Navigasi: Home > Keuangan > Artikel
http://www.eastjavabiz.org/kadinv2/index.php
Jendela Informasi Kadin Jatim

Default Dubai World bikin pasar sanksi prospek ekonomi

Sabtu, 28 November 2009 | 15:00 wib ET
(dok. Dubai-Tower)

JAKARTA - Pengumuman gagal bayar (default) Dubai World yang mengejutkan para pelaku pasar akan diiringi oleh berbagai keraguan terhadap prospek pemulihan perekonomian global.

Ekonom Dradjad H. Wibowo mengatakan, investor akan mengkaji secara serius dampak gagal bayar utang senilai US$60 miliar itu terhadap sektor finansial di berbagai belahan dunia.

”Orang akan berpikir, setelah Dubai World, siapa lagi? Ini seolah memberi sinyal bahwa krisis masih mengintai setiap saat justru tepat di saat banyak orang meyakini bahwa krisis telah selesai,” ujar Dradjad di sela-sela diskusi di Warung Daun, Kebayoran, Jakarta, Sabtu (27/11/09).

Dia mengatakan, pascapengumuman gagal bayar Dubai tersebut, pasar akan kembali meragukan recovery perekonomian. Investor harus mewaspadai kemungkinan pasar kembali bergerak liar.

Dradjad mengemukakan, pengaruh Dubai bagi ekonomi regional cukup besar. Selama ini, Dubai telah menjelma sebagai salah satu pusat finansial di Asia. Karena itu, pekan depan akan menarik untuk ditunggu bagaimana sikap investor di kawasan terkait kasus gagal bayar tersebut.

Bursa saham global sendiri sudah limbung pada perdagangan semalam (27/11/09).

Seperti diketahui, Konsorsium Dubai World telah meminta penundaan pembayaran utang kepada para kreditur hingga Mei 2010. Utang pokok mereka mencapai US$60 miliar. Secara total utang Dubai telah menembus US$80 miliar atau hampir Rp800 triliun! Konsorsium raksasa yang disokong penuh oleh pemerintah Uni Emirat Arab itu dilaporkan menunjuk Deloitte untuk membantu proses restrukturisasi utang itu.

Namun, investor agaknya tak perlu khawatir gagal bayar Dubai World adalah sinyal datangnya krisis finansial baru setelah mencapai puncaknya pada tahun lalu. Dalam laporan riset para analis di Capital Economics, sebagaimana dilansir YahooFinance, Jumat (27/11/09), disebutkan bahwa problem yang dihadapi Dubai lebih mencerminkan letusan industri properti yang sudah lama bubble daripada rentetan awal dari krisis keuangan baru. kbc10/kbc5

Berita Terkait
TRANSLATE THIS PAGE
kabarbisnis.com : Tentang Kami | Indeks Kabar | RSS
© Copyright 2009-2010 kabarbisnis.com, under management by PT. Airlangga Media Cakra Nusantara | Ketentuan Penggunaan