Nasional
Sabtu, 04 September 2010 | 11:03 wib ET

BI perkirakan Neraca Pembayaran Indonesia surplus

JAKARTA, kabarbisnis.com: Bank Indonesia (BI) memperkirakan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) masih mencatat surplus. Hal itu terutama didukung oleh kinerja transaksi modal dan finansial (TMF) terkait dengan meningkatnya aliran modal masuk kelompok investasi portofolio yang cukup tinggi.

Dalam publikasi Tinjauan Kebijakan Moneter September 2010, BI mengungkapkan, dari sisi transaksi berjalan, impor menunjukkan pertumbuhan yang relatif tinggi. Peningkatan impor tersebut merupakan respons dari meningkatnya kegiatan ekonomi domestik, termasuk persiapan menjelang hari raya keagamaan.

"Dengan berbagai perkembangan tersebut, cadangan devisa per 31 Agustus 2010 mencapai 81,3 miliar dolar AS atau setara dengan 6,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah," papar publikasi tersebut.

Selama bulan Agustus 2010, nilai tukar rupiah bergerak dengan kecenderungan menguat, ditopang persepsi positif terhadap perekonomian dan imbal hasil instrumen rupiah yang tinggi. Kuatnya daya tarik tersebut mendorong kembali masuknya dana asing yang cukup signifikan ke instrumen di pasar keuangan.

Pada periode laporan, rata-rata nilai tukar rupiah tercatat sebesar Rp8.972 per USD, atau menguat 0,78% mtm. Pada akhir Agustus 2010, rupiah ditutup pada level Rp9.035 per USD atau melemah 0,95% (point to point) dibandingkan dengan akhir Juli 2010. Penguatan nilai tukar rupiah tersebut dibarengi volatilitas yang sedikit meningkat.

Selama Agustus 2010 volatilitas pergerakan rupiah rata-rata mencapai 0,28%, lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang sebesar 0,19%.

Kinerja pasar keuangan domestik membaik, tercermin pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang meningkat dan yield SUN yang menurun untuk semua tenor. Hal itu antara lain dipengaruh oleh besarnya arus masuk modal asing. Dari sisi transmisi kebijakan moneter, kecenderungan penurunan suku bunga perbankan masih berlanjut.

Suku bunga perbankan, baik simpanan maupun kredit masih terus turun, meski melambat dan dengan spread yang semakin kecil. Dari jalur kredit, pertumbuhan kredit menunjukkan tren yang meningkat, terutama didorong oleh kredit konsumsi, meskipun kontribusi kredit investasi dan kredit modal kerja (KMK) juga menunjukkan peningkatan. Dari sisi likuiditas, kondisi likuiditas perekonomian cenderung meningkat seiring dengan meningkatnya aktivitas perekonomian. kbc3

Komentar
Berita Terkait
Kategori