Top Figure
Jum'at, 03 September 2010 | 16:18 wib ET

Era pemimpin muda Mandiri

ERA PEMIMPIN MUDA tak hanya menjalari sektor politik Indonesia, dunia bisnis nasional juga tengah mengalami peremajaan para pelakunya. Di kalangan perbankan, keberadaan bankir-bankir muda semakin mendominasi industri yang mengungkit laju sektor lainnya ini.

Bank Mandiri termasuk, bank yang mengalami peremajaan ini. Jajaran usia muda kini memimpin berbagai level manajemen bank plat merah ini. Di Jawa Timur, Kepala Kantor Wilayah VIII Bank Mandiri saat ini tengah dijabat bankir muda Dikdik Yustandi.

Dalam usia 47 tahun, Dikdik harus memimpin bankir-bankir lainnya yang lebih tua usianya dibandingkan dirinya. Namun sejumlah prestasi yang diukir Dikdik mampu menepis anggapan bahwa yang muda belum tentu lebih unggul dibanding yang lebih berumur.

Tingkat pertumbuhan bisnis Bank Mandiri di Jatim terhitung lebih tinggi daripada pertumbuhan Bank Mandiri secara nasional. Sampai dengan semester I/2010, Bank Mandiri di Jatim mampu tumbuh 22%, sementara secara nasional, Bank Mandiri tumbuh 20%. Selisih nyaris dua digit ini tentu prestasi yang patut diacungi jempol.

Padahal disaat yang sama, pertumbuhan ekonomi Jatim dibandingkan nasional hanya beda tipis saja dengan tingkat pertumbuhan ekonomi nasional. Per semester I/ 2010, ekonomi Jatim tumbuh 6,18%, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang hanya mencapai 5,9%. Berarti hanya beda 0,28% saja.

“Bapak dan ibu tak perlu ragu untuk menjalin kerjasama dengan Bank Mandiri di Jatim. Tim kami di Jatim sangat tangguh, terbukti dengan tingkat pertumbuhan bisnis yang diatas tingkat pertumbuhan Bank Mandiri secara nasional,” papar Senior Vice President Bank Mandiri Santoso Budi Riyanto, bernada menyanjung. Budi yang juga mantan Kakanwil VIII Bank Mandiri tersebut, tentu tak berbasa-basi sebab pernyataan itu dia sampaikan di hadapan pengusaha yang mengendalikan sebuah perusahaan terbuka yang berbasis di Surabaya.

Sebelum menjabat Kepala Kanwil VIII Bank Mandiri, pria berdarah Parahiyangan ini menjadi salah satu pimpinan di Kanwil VIII Bank Mandiri sehingga bisa dibilang Dikdik merupakan produk perkaderan Kanwil VIII Bank Mandiri. Dia membidangi segmen korporat di kantor tersebut.

Meski akrab dengan segmen korporat, Kanwil VIII Bank Mandiri dibawah Dikdik justru makin agresif menyasar segmen mikro, kecil dan menengah (UMKM) dan sektor yang jarang diminati perbankan; sektor pertanian.

“Sektor pertanian perlu penanganan khusus. Struktur pembiayaannya harus disesuaikan dengan masa panen yang rentangnya bisa mencapai 3 bulan atau satu tahun seperti tanaman tebu,” jelas Dikdik.

Kepedulian Dikdik untuk sektor mikro juga sangat besar. Dia mengapresiasi maksimal kalangan pengusaha mikro yang `naik kelas` dari awalnya menjadi binaan Program Kemitraan & Bina Lingkungan (PKBL) Bank Mandiri, lantas beranjak menjadi debitor komersial Bank Mandiri.

Bersama jajarannya, Dikdik menyiapkan sejumlah produk baru yang menyasar segmen yang cukup unik dari sisi skala, karakter pengusaha, hingga jenis produk yang dihasilkan tersebut.

Persaingan perbankan di Jatim sendiri terhitung sangat ketat. Perebutan dana pihak ketiga (DPK) dan dana kelolaan antara bank swasta dan bank pemerintah cukup ketat. Bidikan dana kalangan pemerintahan yang selama ini menjadi sasaran tradisional bank-bank tertentu, di era kepemimpinan Dikdik diterobos.

Muda itu...

Muda itu identik dengan agresif, muda itu identik dengan orientasi prestasi, muda itu energik, muda itu menerabas tantangan. Usia bukan lagi menjadi parameter penentu jenjang karir bankir di Bank Mandiri. Namun integritas dan profesionalisme menjadi patokan utama bagaimana seorang bankir bisa mencetak prestasi gemilang dalam karir.

"Bagi bankir yang profesional tapi tak memiliki integritas, maka dia akan terlempar. Kedua kualitas tersebut harus melekat dalam diri bankir Bank Mandiri," tegas Deputi Kanwil VIII Bank Mandiri Harry Pireno yang usianya lebih tua empat tahun dibandingkan Dikdik.

Segala terjemah tentang muda dan keremajaan itu lekat betul dalam gerak ekspansi Bank Mandiri di bawah kepemimpinan Dikdik Yustandi.

Tahun ini, Dikdik menegaskan, Bank Mandiri membidik retail payment dari korporat beserta value chain-nya. Strategi ini mencoba merangkul korporat beserta jejaring bisnisnya, mulai dari perusahaan-perusahaan rantai distribusi sampai dengan jaringan pemasok.

"Semuanya siap kami beri kredit. Strategi merangkul value chain ini setidaknya sangat efektif sebab semua segmen kredit bisa kami salurkan. Untuk korporatnya, bisa disuntik kredit skala besar, sedangkan bagi para distributornya juga bisa menikmati kredit kecil," jelas Dikdik di sela-sela buka bersama wartawan di Surabaya, Jumat (2/9/2010).

Dia mencontohkan para distributor pulsa telepon seluler, merupakan segmen potensial untuk penyaluran kredit mikro dan kecil hingga menengah, tergantung size dari perusahaan bersangkutan.

Dikdik meyakini upaya yang berantai ini bisa membesarkan bisnis Bank Mandiri di Jatim yang tentunya akan memberi dampak positif bagi perekonomian di Jatim yang notabene bukan tanah kelahirannya. Meski dia berasal dari Garut, Jawa Barat, namun Dikdik tetap ikhlas dan menganggapnya sebagai pengabdian untuk kemajuan Indonesia.

Ikhtiar Dikdik bersama jajarannya tentu masih belum tuntas, sejumlah agenda masih banyak yang harus segera diwujudkan. Mulai dari mendirikan 390 anjungan tunai mandiri (ATM) di seluruh Jatim dan separuh diantaranya terletak di Surabaya, hingga membuka kantor-kantor cabang di berbagai daerah.

"Yang jelas, untuk tahun ini kami konsentrasi pada retail payment. Salah satu yang kami bidik adalah uang kiriman (remitansi) tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri," jelas Dikdik yang selalu pulang kampung ke Bandung untuk merayakan lebaran tiap tahunnnya.

Dibawah payung Mandiri International Remittance (MIR), uang kiriman para pahlawan devisa ini berupaya dilayani oleh Bank Mandiri. MIR segera didirikan di lima daerah terbesar asal TKI di Jatim; Malang, Blitar, Tulungagung, Trenggalek, dan Ponorogo.

"Melalui layanan di MIR, kami berupaya mempermudah layanan bagi keluarga TKI. Namun kami juga siap menyalurkan kredit bagi mereka yang hendak berangkat memperbaiki nasib sebagai TKI di luar negeri," papar Dikdik yang menyiratkan strategi value chain yang diterapkannya. kbc3

Komentar
Berita Terkait
Kategori