kedua, kapal-kapal tanker khusus milik PT Pertamina. Ketiga, kapal-kapal niaga.

Di Jatim, PT PAL Indonesia, misalnya, sudah bisa membangun kapal Double Skin Bulk Carrier berbobot 50.000 dead weight tonnage (DWT) pesanan Singapura. Kapal berbobot mati 50.000 ton bukan kapal sembarangan. Ini hanya sasaran antara dari target jangka panjang 2013-2018 yang telah dipatok Kementerian Perindustrian di mana galangan kapal Jatim harus mampu membangun kapal 150.000 DWT.

Data Kementerian Perindustrian menunjukkan, terdapat sedikitnya 27 perusahaan perkapalan di Jatim atau 10,5 persen dari total perusahaan perkapalan nasional. Di Jatim terdapat sedikitnya 21 perusahaan besar yang menggunakan kapal dalam aktivitas utama usahanya. Selain itu, masih ada 39 unit usaha perkapalan rakyat.

Adapun kapasitas perbaikan atau reparasi kapal di Jatim mencapai 685.000 GT per tahun atau 19 persen dari total kemampuan reparasi kapal secara nasional yang mencapai 3,6 juta GT. "Jatim adalah salah satu basis utama industri kapal Indonesia. Dan karena itu, Kementerian Perindustrian terus mendorong galangan kapal yang ada di Jatim untuk memacu diri," ujarnya.

Kompetensi inti

Dalam pemetaan Kementerian Industrian, industri perkapalan memang telah ditetapkan sebagai kompetensi inti (core competence) dunia industri Jatim. "Industri perkapalan diharapkan bisa menjadi pengungkit bagi industri-industri lainnya," ujarnya.

Direktur Utama PT Dok dan Perkapalan Surabaya (DPS) Mohammad Firmansyah Arifin mengatakan, potensi pengembangan industri perkapalan memang sangat besar. Jatim mempunyai banyak potensi pendukung.

Pertama, Jatim mempunyai industri penunjang yang bisa menopang pengembangan industri perkapalan. Industri penunjang tersebut, antara lain, industri besi, baja, logam, fiber glass, cat, kawat las, permesinan, dan jasa rancang bangun.

Kedua, infrastruktur dan fasilitas pelabuhan yang terus berkembang. Ketiga, dari sisi riset dan pengembangan, dukungan perguruan tinggi di Jatim sangat memadai. Di Institut Teknologi 10 November (ITS), misalnya, telah ada Pusat Desain dan Rekayasa Kapal Nasional. Badan Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) juga mempunyai laboratorium hidrodinamika di Jatim. Selain itu, tentu saja ada laboratorium milik perusahaan perkapalan.

"DPS sendiri terus berusaha meningkatkan performanya, sehingga bisa terus mendapat kepercayaan dari pemesan. Dari sisi SDM, kita tingkatkan kapasitas teknik para pekerja, karena pembuatan kapal memang tidak bisa dilakukan sembarangan," jelasnya.

Kebangkitan industri galangan dalam negeri ini juga ditopang oleh komitmen PT Pertamina untuk menggunakan jasa perusahaan lokal dalam pengadaan kapalnya.

Koordinator Pembangunan Kapal Direktorat Pemasaran dan Perdagangan PT Pertamina, Subagjo H Mulyanto, mengatakan, hingga 2015, pihaknya menargetkan komposisi armada kapal yang dimiliki sendiri sebesar 50% atau 95 unit kapal dari total armada yang kini dioperasikan sebanyak 190 unit. Saat ini hanya 36 unit atau 18,9% dari total armada Pertamina yang merupakan milik sendiri. Adapun sisanya adalah kapal yang disewa dari pihak lain.

"Untuk memenuhi target itu, tentu kita akan lakukan pengadaan kapal baru dengan tender. Kami ingin ini bisa dimanfaatkan oleh galangan kapal dalam negeri," ujarnya. kbc5

Bagikan artikel ini kepada kerabat anda
Kurs USD-IDR
10/22/2014
12.025
IHSG
10/22/2014
5.074,32
44,98 (0,89%)