Navigasi: Home > Makro > Global > Artikel
http://www.eastjavabiz.org/kadinv2/index.php
Jendela Informasi Kadin Jatim

Global bergejolak, investor hindari aset berisiko tinggi

Selasa, 09 Februari 2010 | 13:13 wib ET
(dok. kabarbisnis.com)

SURABAYA, kabarbisnis.com: Perekonomian global masih tampak bergejolak, meski banyak analis mengatakan bahwa krisis global sudah melewati titik terendahnya. Kasus membesarnya utang publik di negara-negara kawasan Eropa akan sedikit memengaruhi pemulihan perekonomian global.

Demikian dikatakan Chief Investment Strategist Group Wealth Management Standard Chartered Bank, Lim Say Boon, di sela-sela seminar edukasi keuangan di Hotel Shangri-La, Surabaya, Selasa (9/2/2010).

"Kita cermati kasus di Uni Eropa, tapi masih terlalu dini untuk mengatakan akan terjadi krisis finansial jilid dua. Beberapa negara besar di Uni Eropa langsung menyiapkan solusi, termasuk mengusulkan dana talangan IMF untuk Yunani," jelasnya.

Saat ini rerata utang publik di 16 negara Uni Eropa mencapai 84% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Ini merupakan nilai yang besar sepanjang sejarah, jauh dari batas maksimal konsensus negara-negara Uni Eropa, yaitu sebesar 60% dari PDB.

Dengan kondisi tersebut, jelas Lim, investor akan lebih mencermati respons pasar finansial terhadap gunjang-ganjing di Uni Eropa. "Konsekuensinya, saat ini investor lebih memilih untuk menghindari aset atau portofolio berisiko tinggi yang terkait langsung dengan kondisi di Uni Eropa, seperti Euro," jelas Lim.

Saat ini Euro berada di level 1,3636 per dolar AS (US$). Itu merupakan nilai Euro terhadap US$ yang terendah dalam 15 bulan terakhir. "Investor melepas koleksi Euro-nya karena cenderung menjauhi aset yang berisiko," ujarnya.

Konsekuensi lanjutannya, sambung Lim, investor global kian gencar mengincar pasar Asia, terutama Jepang. Standard Chartered Bank sendiri sudah menaikkan kembali peringkat Jepang dari posisi semula underweight. "Kami memang sempat menurunkan peringkat Jepang dari overweight menjadi underweight, tapi saat ini sudah kami naikkan lagi peringkatnya," kata Lim.

Lim menambahkan, investor juga akan mulai menghindari emerging market yang dinilai sudah terlalu mahal, termasuk di Indonesia. Indikasinya, investor asing mulai banyak keluar dari bursa dalam negeri. Kemarin investor asing tercatat membukukan penjualan bersih Rp1,4 triliun.

Ke depan, Jepang akan menjadi fokus utama bagi para investor global.

"PE Ratio indeks Nikkei Jepang sangat murah, 1,5 kali. Itu merupakan nilai PER terendah sejak 1999. Ini akan menjadi bidikan investor sebagai alternatif investasi di tengah mulai jenuhnya pasar di negara berkembang," terang Lim.

Rasio price-to-earning (P/E) adalah salah satu parameter untuk menilai murah dan mahalnya sebuah saham. Rasio tersebut menunjukkan perhitungan harga saham dibagi laba per saham. kbc5

Berita Terkait
TRANSLATE THIS PAGE
kabarbisnis.com : Tentang Kami | Indeks Kabar | RSS
© Copyright 2009-2010 kabarbisnis.com, under management by PT. Airlangga Media Cakra Nusantara | Ketentuan Penggunaan