Di balik fluktuasi harga gula domestik
Kerja sama Bulog-PTPN RNI dinilai tak menguntungkan
Rabu, 05 Agustus 2009 | 18:46 wib ET
Oleh Dzurriah Nisa
Besaran harga gula di pasar domestik masih terus berfluktuatif. Padahal, sudah ada kerja sama antara Badan Urusan Logistik (Bulog) dengan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) dan PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) yang, antara lain, dimaksudkan untuk menstabilkan harga.
Ada penilaian, peran Bulog dalam kerja sama ini hanya sebagai distributor atau penyalur gula ke konsumen. Sementara peran Bulog sebagai penstabil harga masih belum bisa dirasakan sama sekali.
Indikasi tersebut terlihat dari fluktuasi harga gula yang semakin terasa. Di pertengahan bulan Juli yang lalu, harga gula terus mengalami penurunan seiring dengan datangnya puncak giling di pertengahan Agustus. Dari tender gula giling pertama PTPN XI sebesar Rp7.353 per kilo di akhir Juni menjadi Rp6.610 per kilogram hingga Rp6.600 per kilogram pada tender kedua di awal Juli 2009.
Harga kembali turun saat tender tanggal (17/7/09). Saat itu, gula produksi PG-PG wilayah Pasuruan ke timur terbentuk harga Rp6.376,37 per kilogram sedangkan untuk gula produksi PG-PG wilayah Madiun dan sekitarnya dengan harga Rp6.416,40 per kilogram.
Akhir bulan Juli, harga gula kembali mengalami kenaikan seiring dengan melonjaknya harga gula dunia akibat defisit gula di negara pengekspor gula lainnya, seperti India dan Thailand.
Isyarat tersebut setidaknya tecermin dalam tender 12.820 ton gula milik petani binaan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI, yang digelar di Surabaya, Senin (3/8/2009).
Sebanyak 31 dari 38 perusahaan distribusi yang diundang, tercatat harga untuk 8.880 ton produksi pabrik gula (PG) untuk wilayah Pasuruan ke timur sebesar Rp. 7.054,00 per kg.
Sedangkan untuk 3.940 ton produksi PG wilayah Madiun dan sekitarnya Rp. 7.104.00. PT Agrotani Nusantara dari Surabaya tercatat sebagai pemenang untuk semuanya.
Harga tersebut praktis melonjak dibanding tender di tempat sama (17/7/2009) yang mencapai harga Rp. 6.376,37 dan Rp. 6.416,40, namun lebih rendah dibanding tender di PTPN IX yang digelar di Surakarta (31/7/2009) dengan harga Rp. 7.490,00 per kg.
Sekretaris Perusahaan PTPN XI Adig Suwandi menyatakan, fluktuasi harga diperkirakan masih akan terjadi dalam beberapa hari mendatang.
Pasalnya, harga gula dunia yang tercatat di Bursa Berjangka London akhir pekan lalu dan selama ini menjadi referensi pedagang menujukkan gelagat peningkatkan, bahkan untuk pengapalan Oktober dan Desember 2008 sudah mencapai USD 491,80 dan USD 502,30 per ton FOB (harga di negara asal, belum termasuk biaya pengapalan dan premium). Harga untuk pengapalan Maret dan Mei 2010 masing-masing USD 510,10 dan USD 506,10.
Pada situasi demikian, impor gula dipastikan jauh lebih mahal. Impor dimaksud adalah raw sugar oleh kalangan industri gula rafinasi dalam negeri dan impor gula rafinasi oleh industri makanan minuman (mamin).
Padahal menurut Direktur Utama Perum Bulog, Mustafa Abubakar, kesepakatan kerjasama ini adalah selain untuk menaikkan bargaining position PTPN dan RNI juga untuk menstabilkan harga gula di pasar domestik.
Ironisnya, sampai detik ini, harga gula domestik terus berfluktuasi seiring dengan kondisi perdagangan gula dunia.
Kinerja Bulog dinilai kurang maksimal
Di sisi lain, kinerja Bulog dalam menjualkan gula yang dilepas PTPN dan RNI juga dinilai tidak maksimal. Sebab, data dari Bulog menyatakan bahwa sampai awal Juli 2009, total gula yang berhasil disalurkan oleh Bulog Jatim hanya sebesar 12.000 ton gula.
Sementara target penyaluran gula via Bulog Divre Jatim yang ditetapkan sepanjang tahun ini sebesar 168.700 ton gula.
