Kasus pajak Grup Bakrie, Ical nilai sudah dipolitisasi

Aburizal Bakrie
JAKARTA, kabarbisnis.com: Tokoh sentral di Grup Bakrie, Aburizal Bakrie, menilai tudingan tunggakan pajak kepada sejumlah anak usaha Grup Bakrie tidak lagi murni masalah perpajakan atau fiskal yang berkaitan dengan penerimaan negara. Ical, sapaan karib mantan Menko Kesra itu, menilai permasalahan tunggakan pajak sudah dipolitisasi.
"Saya lihat ini sudah dipolitisir," ujarnya saat ditemui di Gedung Lemhanas usai Diklat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), Kamis (12/2/2010).
Ical mengatakan, saat ini Keluarga Bakrie bukan lagi pemilik mayoritas di Grup Bakrie meski kelompok usaha tersebut masih menggunakan nama keluarganya sebagai nama perusahaan, seperti di PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), PT Bakrie Investment, PT Bakrie Life, PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk, maupun PT Bakrie Energy International.
Perusahaan-perusahaan tersebut sudah banyak dimiliki oleh investor lain, baik melalui lantai bursa saham maupun kerja sama. Bahkan, dia mengaku Keluarga Bakrie hanya sebagai pemegang saham minoritas.
Ical menjelaskan, dalam prosesnya, sebagai perusahaan terbuka, tentu saja neraca keuangan Grup Bakrie telah diaudit oleh akuntan publik independent sesuai aturan otoritas pasar modal Indonesia.
Kalau pun ada perbedaan perhitungan pajak adalah hal yang wajar, dan kini sedang diklarifikasi. Perbedaan perhitungan pajak adalah hal yang wajar dan bisa menimpa perusahaan mana pun. Itu bisa terjadi ke semua orang. Saya bisa melawan, yang lain belum tentu bisa melawan. Melawan dalam arti suatu opini yang dibentuk. Kalau perusahaan namanya ada di media kemudian dia harus membayar yang seharusnya tidak perlu akhirnya investasi dia cabut," kata Ical.
Secara umum, kata Ical, dalam kasus pemberitaan tunggakan pajak Grup Bakrie, yang dirugikan adalah investor publik yang menjadi mayoritas. Di BUMI, misalnya, saham publik mencapai 82%.
Meski demikian, Ical mengaku siap untuk memerintahkan manajemen Grup Bakrie agar segera membayar pajak jika memang tudingan Ditjen Pajak bisa dibuktikan di pengadilan. Sebagai orang yang punya pengaruh di perusahaan, saya akan bilang ke manajemen harus bayar jika memang di pengadilan Dirjen Pajak menang," katanya.
Seperti diketahui, Direktorat Jenderal Pajak kini sedang mengusut dugaan tindak pidana pajak senilai Rp2,1 triliun yang terjadi di tiga perusahaan tambang batubara di bawah payung bisnis Grup Bakrie, yaitu PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan dua anak usahanya, PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan PT Arutmin Indonesia. Khusus di KPC, Ditjen Pajak menuding ada tunggakan Rp1,5 triliun. Manajemen BUMI sendiri sudah menyangkal tudingan tersebut. kbc10
- Nilai tukar rupiah terhadap USD hari ini Rp 9775.00
- Indeks Harga Saham Gabungan hari ini +33.69 menjadi 5155.093
- Pilihan Editor: Terdesak impor, Kadin-KPPI gencar sosialisasi safeguards di Jatim
- Praktik kartel bikin bunga bank di RI tertinggi se-Asean?
- Jabat Gubernur BI, Agus Marto bersumpah tak akan terima suap
- Unesa ambisi jadi pusat litbang industri batik Nusantara
- Pensiunan ini rutin beli Jaguar lima kali dalam setahun
- Pensiun, Beckham gandeng bos Manchester City beli tim MLS?
- Rambah bisnis ponsel, Jennifer Lopez gaet Verizon
- Awas informasi pribadi Anda disalahgunakan situs belanja online
- Bos Bulog berbagi kisah sukses dengan siswa SMA di Jatim
- Aturan Menkeu yang baru rugikan perusahaan rokok berskala kecil
- Tak lagi berdasar golongan, gaji PNS ditentukan kinerja
- Jumlah wirausaha menyusut, buruh meningkat
- Menilik perkembangan pasar China saat ini
- Di kota inilah para orang tajir dunia tinggal
- Melambat, ekonomi Malaysia cuma tumbuh 5%
- Pembangunan ekonomi daerah jangan cuma jiplak Jakarta
- Kisah Bill Gates, makin rajin berderma makin kaya raya
- Ekonomi tiarap, IMF desak Inggris banyak berbenah
- Ambil dana kompensasi, rakyat miskin akan diberi kartu berchip
- Nih, prediksi BI soal inflasi Jatim 2013
- Belanja 500 robot polisi, Brasil rogoh US$7,2 juta
- Sri Mulyani masuk 100 wanita berpengaruh versi Forbes
- Kadin serukan kepala daerah agar peduli UKM
- Tren perusahaan raksasa dunia yang mengemplang pajak
- Perkuat pasar, Merck agresif beli kembali saham
