Permintaan global turun, produksi Adaro naik tipis 5,5%
Selasa, 09 Februari 2010 | 09:43 wib ET
JAKARTA, kabarbisnis.com: Volume produksi PT Adaro Energy Tbk (ADRO) mencapai 40,6 juta ton di tahun 2009 atau naik tipis 5,5% dibandingkan 2008 yang tercatat sebesar 38,5 juta ton.
“Adaro harus menghadapi penurunan permintaan untuk batubara dalam semester I/2009 akibat melemahnya ekonomi global,” jelas Direktur dan Sekretaris Perusahaan PT Adaro Energy Tbk Andre J Mamuaya kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (9/2/10).
Namun pemulihan pasar yang terjadi secara bertahap di semester II/2009, turut menopang produksi perseroan. Fokus perseroan di semester II/2009 beralih ke peningkatan produksi dalam rangka memenuhi permintaan pasar dan mengkompensasi volume produksi yang rendah di semester I/2009.
“Hasilnya, produksi meningkat 24% dibandingkan dengan pada tahun 2008, hingga mencapai angka 12,1 juta ton, yang juga mencerminkan peningkatan sebesar 16% bila dibandingkan dengan kuartal III/2009,” jelas Andre.
Dia menambahkan, bila dijumlahkan dengan volume penjualan tambahan sebesar 0,1 juta ton dari anak perusahaan Adaro Energy yaitu Coaltrade dan penjualan yang berasal dari inventory, volume penjualan Adaro Energy meningkat 23%.
“Jumlahnya mencapai 12,5 juta ton bila dibandingkan dengan di kuartal yang sama tahun 2008 dan meningkat 12% bila dibandingkan dengan kuartal III/2009,” kata Andre.
Lebih lanjut dia menjelaskan, produksi batubara pada semester I/2009 adalah sekitar 18 juta ton karena kondisi ekonomi yang lemah dan permintaan batubara yang lebih rendah. Meski demikian, Adaro di tahun 2009, Adaro tetap dapat berproduksi rata-rata 4 juta ton per bulan.
Akan tetapi, permintaan batubara mulai meningkat di kuartal III/2009 dengan didukung oleh kondisi musim kering yang baik, sehingga Adaro dapat meningkatkan produksi sebesar 17% menjadi 10,5 juta ton dibandingkan dengan kuartal II/2009. kbc3
Berita Terkait
- SULI kembali merugi pada 2009
- Metrodata lepas saham di Kepsonic Indonesia
- Harga komoditas jadi sentimen positif IHSG
- Laba bersih AALI turun Rp1 triliun
- Bank Eksekutif bantah alami kebangkrutan
- Laksanakan pemboran, TINS anggarkan Rp48,1 miliar
- Saham komoditas tetap jadi prioritas
- Restrukturisasi anak usaha, Adaro penuhi Cabotage
- CPRO minta BEI cabut suspensi
- Perkuat distribusi, Millenium Pharmacon gandeng Tobbest