Kepala Seksi Hubungan Masyarakat (Kasi Humas) Bulog Divre Jatim Julia Hermawati menyatakan, selama semester I/2009, pendistribusian gula melalui Bulog Jatim memang masih kecil.
"Hingga akhir Juni, tercatat gula yang berhasil dijual melalui Bulog Jatim sebesar 12.000 ton. Terakhir dua mingggu yang lalu Bulog Jatim telah menjual gula sebanyak 11.000 ton," kata Julia Hermawati.
Minimnya serapa gula melalui Bulog tersebut menurut Julia disebabkan karena harga yang dipatok oleh PTPN terlalu tinggi, lebih tinggi dari haga lelang gula petani. Sehingga pasar lebih memilih membeli dari petani.
Harga lelang terakhir gula petani di PT RNI mencapai Rp6.610 per kilogram dan harga lelang terakhir gula petani di PTPN XI sekitar Rp6.600. Sementara harga gula di Bulog dipatok sebesar Rp 6.950-Rp7.000.
"Karena harga kita masih kalah murah dengan harga lelang gula petani, akhirnya penyerapan pasar melalui Bulog tidak besar," kata Julia.
Sementara, lanjutnya, Bulog tidak memiliki kewenangan sedikitpun untuk melakukan penetapan harga gula. Sebab otoritas penentu harga gula sepenuhnya berada di tangan PTPN X, PTPN XI dan RNI. "Sesuai kesepakatan mereka, harga gula dipatok sekitar Rp6.950-Rp7.000 per kilogram," tegasnya.
Pemasaran gula melalui Bulog perlu penyerasian
Terkait dengan keterlambatan pendistribusian gula melalui Perum Bulog, pihak PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI menilai perlu adanya penyerasian.
Tindakan tersebut mutlak diperlukan guna mengantisipasi fluktuasi harga yang cenderung menurun sehubungan puncak produksi pada sebagian pabrik gula (PG) di Jawa yang diperkirakan terjadi pada bulan Agustus 2009.
"Penyerasian diperlukan agar harga yang diperoleh BUMN tidak terpaut jauh dengan tender gula petani terakhir yang dijadikan referensi," kata Adig Suwandi.
Untuk diketahui, dalam rangka sinergi BUMN, sejumlah perusahaan gula pelat merah telah menjalin kerja-sama dengan Bulog.
Perusahaan dimaksud adalah PT Perkebunan Nusantara (II, VII, IX, X, XI, XIV) dan PT Rajawali Nusantara Indonesia. Kerja-sama bersifat business to business dengan tujuan memperkuat bargaining position produsen melalui penerapan kebijakan satu pintu (one gate policy).
Agar tidak terjadi disparitas dengan gula petani, harga pemasaran melalui Bulog ditetapkan sebesar harga tender gula petani terakhir.
"Kenyataan menunjukkan, kurangnya kecepatan Bulog dalam pendistribusian menjadikan harga gula milik BUMN cenderung turun sehingga profit yang diharapkan tidak optimal," kata Adig.
Sebut saja, lanjutnya, ketika PTPN XI melepas 10.000 ton beberapa waktu lalu, harga yang digunakan untuk referensi adalah tender gula petani sebesar Rp7.323 dan Rp7.353 per kg. Karena tidak semua gula terjual hingga tender berikutnya harga sudah anjlog menjadi Rp6.910 dan Rp6.925.
Lagi-lagi kurangnya penyerasian membuat harga terus tergerus karena dalam tender 3/7/2009 sudah merosot lagi menjadi Rp6.600 dan Rp6.610. Bahkan tender gula petani di lingkungan PTPN X per 9/7/2009 sudah menembus Rp6.352 per kg.
"Profit maksimal hanya dapat diraih kalau pelaksanaan penjualan melalui Bulog mendapatkan harga lebih tinggi," katanya.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Bulog disarankan menjual gula ke distributor II dan II. Kalau hanya berkutat pada distributor I pasti harga yang kompetitif tidak diperoleh karena mereka adalah peserta tender gula petani juga.
Subdivre diinstruksikan jual gula
Untuk mengatasi minimnya realisasi penjualan gula melalui Perum Bulog Jawa Timur (Jatim), mulai akhir Juli, Bulog Jatim telah menginstruksikan kepada seluruh sub divisi regional (Divre) untuk melakukan penjualan gula.
Tindakan ini dinilai sangat tepat karena bisa mempercepat regulasi penjualan gula di tingkat destribusi II (D II) dan distribusi III (D III).
