Obat generik minim diproduksi karena bahan baku mahal
Senin, 08 Maret 2010 | 16:05 wib ET
JAKARTA, kabarbisnis.com: Industri farmasi dalam negeri enggan memproduksi obat generik karena cenderung mengalami kerugian akibat bahan baku yang mahal.
Ketua Umum Gabungan Perusahaan (GP) Farmasi Indonesia Anthony Ch Sunarjo menyatakan persaingan harga menyebabkan produsen obat generik timbul tenggelam, disamping mahalnya harga bahan baku yang sekitar 95% adalah berasal dari impor, dan terbesar ada di China dan India.
“Jadi hilangnya obat generik di pasaran, bukan karena banyaknya obat bermerk,” kata Anthony kepada di sela-sela seminar GP Farmasi di Jakarta, Senin (8/3/10) seperti dilansir laman Depkominfo.
Dia mencontohkan, pada waktu China menjadi tuan rumah Olimpiade, pabrik-pabrik banyak yang direlokasi, termasuk pabrik farmasi. Selain itu, ditetapkan persyaratan baru tertentu, dimana pemenuhan syarat ini membuat harga bahan baku terus naik.
Sementara di Indonesia, sambung Anthony, meskipun harga bahan baku obat terus naik, tetapi kebijakan yang ditetapkan pemerintah menginstruksikan untuk penurunan harga eceran obat. “Hal ini membuat produsen dalam negeri merugi,” jelas Anthony.
Dengan tingginya harga bahan baku maka biaya produksi naik, menurut dia, kalau saja ada keuntungan yang dapat seimbang dan wajar tentu mereka akan memproduksinya, apalagi biaya pegawai setiap tahunnya pun harus diperhatikan.
Menurut Anthony, hal itu tidak hanya dialami produsen farmasi swasta tetapi juga milik pemerintah sehingga memilih untuk tidak lagi memproduksi obat generik, dimana harganya juga tidak dapat bersaing dengan produsen luar negeri.
Selain itu, meskipun ada kebijakan rasionalisasi dan regionalisasi obat generik oleh pemerintah melalui subsidi 20%, namun hal itu belum sepenuhya menolong. Produsen farmasi yang harus mensuplai obatnya ke wilayah Indonesia Timur misalnya, dia mengaku, subsidi yang diberikan pemerintah dinilai belum mencukupi guna mensuplai kebutuhan yang ada.
“GP Farmasi pada dasarnya mendukung komitmen pemerintah menyangkut harga obat generik yang harus murah ini, karena itu ideal. Namun perlu adanya evaluasi yang lebih komprehensif lagi, sehingga tidak merugikan salah satu pihak,” kata Anthony. kbc8

