loading...
Kategori
Aneka BisnisAgribisnis
Mode Baca
Kurs USD-IDR
4/18/2014
11.465
IHSG
4/17/2014
4.897,05
24,04 (0,49%)
Minyak Mentah
N/A
0,00
0,00 (0,00%)
Emas
N/A
0,00
0,00 (0,00%)

Harga gabah di tingkat petani meningkat

Online: Selasa, 04 Januari 2011 | 11:43 wib ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kenaikan harga beras di pasaran, berdampak pada kenaikan harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani. Bahkan, kenaikan ini tertinggi selama sebelas bulan terakhir, kata Rusman Heriawan, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) di Jakarta, Selasa (04/01/11).

Selama Desember 2010, lanjut dia, ada 712 transaksi penjualan gabah di 21 provinsi yang terbanyak transaksi gabah kering panen (GKP) mencapai 75,56%, gabah kualitas rendah 14,33%, dan gabah kering giling (GKG) 10,11%,

Di petani, sambung dia, harga tertinggi senilai Rp7.500 per kg dari gabah kualitas GKP varietas SiamUnus di Kabupaten Kapuas (Kalimantan Tengah). Sedangkan harga terendah senilai

Rp2.200 per kg, berasal dari gabah kualitas GKP varietas Mikongga, Cibogo, Beliang, dan Jepang di Kabupaten Toli-toli (Sulawesi Tengah).

Di penggilingan, harga tertinggi dari gabah kualitas GKP varietas Siam Unus senilai Rp7.600 per kg di Kabupaten Kapuas (Kalimantan Tengah). Harga terendah senilai Rp2.283 per kg berasal dari gabah kualitas GKP varietas Mikongga, Cibogo, Beliang, dan Jepang di Kabupaten Toli-toli (Sulawesi Tengah).

Komponen mutu gabah hasil panen yang diperjualbelikan selama tiga bulan terakhir masih berfluktuasi. Selama Desember 2010, rata-rata Kadar Air (KA) dan Kadar Hampa/Kotoran (KH) gabah kualitas GKG dan GKP relatif tidak lebih baik dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.

Rata-rata KA dan KH gabah kualitas GKG masing-masing tercatat 12,75% dan 2,37%. Pada gabah kualitas GKP, rata-rata KA sebesar 18,66% dan KH sebesar 5,33%. Sedangkan rata-rata KA dan KH gabah kualitas rendah masing-masing tercatat 25,45% dan 9,71%.

Menurutnya, selama Desember 2010, rata-rata harga gabah hasil panen kualitas GKG dan GKP mengalami peningkatan baik di tingkat petani maupun penggilingan.

Di tingkat petani, persentase kenaikan harga gabah masing-masing kualitas GKG (2,86%), kualitas GKP (6,53%), dan kualitas rendah (9,14%) dibandingkan bulan November 2010. Dan di tingkat penggilingan juga terjadi kenaikan masing-masing kualitas GKG (2,79%), kualitas GKP (6,68%), dan kualitas rendah (9,38%).

Dibandingkan bulan sebelumnya, lanjut dia, rata-rata harga gabah kualitas GKG di tingkat petani meningkat Rp108,27 per kg (2,86%) menjadi Rp3.890,31 per kg dan di tingkat penggilingan sebesar Rp107,31 per kg (2,79%) menjadi Rp3.956,49 per kg selama Desember 2010.

Pada bulan yang sama, rata-rata harga gabah kualitas GKP di tingkat petani mengalami kenaikan Rp219,86 per kg (6,53%) menjadi Rp3.584,85 per kg dan di tingkat penggilingan Rp229,05 per kg (6,68%) menjadi Rp3.655,98 per kg.

Sementara itu, rata-rata harga gabah kualitas rendah juga meningkat Rp268,09 per kg (9,14%) menjadi Rp3.199,99 per kg di tingkat petani dan Rp281,38 per kg (9,38%) menjadi Rp3.280,82

per kg di tingkat penggilingan.

Dijelaskan, setiap bulan BPS melakukan survei harga produsen gabah. Dan pada survei Desember 2010 dilakukan terhadap 712 observasi di 21 provinsi.

Pemantauan harga terutama dari seluruh wilayah di Pulau Jawa sebanyak 440 observasi (61,80%), diikuti lima provinsi di Sumatera 118 observasi (16,57%), Bali 58 observasi (8,15%), Lima provinsi di Sulawesi 45 observasi (6,32%), tiga provinsi di Kalimantan 40 observasi (5,62%), dan dua provinsi di Nusa Tenggara 11 observasi (1,54%).

Dari sisi komposisi, lanjut Rusman, jumlah observasi harga gabah masih didominasi Gabah Kering Panen (GKP) sebanyak 538 observasi (75,56%), disusul gabah kualitas rendah sebanyak 102 observasi (14,33%) dan Gabah Kering Giling (GKG) sebanyak 72 observasi (10,11%).

Rusman mengungkapkan jumlah observasi harga gabah kualitas GKG dan GKP mencapai 610 observasi atau 85,67% dari keseluruhan jumlah observasi selama Desember 2010.

Jumlah observasi menurut kelompok kualitas, terdapat 13 observasi (2,13%) kasus harga gabah di bawah HPP ditemukan di tingkat penggilingan masing-masing sebanyak 4 observasi (5,56%), gabah kualitas GKG dan 9 observasi (1,67%) gabah kualitas GKP.

Sedangkan di tingkat petani sebanyak 9 observasi (1,67%) juga dari gabah kualitas GKP. Kasus harga yang terjadi selama Desember 2010, terutama berasal dari Provinsi Sulawesi Tengah (0,98%(, Aceh (0,66%), dan Sulawesi Barat (0,49%).

Pencatatan terhadap 102 observasi harga gabah kualitas rendah atau 14,33% dari keseluruhan observasi yang dilakukan selama Desember 2010, yang berpotensi mengalami kasus harga, ditemukan di Provinsi Jawa Barat (3,51%), Jawa Timur (2,95%), Jawa Tengah (2,53%), DI Yogyakarta (1,83%), Bali (1,12%), Sumatera Barat (0,84 persen), Aceh (0,42%), Banten (0,42%), Nusa Tenggara Barat (0,42%), dan Sulawesi Barat (0,28%).

Dikatakan, dibandingkan bulan November 2010, persentase kasus harga gabah di bawah HPP di tingkat penggilingan cenderung menurun yakni dari 6,03% menjadi 2,13%. Penurunan persentase observasi juga terjadi pada harga gabah kualitas rendah dari 21,92% menjadi 14,33% selama Desember 2010. Kbc10

Bagikan artikel ini kepada kerabat anda