"Untuk percepatan penjualan, kami telah menginstruksikan kepada sub divre bulog untuk menjual gula di wilayah mereka," kata Kepala Perum Bulog Divre Jatim Sutono kepada kabarbisnis.com.
Perlu diingat, lanjutnya, bahwa peran Bulog disini hanya sebagai agen dengan imbalan sebesar Rp65 per kilogram. Dan tidak punyai kewenangan apapun selain menjualkan. Sementara kondisi saat ini jauh berbeda dengan kondisi tahun 2008 saat Bulog diserahi penjualan gula yang sama.
Pada tahun 2008, Bulog diserahi melakukan penjualan gula pada bulan Nopember, saat harga gula bergerak dari harga terendah dibawah HPP.
Karena mulai diberi mandat saat harga gula berada di titik terendah, maka penjualan tidak menemukan kesulitan. Pasalnya, trend harga gula setelah itu beranjak naik dengan terus berkurangnya stok gula di pasaran.
"Jadi menjualnya lebih gampang. Bahkan Bulog tercatat merealisasikan penjualan gula sekitar 73.500 ton dalam kurun waktu dua bulan saja. Berbeda dengan kondisi saat ini," akunya.
Saat ini, karena harga gula terus mengalami penurunan seiring dengan mendekati puncak giling di pertengahan Agustus, maka pembeli cenderung menunggu dan tidak melakukan transaksi. Akibatnya, penjualan di Perum Bulog juga tersendat.
"Untuk itu, kami telah mensiasatinya dengan menginstruksikan kepada 13 sub divre Bulog Jatim untuk melakukan penjualan gula juga. Agar bisa mempermudah transaksi dengan D II dan D III" lanjutnya.
Sekretaris Perusahaan PTPN X Djoko Santoso menyatakan bahwa selama ini, kerjasama Bulog dan PTPN X dinilai lancar-lancar saja. "Kalau distribusi, sejauh ini sudah lancar. Sebab kami selalu membantu memperlancar penjualan dengan membawa pembeli ke Bulog. Hanya saja, keuntungan kami harus dipangkas sebesar Rp65 per kilogram untuk Bulog," tuturnya.
Sampai Juli 2009, total gula milik PG PTPN X hasil giling 2009 semuanya sudah terjual melalui Bulog, yaitu sebesar 51.087 ton dengan harga rata-rata Rp6.412 per kilogram.
Sementara target penjuaan gula PTPN X via Bulog selama 2009 sebesar 228.654 ton.
Peran Bulog harus diperjelas
Menanggapi kondisi tersebut, Wakil Rektor Bidang Sumberdaya dan Pengembangan Institute Pertanian Bogor Hermanto Siregar menyatakan bahwa peran bulog harus diperjelas agar kinerjanya menjadi jelas.
Pasca diserahi kembali menjualkan gula setelah pada tahun 1998 Bulog diputuskan tidak menjadi distributor gula nasional, Bulog dinilai mengalami keterputusan mata rantai penjualan gula.
Hal inilah yang kemudian menyebabkan pendistribusian gula via Bulog di awal 2009 ini menjadi tersendat.
Kondisi tersebut juga diperparah dengan trend harga gula yang cenderung menurun seiring dekatnya puncak giling pertengahan Agustus.
Menurut Hermanto, selama peran Bulog hanya sebagai distributor saja, maka kinerjanya tidak akan maksimal. Sebab peran distribusi gula milik PTPN dan RNI bisa diakukan oleh distributor umum layaknya kondisi sebelumnya.
Sehingga, disamping Bulog harus memperbaiki mata rantai distribusi gulanya, juga harus memanfaatkan perannya sebagai penstabil harga.
"Peran Bulog dalam kerjasama ini jangan hanya sebagai distribusi, namun harus ditingkatkan menajdi penstabil harga. Sehingga fluktuasi harga bisa diredam tanpa merugikan PG dan petani tebu," kata Hermanto.
Berita Terkait
- Harga gula petani saat tender kedua turun tipis
- Hatta Rajasa tinjau panen raya di Indramayu
- PTPN XI: PG tidak didesain olah raw sugar
- Bulog: Agustus, ada dua kali penyaluran raskin
- Mendag: Operasi pasar di 7 Provinsi tuntas
- Kopi luwak sumbang 50% pendapatan Rolaas Cafe
- Harga gula domestik kembali alami penurunan
- Operasi pasar hanya untuk komoditas beras
- Laba industri hilir PTPN XII lampaui target
- PTPN XII bikin Rollaas Coffee jadi ikon Jatim

