Navigasi: Home > Keuangan > Bank > Artikel
http://www.eastjavabiz.org/kadinv2/index.php
Jendela Informasi Kadin Jatim

Genjot kredit, BNI fokus sektor perdagangan

Target kredit 2010 capai Rp20 triliun
Selasa, 09 Maret 2010 | 13:34 wib ET
Layanan BNI di Plasa Marina (Purna Budi/kabarbisnis.com)

SURABAYA, kabarbisnis.com: Sektor perdagangan akan menjadi salah satu fokus utama dari penyaluran kredit PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI). Sektor ini dinilai masih cukup prospektif di tengah kecenderungan pelambatan sektor ekonomi lain, terutama industri pengolahan.

Secara umum, BNI menargetkan mampu menyalurkan kredit sebesar Rp20 triliun di Jatim pada 2010. Nilai itu meningkat sebesar 17% dibanding posisi penyaluran kredit 2009 sebesar Rp17 triliun.

Pemimpin BNI Wilayah 06 (Jatim) M. Kosim Hariono mengatakan, ekspansi kredit 2009 memang sedikit tertahan karena imbas turbulensi finansial global. Kendati demikian, pertumbuhan BNI di Jatim relatif lebih tinggi dibanding rerata industri perbankan di Jatim.

"Pada 2009, kredit kami tumbuh 17% atau naik Rp1,1 triliun dibanding posisi 2008. Ini lebih bagus dibanding penyaluran kredit industri perbankan di Jatim. Target kredit selama setahun juga terpenuhi," ujar Kosim di kantornya, Graha Pangeran Surabaya, Selasa (9/3/2010).

Berdasarkan catatan kabarbisnis.com, selama 2009, perbankan di Jatim hanya berhasil mengucurkan kredit sebesar Rp129 triliun, atau tumbuh 11,34% dibanding penyaluran kredit sepanjang 2008 sebesar Rp115,86 triliun.

Kosim menjelaskan, dari porsi kredit Rp17 triliun tersebut, Rp7,8 triliun di antaranya ditujukan ke kredit ritel dan menengah.

Untuk tahun ini, BNI menargetkan pertumbuhan kredit korporasi sebesar 16%, kredit mikro 14%, dan kredit ritel 26%, sehingga rerata pertumbuhan kredit sebesar 17%.

Terkait bunga, kata Kosim, rerata mencapai 12%-13%. Net interest margin BNI mencapai 5%-6%. "Besaran bunga ini cukup moderat. Tahun ini mungkin bisa kembali terkoreksi jika perekonomian terus pulih," ujarnya.

Sementara dari sisi penghimpunan dana pihak ketiga (DPK), BNI berhasil menghimpun DPK sebesar Rp17,4 triliun. Itu berarti 103% dari target yang dipatok.

"Komposisinya masih didominasi tabungan sebesar 43,3%, sementara deposito 40%. Tapi, kalau secara persentase pertumbuhan, deposito tumbuh paling tinggi," jelasnya. Tahun ini BNI menargetkan penghimpunan DPK bertumbuh 16%.

Fokus kredit

Ke depan, sambung Kosim, BNI masih akan fokus untuk menyalurkan kredit di sektor perdagangan, infrastruktur, dan industri pengolahan. Hanya saja, untuk sektor manufaktur atau industri pengolahan, BNI akan sedikit menahan diri.

"Sektor industri pengolahan sudah mulai jenuh. Penyaluran kredit BNI di industri pengolahan juga sudah banyak. Kami juga harus melakukan diversifikasi kredit," tuturnya.

Ekonom BNI Wilayah 06 M. Ikhsan Modjo menambahkan, hal tersebut pararel dengan perkembangan ekonomi di Jatim, di mana sektor industri pengolahan sedang melambat.

Saat ini, perkembangan ekonomi Jatim memang banyak ditopang oleh sektor perdagangan, hotel, dan restoran (PHR). Berdasarkan catatan kabarbisnis.com, pada triwulan IV/2009, pertumbuhan tertinggi di Jatim dicapai oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran yang pertumbuhannya mencapai 8,03%. Kemudian, disusul pertambangan dan penggalian yang mencapai 1,82%.

Sektor perdagangan, hotel, dan restoran menyumbang sekitar 2,47% dari total pertumbuhan ekonomi Jatim selama triwulan IV 2009. Sementara sektor pertanian yang selama ini masih menjadi tumpuan hidup sebagian besar masyarakat Jatim malah mengalami pertumbuhan negatif terbesar yaitu sekitar -22,42% dan menyumbang sekitar -3,56% dari total pertumbuhan ekonomi Jatim.

Secara tahunan pada 2009, sumbangan terbesar masih diperoleh dari sektor perdagangan, hotel dan restoran yang mencapai 1,79%. Sementara sektor pertanian hanya 0,65%.

"Tentu saja bank mengikuti tren yang ada di wilayah, di mana sektor industri akan melambat," jelas Ikhsan.

Bank, kata Ikhsan, akan lebih mencermati perkembangan sektor manufaktur. "Saat ini di Indonesia secara umum industri pengolahan atau manufaktur memang melambat. Solusinya bukan hanya pembiayaan bank, tapi juga bagaimana pemerintah mampu meningkatkan daya saing mereka menghadapi perdagangan bebas," tuturnya. kbc5

Berita Terkait
TRANSLATE THIS PAGE
kabarbisnis.com : Tentang Kami | Indeks Kabar | RSS
© Copyright 2009-2010 kabarbisnis.com, under management by PT. Airlangga Media Cakra Nusantara | Ketentuan Penggunaan