Bankir yang hadir di tiap momentum ekonomi
Senin, 08 Februari 2010 | 11:11 wib ET
Agus Martowardojo, bankir yang satu ini nyaris hadir di setiap momentum krusial ekonomi Indonesia. Tentunya dia hadir di momentum yang melibatkan institusi finansial sebagaimana menjadi core competence-nya.
Dia tak hanya dikenal piawai menakhodai bank, dia juga dikenal memiliki komunikasi luwes dengan berbagai kalangan petinggi negeri.
Dalam bursa Gubernur Bank Indonesia beberapa tahun lalu, nama Agus Marto, demikian sapaan akrabnya, sempat diperhitungkan dengan pertimbangan kapabilitasnya membawa Bank Mandiri menjadi bank yang diperhitungkan di Indonesia.
Namun pemerintah akhirnya memutuskan untuk menempatkan Boediono sebagai Gubernur BI menyusul berakhirnya masa kepemimpinan Burhanuddin Abdullah.
Belakangan, di tengah hiruk-pikuk skandal Bank Century, namanya juga beredar menyangkut kehadirannya dalam rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK)
pada 21-22 November 2008.
Rapat yang berlangsung selama sekitar empat jam mulai dari pukul 00.00 hingga pukul 04.00 pagi tersebut sempat menyebut-nyebut nama ‘Robert’ yang ternyata diklarifikasi oleh Sri Mulyani merupakan kalimat jawaban atas pembicaraannya dengan Agus Marto mengenai Robert Tantular.
“Saya katakan 'rapat tertutup ya Robert'. Itu menyambut urusan Robert Tantular seperti yang disebutkan Agus Martowardoyo," kata Sri Mulyani dalam klarifikasinya.
Berikut ini kutipan transkrip kontroversial yang melibatkan nama Agus Marto:
Siti Fadjrijah (Deputi Gubernur BI Bidang Pengawasan Perbankan): Karena kita menyatakan itu sistemik bawalah ke KSSK.
Agus Martowardojo: Tapi saya rasa ya, yang dananya besar ada special deal mungkin dia kuasai pemilik. Jadi kalau seandainya yang 2 M mau diselamatkan diselamatkan. Yang di atas 2 M dimasukin ke ruangan minta jumlah itu untuk ditanggung sama Robert Tantular. Nanti Robert Tantular pasti nyanyi bahwa nggak yang ini sebetulnya pemilik, ini sebetulnya pemilik nanti mungkin bisa diatasi, mungkin ya? Tapi betul-betul harus bisa keras dan proses hukumnya juga harus cepat gitu, karena pilihannya nggak banyak dan ..ee tetapi ada yang betul-betul gadis jujur kita berani bayarin juga dia gitu, karena dia memang nggak sengaja gitu.
Kehadirannya di rapat tersebut menyajikan betapa Agus Marto apresiasi terhadap kepiawaiannya dalam memimpin sebuah bank pelaksana sangat besar.
Tak hanya itu, namun juga menyiratkan bahwa dia diakui sebagai bankir yang mampu membawa transformasi di sebuah bank. Itu sebabnya, Bank Mandiri seolah-olah menjadi bapak asuh bagi Bank Century untuk menyehatkan diri.
Sejumlah orang kepercayaan Agus Marto memimpin Bank Century yang kini berganti nama menjadi Bank Mutiara. Maryono yang dipercaya sebagai Direktur Utama Bank Century usai diambil alih pemerintah adalah salah satu kepercayaan Agus Marto.
Bank Mutiara kini telah mampu meraup laba bersih per 31 Oktober 2009 senilai Rp231 miliar dari status sebelumnya divonis menjadi menjadi biang dampak sistemik terhadap perbankan Indonesia.
Tokoh Transformasi Bank Mandiri
Agus Dermawan Wintarto Martowardojo demikian nama lengkap pria kelahiran 24 Januari 1956 di Amsterdam, Belanda tersebut. Sejak Mei 2005 Agus Marto menjabat sebagai Direktur Utama Bank Mandiri, menggantikan ECW Neloe yang terlibat kasus korupsi.
Sebelum memimpin Bank Mandiri, Agus Marto menjabat Direktur Utama Bank Permata selama tiga tahun. Selain itu, dia pernah pula bekerja di Bank of America (1984), Bank Niaga (1986-1994), Bank Bumiputera (Direktur Utama; 1995–1998), Bank Exim (Direktur Utama; 1998) dan BPPN (2002).
Sejumlah penghargaan diraih Bank Mandiri semasa dibawah kepemimpinan Agus Marto, diantaranya adalah Best Bank in Indonesia pada Euromoney 2008 Award dari
Euromoney Magazine.
Dia disebut-sebut sebagai tokoh transformasi Bank Mandiri berdasarkan upayanya membalik kondisi Bank Mandiri yang sebelumnya sempat menanggung non performing loan (NPL/kredit bermasalah) diatas ketentuan Bank Indonesia sebesar 5%.
Kini, dibawah kepemimpinan alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia pada tahun 1984 ini, sejumlah obligor kakap bermasalah telah berhasil diselesaikan oleh Bank Mandiri.
Kala dirinya digadang-gadang menjadi Gubernur Bank Indonesia, seorang pejabat di Kantor Wilayah VIII Bank Mandiri menyebut dirinya tak rela Agus Marto menjadi Gubernur BI.
“Pak Agus sebaiknya tetap menjadi penggembala kami di Bank Mandiri. Sangat banyak perubahan kultur di Bank Mandiri semasa dia memimpin,” jelasnya.
Bank Mandiri telah tercatat sebagai bank dengan aset terbesar di Indonesia dengan nilai mencapai Rp345,51 triliun atau 14,45% total aset bank umum.
Dalam hal mendulang laba bersih, Agus Marto dan jajarannya pada 2009 telah mencetak Rp6 triliun. Selama ini, peraup laba bersih terbesar diantara bank di Indonesia masih berkutat diantara BRI, BCA, dan Bank Mandiri. Mari kita tunggu apakah Bank Mandiri dibawah kepemimpinan Agus Marto akan mampu menyalip BRI sebagai bank dengan laba bersih terbesar yang telah beberapa tahun bertahan?
Terakhir, apakah Agus Marto akan kembali mempimpin Bank Mandiri sebab periode jabatannya telah menjelang masa akhir. kbc3
Berita Terkait
- Raup premi Rp1 triliun, laba AXA Mandiri naik 122%
- BMRI: Harga saham right issue belum ditentukan
- Pinjaman Pertamina di Bank Mandiri dekati batas maksimum
- Mandiri kucurkan kredit Rp155 miliar untuk Indospring
- Indospring beri corporate guaranty untuk anak perusahaan
- Bank Mandiri suntik CSR Rp5,8 miliar di Jatim
- Perkuat jaringan, Mandiri buka kantor kas di Gresik
- 10 BUMN sumbang 84,8% setoran dividen
- Menkeu: Percepat realisasi anggaran
- Mandiri gelar edukasi pengelolaan bisnis keluarga

